Redam Gejolak Pasar Obligasi, Pemerintah AS Gandakan ‘Treasury Buyback’
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) akan menggandakan nilai pembelian kembali surat utang pemerintah atau Treasury buyback. Pembelian kembali surat utang pemeintah ini dilakukan untuk meredakan tekanan di pasar obligasi yang mendorong yield ke level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 30-Tahun Lampaui 5,31%, Tertinggi dalam 19 Tahun
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengarahkan pembelian kembali pada surat utang berjangka panjang, khususnya tenor 10-20 tahun dan 20-30 tahun. Segmen tersebut mengalami tekanan sejak akhir Juni karena investor menahan pembelian di tengah lonjakan yield.
Dalam pengumuman Rabu (19/8/2026), Departemen Keuangan menyatakan akan “setidaknya menggandakan” ukuran maksimum operasi buyback, dari US$2 miliar menjadi sedikitnya US$4 miliar.
Pengumuman tersebut langsung memberikan respons positif di pasar. Yield obligasi turun tajam, sementara kontrak berjangka saham AS menguat.
Yield Treasury 10 tahun ditutup turun 5,7 basis poin menjadi 4,647%. Sementara itu, yield Treasury 30 tahun merosot 9 basis poin menjadi 5,196%. Satu basis poin setara dengan 0,01 poin persentase. Harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah.
Presiden Donald Trump, dalam pernyataannya pada Rabu, juga mengatakan masyarakat AS tidak perlu mengkhawatirkan kondisi pasar obligasi.
Perubahan kebijakan buyback tersebut mulai berlaku 9 September dan berlangsung hingga 4 November.
Departemen Keuangan menyatakan peningkatan ukuran operasi buyback mencerminkan keinginan untuk memberikan dukungan likuiditas yang lebih besar pada surat utang nominal berjangka panjang. Pemerintah juga mencatat adanya permintaan penjualan berkualitas tinggi dalam jumlah besar yang secara rutin diterima dalam operasi buyback sebelumnya.
Secara sederhana, kebijakan tersebut membuat pemerintah AS menjadi pembeli yang lebih besar untuk surat utang lama dengan durasi panjang. Langkah itu diharapkan menyediakan likuiditas tambahan pada segmen pasar yang selama ini memiliki basis permintaan yang kuat.
“Peningkatan buyback dapat menarik kembali investor yang sebelumnya tergoda menjual obligasi setelah kenaikan yield,” sebut Krishna Guha, kepala global policy and central bank strategy di Evercore ISI, dalam catatan kepada klien, seperti dikutip CNBC.
Menurut dia, kebijakan tersebut juga dapat memicu aksi short-covering dalam jangka pendek sekaligus membuat investor lebih berhati-hati mengambil posisi short dalam jumlah besar karena khawatir terhadap intervensi pemerintah berikutnya.
Namun, Guha menegaskan langkah tersebut tidak banyak mengubah fundamental pasar. Pemerintah AS tetap menghadapi kebutuhan pembiayaan yang sangat besar untuk menutup defisit, sementara perusahaan teknologi besar atau hyperscaler juga meningkatkan penerbitan utang untuk membiayai investasi.
Ekonom RSM, Joe Brusuelas, bahkan memperingatkan kebijakan untuk menahan yield dapat membuat tugas Federal Reserve (The Fed) mengembalikan inflasi ke target 2% menjadi lebih sulit.
Baca Juga
Sinyal The Fed Guncang Pasar, Ini 5 Pesan Penting dari Rapat Perdana Era Kevin Warsh
Gebrakan Artifisial?
Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya menyatakan preferensinya agar suku bunga ditentukan oleh mekanisme pasar. Karena itu, pembelian Treasury oleh pemerintah dalam jumlah lebih besar berpotensi menekan yield secara artifisial.
Ekonom Mohamed El-Erian juga menilai nilai pembelian yang direncanakan relatif kecil dibandingkan total penerbitan bersih Treasury. Menurutnya, kebijakan tersebut lebih menyerupai upaya pengendalian kurva imbal hasil atau yield curve control.
Lonjakan yield Treasury dalam beberapa pekan terakhir dipengaruhi sejumlah faktor. Investor antara lain meminta term premium lebih tinggi sebagai kompensasi untuk memegang surat utang pemerintah dalam jangka panjang.
Selain itu, basis investor Treasury juga mengalami perubahan, sementara pasokan obligasi korporasi meningkat, terutama akibat kebutuhan pembiayaan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI).
Dengan kebijakan terbaru tersebut, Departemen Keuangan AS menunjukkan kesediaannya menjadi peserta pasar yang lebih aktif untuk mengatasi persoalan likuiditas di sisi panjang kurva yield.
Namun, langkah tersebut bukan berarti pemerintah AS mengurangi utangnya. Peter Boockvar, chief investment officer One Point BFG Wealth Partners, menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan pembayaran utang, melainkan hanya penataan kembali struktur jatuh tempo surat utang Treasury.

