Saudi Tutup Pipa East-West Gara-Gara Serangan Houthi, Minyak Brent Dekati US$ 108
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah melonjak pada perdagangan Minggu setelah Arab Saudi menghentikan operasi pipa East-West yang selama ini menjadi jalur penting untuk menghindari Selat Hormuz.
Baca Juga
Houthi Kuasai Gerbang Laut Merah, Pipa Minyak Saudi Lumpuh Diserang 'Drone'
Dikutip dari CNBC, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,8% menjadi US$102,87 per barel pada perdagangan Minggu sekitar pukul 18.27 waktu setempat. Brent, patokan minyak global, melonjak 3,1% menjadi US$107,87 per barel.
Kenaikan tersebut mempertegas kekhawatiran pasar bahwa perang dan serangan terhadap infrastruktur energi mulai mengganggu semakin banyak jalur pasokan minyak dunia.
Pipa East-West Saudi ditutup setelah serangan drone yang diluncurkan dari wilayah Irak merusak fasilitas pipa pada Kamis. Riyadh belum mengungkap seberapa parah kerusakan tersebut maupun kapan operasi dapat kembali normal.
Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu menghubungkan wilayah produksi minyak Saudi di dekat Teluk dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jalur tersebut menjadi sangat penting setelah gangguan lalu lintas melalui Selat Hormuz membuat Saudi meningkatkan pengiriman minyak melalui rute alternatif.
Reuters melaporkan pipa tersebut sebelumnya mengalirkan sekitar 4 juta hingga 5 juta barel minyak per hari. Jika penghentian berlangsung lama, gangguan itu berpotensi menghilangkan pasokan yang setara dengan sekitar 4% konsumsi minyak global.
Persoalannya semakin serius karena jalur alternatif lainnya juga menghadapi ancaman.
Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan telah menguasai Pulau Perim atau Mayun di Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Penguasaan wilayah tersebut memberikan posisi strategis bagi Houthi untuk mengganggu lalu lintas kapal yang melewati Bab el-Mandeb. Kelompok tersebut sebelumnya telah menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi dan meningkatkan serangan terhadap aset energi serta kapal yang berkaitan dengan Saudi, sebagaimana dilansir Associated Press.
Dengan demikian, pasar minyak kini menghadapi ancaman dari dua titik penting sekaligus: Selat Hormuz di sebelah timur dan Bab el-Mandeb di sebelah selatan.
Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dari kawasan Teluk. Sementara itu, Bab el-Mandeb merupakan pintu masuk penting menuju Laut Merah dan Terusan Suez, yang menghubungkan perdagangan energi dan barang antara Asia, Eropa dan kawasan Atlantik.
Pertemuan Diplomatik Ditunda
Meningkatnya ketegangan juga mengganggu upaya diplomatik.
Pertemuan antara Iran dan negara-negara Arab Teluk yang semula dijadwalkan berlangsung di Salalah, Oman, pada Senin ditunda.
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengatakan pertemuan tersebut ditunda demi mencapai konsensus, sembari menegaskan bahwa Oman tetap berkomitmen mendorong dialog, stabilitas dan kerja sama jangka panjang di kawasan.
Penundaan tersebut terjadi ketika situasi keamanan di Selat Hormuz kembali memburuk.
Reuters melaporkan adanya laporan kapal yang terkena proyektil ketika melintas di Selat Hormuz. Peristiwa tersebut memperbesar kekhawatiran bahwa gangguan pelayaran dan pasokan energi belum akan segera berakhir.
Associated Press juga melaporkan sebuah kapal komersial Iran terkena serangan di dekat Pulau Qeshm di Selat Hormuz pada Minggu, dengan satu orang tewas dan beberapa lainnya terluka. UK Maritime Trade Operations mengonfirmasi adanya kapal yang terkena serangan di kawasan tersebut, meskipun belum dapat dipastikan apakah insiden yang dilaporkan merupakan kejadian yang sama.
Risiko Inflasi Hantui Pasar
Gangguan terhadap pipa Saudi terjadi pada saat harga minyak AS telah menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.
Kenaikan tersebut bukan hanya persoalan pasar energi. Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi mendorong biaya transportasi, produksi dan distribusi barang, sehingga meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Baca Juga
Redam Inflasi, Presiden The Fed Minneapolis Dorong Kenaikan Suku Bunga Bertahap
Bagi Amerika Serikat, situasi tersebut datang pada saat yang sangat sensitif. Federal Reserve akan menggelar rapat kebijakan September pekan ini, ketika pasar memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga.
Kombinasi minyak di atas US$100 dan ketidakpastian pasokan global dapat membuat perjuangan melawan inflasi menjadi lebih sulit. Imbal hasil obligasi AS juga telah meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir, menambah tekanan terhadap valuasi saham.
Saudi sebelumnya sangat mengandalkan pipa East-West untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz. CEO Saudi Aramco Amin Nasser bahkan mengatakan jalur tersebut memainkan peran yang lebih penting dalam menstabilkan pasar minyak dibandingkan pelepasan cadangan strategis dalam jumlah besar yang dipimpin Amerika Serikat.
Kini, justru jalur alternatif tersebut ikut menjadi sasaran.
Reuters melaporkan stok minyak yang tersedia di terminal Yanbu dapat bertahan sekitar lima hingga tujuh hari apabila pipa tidak segera kembali beroperasi. Situasi itu membuat lamanya penghentian menjadi faktor krusial bagi pasar minyak global.
Jika Selat Hormuz tetap terganggu, pipa East-West tidak segera pulih dan Bab el-Mandeb semakin tidak aman, pasar minyak akan menghadapi kombinasi gangguan pasokan yang jauh lebih serius dibandingkan sebelumnya.
