Ancaman Trump dan Blokade Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak, Brent Dekati US$120
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia kembali melonjak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan akan mempertahankan blokade laut terhadap Iran hingga tercapai kesepakatan nuklir.
Baca Juga
Deadlock Iran-AS: Gencatan Senjata Bertahan, Risiko Stagflasi Global Meningkat
Dikutip dari CNBC, Kamis (30/4/2026), minyak mentah Brent sebagai acuan global ditutup melonjak lebih dari 6% ke level US$118,03 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik hampir 7% ke US$106,88 per barel, mendekati US$120 per barel. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan yang semakin serius di kawasan Timur Tengah.
Trump menyebut strategi blokade lebih efektif dibandingkan serangan militer langsung, dengan tujuan menekan Iran agar menyerah dalam negosiasi nuklir. Namun, langkah ini justru memperburuk situasi geopolitik. Iran menolak membuka kembali jalur vital Selat Hormuz sebelum blokade dicabut, sehingga arus ekspor minyak dari kawasan tersebut tersendat.
Baca Juga
Trump Ingatkan Iran “Segera Sadar”, Rial Ambruk, Korban Sipil Bertambah
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur distribusi energi paling krusial di dunia. Gangguan di wilayah ini langsung berdampak pada pasokan global, mengingat sebagian besar ekspor minyak Timur Tengah melewati jalur tersebut.
Di tengah ketegangan tersebut, pengumuman mengejutkan di OPEC yang kehilangan salah satu anggotanya, yakni Uni Emirat Arab, turut menambah dinamika pasar. Meski analis menilai dampaknya terbatas dalam jangka pendek, keluarnya UEA tetap dianggap sebagai pukulan bagi kohesi kartel minyak tersebut.
Baca Juga
Ahli strategi Bank ING dalam catatannya menyebut langkah UEA dapat melemahkan pengaruh OPEC dalam jangka panjang dan secara tidak langsung menguntungkan konsumen serta negara pengimpor. Namun dalam waktu dekat, faktor penentu utama harga tetap berada pada perkembangan konflik di Teluk Persia dan kapan aliran minyak melalui Selat Hormuz dapat kembali normal.
"Dalam jangka pendek, pendorong terbesar untuk harga minyak tetaplah perkembangan di Teluk Persia dan waktu dimulainya kembali aliran minyak melalui Selat Hormuz," tulis analis di Bank ING, seperti dikutip CNBC.
Kondisi ini menempatkan pasar energi dalam situasi yang sangat rentan. Dengan harga minyak yang terus menanjak, tekanan inflasi global berpotensi kembali meningkat—memberikan tantangan tambahan bagi bank sentral di seluruh dunia, termasuk The Fed, yang saat ini masih berjuang mengendalikan inflasi.

