Stok Jumbo AS Redam Gejolak Harga Minyak Mentah
NEW YORK, Investortrust.id – Peningkatan besar stok minyak mentah Amerika Serikat membalikkan keadaan. Sebelumnya, harga minyak mentah sempat bergejolak.
Baca Juga
Eskalasi Konflik Israel-Hamas Picu Harga Minyak Melonjak hingga 5%
Pada perdagangan Kamis waktu setempat atau Jumat (13/10/2023), harga minyak bergejolak, namun kemudian agak teredam dengan peningkatan besar stok minyak mentah AS.
Brent berjangka naik 18 sen menjadi $86,00 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 5 sen menjadi $83,44 per barel. Padahal, harga telah naik lebih dari $1 per barel di awal sesi.
Kenaikan harga terpangkas setelah data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak mentah AS (USOILC=ECI) naik 10,2 juta barel pada minggu lalu menjadi 424,2 juta barel, jauh lebih tinggi dari ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan 500.000 barel.
Tingkat pemanfaatan penyulingan yang lebih rendah dan impor bersih yang lebih tinggi menambah peningkatan minyak mentah, kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho, seperti dikutip CNBC internasional.
“Laporan EIA pada akhirnya sangat bearish,” kata Yawger.
Produksi minyak mentah AS mencapai rekor 13,2 juta barel per hari dalam sepekan, data menunjukkan.
Baca Juga
Data AS Menunjukkan Lemahnya Permintaan BBM, Harga Minyak Meluncur Lebih dari 5 Dolar
“Baik Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz dan Wakil Perdana Menteri Rusia Novak yang menegaskan kembali kolaborasi berkelanjutan mereka untuk menyeimbangkan pasar minyak sangat membantu,” tambahnya.
Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan dalam sebuah wawancara TV Rusia menyatakan perlunya bersikap “proaktif” dalam menciptakan stabilitas di pasar minyak, yang baru-baru ini dilanda kekhawatiran bahwa perang Israel-Hamas dapat mengganggu pasokan dari Timur Tengah.
Harga minyak sempat terbang pada Senin dan Selasa menyusul meningkatnya ketidakpastian global setelah perang Israel vs Hamas meletus.
Posisi Isreal dan Hamas di Palestina yang berada di Timur Tengah menjadi kekhawatiran sendiri. Soalnya, kawasan tersebut adalah pusat dari pasokan minyak bumi.
Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak juga meyakinkan pasar, dengan mengatakan bahwa harga minyak saat ini menjadi faktor penyebab konflik Timur Tengah dan menunjukkan bahwa risiko konflik tersebut tidak tinggi.
Novak juga mengatakan pada hari Kamis bahwa Rusia akan melonggarkan larangan ekspor bahan bakarnya jika diperlukan. Pekan lalu, mereka mencabut pembatasan pasokan bahan bakar diesel melalui pipa.
Sementara itu, IEA menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak pada tahun 2024, menunjukkan kondisi ekonomi global yang lebih buruk dan kemajuan efisiensi energi akan membebani konsumsi.
Badan tersebut sekarang memperkirakan pertumbuhan permintaan pada tahun 2024 sebesar 880.000 barel per hari (bph), dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 1 juta barel per hari.
Namun, mereka menaikkan perkiraan permintaan tahun 2023 menjadi 2,3 juta barel per hari dari perkiraan 2,2 juta barel per hari.
Sebaliknya, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tetap berpegang pada perkiraan pertumbuhan permintaan yang relatif kuat tahun depan, dan memperkirakan akan mencapai 2,25 juta barel per hari.
Ekspor minyak mentah dan produk Rusia meningkat pada bulan September sebanyak 460.000 barel per hari, menurut perkiraan IEA pada hari Kamis, meskipun ada sanksi dari Barat dan janji Moskow untuk memangkas produksi bersama-sama dengan OPEC.
Baca Juga
Potensi Krisis Minyak Perang Hamas-Israel, Indonesia Kena Imbas?

