Yield Treasury Naik, Program ‘Buyback’ Bessent Gagal Redam Gejolak di Pasar Obligasi AS
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor panjang kembali meningkat. Investor masih mencermati program pembelian kembali atau buyback surat utang pemerintah yang diperluas Menteri Keuangan AS Scott Bessent, sekaligus mengkhawatirkan lonjakan utang nasional.
Dikutip dari CNBC, yield Treasury 30 tahun, yang menjadi salah satu target program buyback, naik lebih dari 3 basis poin menjadi 5,273% pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Sebagai perbandingan, sepekan sebelumnya yield obligasi tersebut berada di sekitar 5,21%.
Sementara itu, yield Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan penting bagi suku bunga hipotek, kredit kendaraan dan kartu kredit, meningkat lebih dari 3 basis poin menjadi 4,734%. Pada Jumat pekan sebelumnya, yield tersebut sempat berada di level 4,63%.
Baca Juga
Pasar Obligasi AS Kembali Bergejolak, Intervensi Bessent Mulai Dipertanyakan
Yield Treasury 2 tahun juga naik lebih dari 4 basis poin menjadi 4,232%. Surat utang tenor pendek ini lebih sensitif terhadap ekspektasi perubahan suku bunga Federal Reserve. Sepekan sebelumnya, yield 2 tahun berada di sekitar 4,10%.
Kenaikan tersebut terjadi setelah biaya pinjaman pemerintah AS melonjak tajam pada Kamis. Yield Treasury 10 tahun dan 30 tahun sama-sama meningkat lebih dari 5 basis poin.
Pergerakan tersebut sekaligus menghapus penurunan yield 10 tahun pada Rabu, ketika Bessent turun tangan di pasar obligasi pemerintah dengan meningkatkan pembelian kembali surat utang. Langkah tersebut ditujukan untuk meredakan tekanan pada obligasi berjangka panjang.
Namun, reli yang sempat muncul setelah langkah Bessent kini mulai kehilangan tenaga.
Investor selanjutnya mengalihkan perhatian ke pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam Jackson Hole Economic Policy Symposium pekan depan. Warsh diperkirakan dapat memberikan petunjuk mengenai prospek yield jangka panjang dan independensi bank sentral AS.
"Naiknya yield obligasi dan pembelian Treasury oleh pemerintah menjadi latar belakang bagi pidato Jackson Hole yang akan sangat penting pekan depan," kata Paul Stanley, managing director sekaligus founding advisor Arca.
Menurut Stanley, pasar membutuhkan kejelasan lebih besar mengenai rencana bank sentral.
"Sepertinya Warsh ingin pasar melakukan pengetatan bagi The Fed, dan itulah yang sebenarnya terjadi dengan lonjakan yield obligasi baru-baru ini," ujarnya.
Baca Juga
Sinyal The Fed Guncang Pasar, Ini 5 Pesan Penting dari Rapat Perdana Era Kevin Warsh
Perhatian investor tidak hanya tertuju pada pidato Warsh. Data terbaru indeks harga personal consumption expenditures (PCE), yang menjadi salah satu indikator inflasi favorit The Fed, juga akan dirilis pada Rabu pekan depan.
Data tersebut berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed sekaligus menentukan tekanan berikutnya terhadap pasar obligasi AS.

