Ancaman Serangan Baru ke Iran Dongkrak Harga Minyak, Brent Kembali Dekati US$ 100
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar energi global kembali memasuki fase ketidakpastian setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel dan Amerika Serikat siap melancarkan serangan baru terhadap Iran jika dianggap perlu.
Pernyataan tersebut muncul ketika upaya diplomatik antara Washington dan Teheran masih mengalami kebuntuan, sementara kondisi di Selat Hormuz—jalur pelayaran yang mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia—belum kembali normal.
Reaksi pasar berlangsung cepat. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada Rabu (3/6/2026) melonjak 2,4% dan ditutup pada US$96,02 per barel, sedangkan Brent naik hampir 2% menjadi US$97,81 per barel, level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga
Trump Perketat Syarat Damai Iran, Negosiasi Nuklir Kembali Buntu
Dalam wawancara eksklusif dengan CNBC, Netanyahu mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump telah memperingatkan Iran bahwa "aksi militer skala penuh" dapat kembali dilakukan apabila diperlukan. "Israel siap dan pasukan Amerika Serikat juga siap. Iran harus memperhitungkan hal itu," kata Netanyahu.
Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan belum mendekati penyelesaian permanen.
Dari Euforia Perdamaian ke Ketakutan Baru
Perjalanan harga minyak selama beberapa bulan terakhir menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap perkembangan geopolitik.
Pada Mei 2026, harga minyak sempat merosot tajam setelah muncul harapan tercapainya kesepakatan sementara antara AS dan Iran yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Brent bahkan sempat turun ke kisaran US$68-US$70 per barel setelah pasar memperkirakan risiko gangguan pasokan akan berakhir.
Namun optimisme tersebut tidak bertahan lama.
Awal Juni, laporan media Iran menyebutkan Teheran menghentikan komunikasi dengan Washington dan mengancam penutupan penuh Selat Hormuz setelah meningkatnya operasi militer Israel di Lebanon. Sejak saat itu harga minyak kembali menanjak tajam.
Menurut Reuters, pembicaraan terbaru antara kedua negara masih belum menghasilkan kemajuan berarti. Iran tetap mensyaratkan pencabutan sanksi dan penghentian operasi militer Israel di Lebanon sebelum membuka kembali jalur pelayaran secara penuh.
Selat Hormuz Belum Normal
Meski tidak sepenuhnya ditutup, arus ekspor minyak melalui Hormuz masih jauh di bawah kondisi sebelum perang.
Analis TD Securities menyebut gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut telah menciptakan "supply shock" terbesar di pasar energi sejak invasi Rusia ke Ukraina. Menurut mereka, aliran minyak melalui Hormuz masih berada jauh di bawah kapasitas normal dan pasar menghadapi penyusutan stok yang cepat.
Baca Juga
Negosiasi AS-Iran Masih Alot, Teheran Beri Hak Istimewa China dan Rusia Melintas di Selat Hormuz
Ryan McKay, Senior Commodity Strategist TD Securities, memperingatkan bahwa bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya dalam skenario paling optimistis, pasar masih berpotensi kehilangan sekitar 1 miliar barel produksi minyak dan 800 juta barel persediaan global antara Juni hingga November.
"Kerusakan sudah terjadi dan pasar minyak akan tetap ketat bahkan dalam skenario kesepakatan yang komprehensif," tulis McKay dalam risetnya, seperti dikutip CNBC.
Reuters juga melaporkan bahwa persediaan minyak global terus menurun menjelang puncak musim perjalanan musim panas di Amerika Serikat dan Eropa, memperbesar tekanan kenaikan harga.
Potensi Kenaikan Harga Minyak
Sejumlah analis mulai memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi menembus kembali level psikologis US$100 per barel.
Analis energi dari Mizuho dan Ritterbusch & Associates yang dikutip Wall Street Journal menilai konflik berkepanjangan dapat mengancam pasokan hingga 11-14 juta barel per hari jika gangguan Hormuz terus berlangsung.
Sementara itu, analis Reuters menyebut premi risiko geopolitik kini menjadi faktor dominan dalam pembentukan harga minyak, menggantikan faktor fundamental permintaan dan pasokan yang selama ini menjadi acuan utama pasar.
Kondisi tersebut mengingatkan pada peringatan terbaru OECD yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan menyebut konflik AS-Iran sebagai salah satu ancaman terbesar terhadap pemulihan ekonomi dunia.
Dampak Global
Lonjakan harga minyak berpotensi memicu gelombang inflasi baru di berbagai negara.
Biaya energi yang lebih tinggi akan meningkatkan harga transportasi, pupuk, bahan baku industri, hingga pangan. Akibatnya, bank sentral seperti Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, hingga Bank of Japan kemungkinan akan menghadapi dilema yang lebih sulit antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi.
Baca Juga
Pangkas Proyeksi Ekonomi, OECD Peringatkan Konflik AS-Iran Bisa Seret Dunia ke Jurang Resesi
Menurut laporan OECD pekan ini, skenario konflik berkepanjangan dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global hingga hanya 1,8% pada 2027 sekaligus mendorong inflasi kembali naik secara signifikan.
Dengan negosiasi AS-Iran yang masih buntu, serangan militer yang terus berlanjut, dan Selat Hormuz yang belum pulih, pasar energi tampaknya harus bersiap menghadapi periode volatilitas yang lebih panjang. Bagi dunia, pertanyaannya bukan lagi apakah harga minyak akan tetap tinggi, melainkan seberapa lama gangguan pasokan ini akan berlangsung.

