Houthi Kuasai Gerbang Laut Merah, Pipa Minyak Saudi Lumpuh Diserang 'Drone'
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust — Dua jalur penyelamat perdagangan minyak dunia kini berada dalam tekanan bersamaan. Ketika Selat Hormuz terguncang akibat perang Amerika Serikat–Israel melawan Iran, kelompok Houthi yang didukung Teheran memperluas kekuasaannya hingga pesisir barat Yaman dan Pulau Perim di jantung Selat Bab el-Mandeb. Pada saat yang sama, Arab Saudi terpaksa menghentikan sementara pengoperasian pipa minyak strategis East-West setelah fasilitas tersebut dihantam sejumlah drone yang disebut diluncurkan dari wilayah Irak.
Kementerian Energi Arab Saudi, Sabtu (12/09/2026), menyatakan pipa East-West dihentikan sebagai langkah pencegahan sambil menilai kerusakan akibat serangan. Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu mengalirkan minyak mentah dari ladang-ladang di bagian timur Saudi menuju terminal Yanbu di pesisir Laut Merah. Jalur tersebut memiliki kapasitas operasional sekitar 5 juta barel per hari —setara kurang lebih 5% pasokan minyak global— dan dirancang mampu membawa hingga sekitar 7 juta barel per hari.
Selama ini, pipa East-West menjadi salah satu aset terpenting Saudi untuk menghindari Selat Hormuz. Minyak dari kawasan timur dapat dialirkan langsung menuju Laut Merah, lalu dikapalkan melalui Bab el-Mandeb dan Terusan Suez. Namun, serangan drone terhadap pipa tersebut dan kemajuan pasukan Houthi di pesisir Yaman membuat kedua bagian jalur alternatif itu sama-sama terancam. Reuter pada 12 September 20206 melaporkan penghentian pipa berpotensi menekan ekspor minyak mentah Saudi secara signifikan.
Baca Juga
Pemerintah Saudi menyatakan drone yang menyerang fasilitas tersebut diluncurkan dari Irak. Serangan itu menyebabkan kerusakan dan korban luka, meskipun Riyadh belum mengumumkan secara terperinci tingkat kerusakan maupun jadwal pengoperasian kembali pipa. Arab Saudi memilih tidak melancarkan serangan balasan untuk sementara waktu setelah pemerintah Irak meminta kesempatan menangani pelaku dan mencegah wilayahnya kembali digunakan sebagai pangkalan serangan lintas batas.
Baghdad kemudian mengirim komite keamanan tingkat tinggi ke Provinsi Maysan—wilayah Irak yang berbatasan dengan Iran dan disebut sebagai titik peluncuran drone—serta mencopot komandan militer setempat. Irak juga menutup sementara sejumlah pintu perbatasan dengan Iran, termasuk Shalamcheh dan Al-Shayb, sembari memperketat pengawasan untuk mencegah penyelundupan senjata dan drone. Pemerintah Irak membuka penyelidikan guna mengidentifikasi kelompok yang bertanggung jawab. Associated Press pada 12 September 2026 melaporkan Baghdad telah mengonfirmasi bahwa serangan berasal dari wilayah Irak.
Meskipun serangan itu terjadi di tengah meningkatnya konflik Saudi dengan Houthi, hingga kini belum terdapat konfirmasi resmi bahwa kelompok Houthi merupakan pelaku langsung serangan pipa. Sejumlah laporan mengaitkannya dengan milisi Irak yang didukung Iran. Karena itu, asal serangan dari Irak telah dikonfirmasi, tetapi identitas pelakunya masih menjadi bagian dari penyelidikan.
Di Yaman, eskalasi berlangsung sangat cepat. Setelah merebut kota pelabuhan Mokha, pasukan Houthi bergerak ke selatan dan menguasai Dhubab serta sejumlah wilayah pesisir yang menghadap langsung ke Bab el-Mandeb. Pejabat keamanan Yaman mengatakan pasukan pemerintah yang didukung Saudi juga mundur dari Pulau Perim—dikenal pula sebagai Mayyun—yang berada tepat di tengah selat dan membaginya menjadi dua jalur pelayaran.
Houthi juga dilaporkan merebut Pulau Zuqar dan mengepung pasukan pemerintah di Kepulauan Hanish. Dengan kemajuan tersebut, kelompok itu diklaim telah menguasai seluruh pesisir Laut Merah di sisi Yaman. Namun, luas dan ketahanan penguasaan wilayah tersebut masih bergantung pada perkembangan pertempuran dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen. The National pada 11 September 2026 mengutip dua pejabat keamanan Yaman yang mengonfirmasi jatuhnya Mokha, Dhubab, Perim, dan Zuqar.
Penguasaan Perim memberikan Houthi posisi strategis untuk mengawasi kapal-kapal yang melintasi Bab el-Mandeb, jalur sempit penghubung Samudra Hindia, Laut Merah, dan Terusan Suez. Selat itu merupakan salah satu urat nadi perdagangan antara Asia dan Eropa. Penguasaan daratan dan pulau di sekitarnya tidak otomatis berarti Houthi dapat menutup seluruh selat, tetapi secara tajam meningkatkan kemampuan kelompok tersebut mengancam, memantau, atau menyerang pelayaran.
Juru bicara militer Houthi Yahya Saree menyatakan navigasi internasional tetap aman bagi kapal-kapal non-Saudi. Namun, kelompok itu menegaskan blokade terhadap kapal berbendera, dimiliki, atau terkait dengan Arab Saudi tetap berlaku. Ancaman tersebut mempersempit pilihan Riyadh untuk menyalurkan minyak ke pasar Asia dan Eropa, terutama ketika jalur melalui Hormuz juga berada dalam tekanan perang regional.
Situasi itu membuat eksportir harus mempertimbangkan rute yang jauh lebih panjang mengelilingi Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Pengalihan tersebut menambah waktu pelayaran, konsumsi bahan bakar, biaya sewa kapal, dan premi asuransi. Risiko gangguan simultan di Hormuz dan Bab el-Mandeb juga meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak serta biaya logistik global.
Krisis tersebut mendorong Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman melakukan pembicaraan mendesak dengan Presiden AS Donald Trump. Riyadh dilaporkan meminta tindakan militer lebih kuat terhadap Houthi. Sejauh ini Washington disebut membatasi dukungannya pada koordinasi pertahanan, intelijen, dan identifikasi sasaran, tanpa segera memenuhi permintaan serangan langsung berskala besar.
Baca Juga
Hindari Serangan Houthi, Arab Saudi Alihkan Ekspor Minyak Lewat Mediterania
Iran, di sisi lain, menyerukan penghentian blokade Saudi terhadap wilayah yang dikuasai Houthi dan meminta dimulainya kembali perundingan perdamaian Yaman. Korps Garda Revolusi Iran menyatakan persoalan Yaman harus masuk dalam pembahasan penyelesaian regional yang lebih luas dengan Amerika Serikat. Posisi tersebut memperlihatkan bahwa medan Yaman semakin terkait erat dengan konfrontasi Teheran dan Washington.
Penduduk sipil kembali menjadi korban terbesar. Organisasi Internasional untuk Migrasi atau IOM melaporkan sedikitnya 46.000 orang telah mengungsi akibat pertempuran terbaru di Taiz dan pesisir barat Yaman. Angka tersebut terus bertambah seiring warga meninggalkan Mokha dan desa-desa di jalur pertempuran. IOM meminta seluruh pihak menjamin akses kemanusiaan serta melindungi warga sipil, pekerja bantuan, dan fasilitas kemanusiaan. Laporan PBB yang terbit 11 September 2026 menyebut keluarga-keluarga bahkan harus mengungsi untuk kedua atau ketiga kalinya sejak konflik Yaman dimulai.
Eskalasi terbaru menandai berakhirnya masa tenang relatif yang tercipta sejak gencatan senjata 2022. Konflik Saudi–Houthi kini tidak lagi hanya menentukan masa depan Yaman. Dengan pipa East-West berhenti, Selat Hormuz terguncang, dan Houthi menguasai titik strategis di Bab el-Mandeb, perang tersebut telah berkembang menjadi ancaman langsung terhadap keamanan energi dan perdagangan dunia.
