Yield Obligasi AS 10-Tahun Sentuh 4,85%, Buyback US$ 6 Miliar Tak Mampu Redam Gejolak Pasar
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Kebijakan Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) untuk membeli kembali (buyback) surat utang pemerintah hingga US$6 miliar tak mampu meredam gejolak di pasar obligasi. Langkah penggandaan ‘buyback’ semula ditujukan untuk menjaga likuiditas dan kelancaran pasar obligasi pemerintah.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-Tahun Tembus 4,79%, Tertinggi Sejak Januari 2025
Langkah yang diumumkan Rabu (9/9/2026) itu merupakan tiga kali lipat dari operasi buyback normal sebesar US$2 miliar. Pemerintah sebelumnya telah memberi sinyal akan meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang setidaknya menjadi US$4 miliar per operasi.
Departemen Keuangan AS akan membeli surat utang dengan tenor 10 hingga 20 tahun dalam operasi yang dijadwalkan berlangsung Kamis selama 20 menit dan berakhir pukul 14.00 waktu AS.
Reuters melaporkan operasi tersebut dilakukan setelah aksi jual besar-besaran di pasar obligasi mendorong yield Treasury 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007. Pemerintah membeli kembali surat utang lama yang relatif kurang likuid dengan harapan dapat memperbaiki fungsi pasar.
Namun, pengumuman tersebut justru disambut negatif oleh pasar.
Yield Treasury 10 tahun sempat naik ke sekitar 4,85%, level tertinggi sejak November 2023. Yield 20 tahun meningkat hingga sekitar 5,31%, sedangkan yield 30 tahun menembus kembali level 5,30%.
Kenaikan yield menunjukkan investor tidak menganggap operasi buyback tersebut cukup besar untuk mengubah tekanan fundamental di pasar obligasi.
Sebagian pelaku pasar bahkan sebelumnya memperkirakan Treasury akan melakukan pembelian lebih besar. Ekspektasi pasar berada di kisaran US$6 miliar hingga US$10 miliar, sementara sebagian investor memperkirakan operasi dapat mencapai US$7 miliar-US$8 miliar.
Robert Tipp, kepala strategi investasi global dan kepala obligasi global PGIM Fixed Income, mengatakan jumlah tersebut berada di batas bawah ekspektasi pasar sehingga memicu aksi jual di bagian panjang kurva Treasury.
“Pada akhirnya, Treasury menerbitkan surat utang dalam jumlah sangat besar, dan mereka berusaha mengendalikan tingkat harga di bagian belakang kurva dengan operasi yang dalam skema besar sebenarnya tidak terlalu besar,” ujar Tipp, dikutip CNBC.
Faktor Penekan Pasar
Tekanan terhadap pasar obligasi AS berasal dari sejumlah faktor sekaligus.
Utang pemerintah AS telah melewati US$40 triliun, sementara utang yang dimiliki publik mencapai sekitar US$31,8 triliun. Penerbitan Treasury tahun ini juga meningkat 11,8% dibandingkan 2025.
Di sisi lain, kekhawatiran inflasi kembali meningkat akibat kenaikan harga energi setelah konflik AS-Iran semakin memanas.
Baca Juga
Timur Tengah Membara, Hormuz Makin Sepi, Minyak Brent Tembus US$101
Harga Brent pada Rabu melonjak 3,36% menjadi US$101,21 per barel, sedangkan WTI naik 3,25% menjadi US$96,05. Kenaikan harga minyak memperbesar kekhawatiran bahwa inflasi AS akan kembali mendapatkan tekanan, terutama ketika Federal Reserve tengah menentukan arah kebijakan suku bunga.
Kombinasi antara kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar, inflasi, kenaikan harga energi, dan ketidakpastian geopolitik membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi jangka panjang.
Kritik terhadap kebijakan buyback juga datang dari investor kawakan Stanley Druckenmiller, yang sebelumnya menjadi mentor Menteri Keuangan Scott Bessent.
Druckenmiller memperingatkan bahwa apabila pasar melihat Treasury sedang berusaha mempertahankan tingkat harga tertentu, setiap kenaikan yield dapat berubah menjadi ujian terhadap kredibilitas pemerintah.
Menurutnya, pemerintah yang berusaha mempertahankan harga aset bertentangan dengan fundamental pada akhirnya akan menghadapi batas kemampuan intervensinya.
Langkah Departemen Keuangan juga menarik perhatian karena terjadi ketika Federal Reserve di bawah Ketua Kevin Warsh menghadapi tekanan untuk menentukan arah suku bunga. Pasar saat ini semakin memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Bagi pasar keuangan, persoalan utamanya bukan hanya besarnya buyback US$6 miliar, melainkan apakah Treasury mampu meredam tekanan pada sisi panjang kurva tanpa mengubah fundamental penawaran dan permintaan obligasi.
Reuters mencatat bahwa meskipun buyback ditujukan untuk memperkuat likuiditas, yield justru meningkat setelah pengumuman tersebut.
Jika tekanan yield berlanjut, dampaknya dapat menjalar ke biaya pinjaman pemerintah, perusahaan, kredit perumahan dan valuasi saham.
