Wall Street Anjlok, 3 Faktor Ini Jadi Pemicu
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat merosot pada Senin waktu AS atau Selasa (15/9/2026) WIB. Investor menghadapi kombinasi tekanan dari kenaikan imbal hasil Treasury, lonjakan harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek industri artificial intelligence (AI).
Indeks S&P 500 turun 0,48% dan ditutup pada 7.619,98. Nasdaq Composite melemah 0,56% menjadi 26.186,41, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 152,09 poin atau 0,29% ke level 52.421,20.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-Tahun Sentuh 5%, Pasar Tunggu Keputusan The Fed
Wall Street menghadapi tekanan cukup besar sepanjang sesi perdagangan. Pada titik terendahnya, S&P 500 turun sekitar 0,8%, Nasdaq merosot 1,3% dan Dow Jones kehilangan hampir 300 poin atau sekitar 0,6%.
Salah satu sumber tekanan datang dari pasar obligasi. Yield Treasury 10 tahun sempat menembus 5% untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, sebelum kembali turun menjadi sekitar 4,987%.
Kenaikan yield terjadi menjelang rapat kebijakan The Fed yang akan berlangsung Selasa dan Rabu pekan ini. Pasar memperkirakan sekitar 92% kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Namun, perhatian investor juga tertuju pada sektor teknologi dan AI setelah sejumlah tokoh industri mulai memperingatkan risiko perkembangan teknologi AI yang terlalu cepat.
Saham-saham terkait AI melemah setelah CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan perlambatan pengembangan kemampuan model AI tercanggih karena alasan keselamatan.
Dalam esainya pada Sabtu, Amodei mengatakan perusahaan AI perlu memperlambat laju inovasi untuk model-model terbaik mereka. Ia kemudian mengatakan kepada CBS News bahwa salah satu dilema terbesar dari kebijakan tersebut adalah apa yang terjadi jika China tidak melakukan langkah serupa.
Kekhawatiran tersebut menambah tekanan terhadap saham teknologi yang sebelumnya telah memiliki valuasi tinggi.
CEO OpenAI Sam Altman juga mengatakan dalam wawancara pada Sabtu bahwa rencana melakukan penawaran saham perdana atau IPO pada tahun ini akan menjadi langkah yang kurang tepat.
Saham Nvidia turun sekitar 3%. Broadcom dan Advanced Micro Devices masing-masing merosot lebih dari 4%. Intel turun lebih dari 5%, sedangkan Marvell Technology anjlok lebih dari 7%.
David Wagner, head of equity di Aptus Capital Advisors, mengatakan komentar sejumlah tokoh besar mengenai perlunya memperlambat pengembangan AI memang mengejutkan pasar.
Namun, dari perspektif tertentu, perlambatan belanja modal AI justru dapat memberikan dampak positif bagi arus kas perusahaan. "Jika belanja modal melambat, laba juga akan melambat, tetapi arus kas bebas (free cash flow) kemungkinan meningkat," beber Wagner, dikutip CNBC.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi membuka ruang bagi ekspansi valuasi saham teknologi kembali ke level yang terlihat pada Desember 2025.
Meski demikian, Wagner mengingatkan bahwa pasar saham memasuki periode musiman yang relatif lemah. Ditambah dengan meningkatnya retorika politik menjelang pemilu sela AS, kondisi tersebut dapat membuat investor mengambil jeda setelah reli panjang.
Harga Minyak Masih Tinggi
Tekanan terhadap Wall Street juga datang dari pasar energi. Harga minyak naik setelah Arab Saudi menutup sebuah jalur pipa penting yang selama ini memungkinkan sebagian minyak menghindari Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak kemudian terpangkas sebagian kenaikannya, tetapi tetap ditutup lebih tinggi.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak 1,34% menjadi US$101,39 per barel. Brent naik 1,02% menjadi US$105,68 per barel.
Minyak AS telah menembus level US$100 per barel pekan lalu untuk pertama kalinya sejak Mei, di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Baca Juga
Saudi Tutup Pipa East-West Gara-Gara Serangan Houthi, Minyak Brent Dekati US$ 108
Kenaikan harga minyak menjadi persoalan bagi pasar karena dapat kembali memperbesar tekanan inflasi. Jika harga energi bertahan tinggi, ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Lonjakan harga minyak juga telah menjadi salah satu faktor yang menekan tiga indeks saham utama AS sepanjang pekan sebelumnya. Dow Jones bahkan mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Maret.
Bank Jadi Titik Lemah
Di sektor keuangan, saham Bank of America menjadi salah satu pemberat pasar dengan penurunan sekitar 5%.
Tekanan tersebut terjadi setelah CEO Brian Moynihan mengatakan pendapatan investment banking pada kuartal III kemungkinan turun lebih dari 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan perdagangan juga diperkirakan hanya akan berada di sekitar level yang sama dengan tahun sebelumnya.
Investor kini memasuki pekan yang sangat penting. Keputusan The Fed, pergerakan yield Treasury, harga minyak serta perkembangan industri AI akan menjadi faktor utama yang menentukan arah Wall Street.
Faktor-faktor itu menciptakan lingkungan pasar yang semakin sensitif. Yield obligasi yang tinggi dapat meningkatkan biaya modal, minyak yang mahal dapat memperkuat inflasi, sementara perlambatan investasi AI berpotensi mengubah ekspektasi pertumbuhan laba perusahaan teknologi.
