Bessent Redam Isu Pergantian Powell, Yield Obligasi Pemerintah AS Naik
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) naik pada hari Rabu (23/7/2025) setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent meredakan kegelisahan pasar terkait ketidakstabilan di pucuk pimpinan Federal Reserve. Fokus pasar kembali tertuju pada prospek suku bunga.
Baca Juga
Trump Sebut Bos The Fed Jerome Powell Bakal Lengser Dalam 8 Bulan, Apa Artinya bagi Pasar Kripto?
Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun naik 5 basis poin menjadi 4,386%, sementara imbal hasil obligasi 2 tahun naik lebih dari 5 basis poin ke 3,884%. Imbal hasil 30 tahun bertambah 4 basis poin ke level 4,943%.
Pada hari Selasa, Bessent menyatakan bahwa Ketua The Fed Jerome Powell tidak perlu mengundurkan diri, namun ia mengulangi seruan untuk dilakukan tinjauan terhadap institusi tersebut. Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia tampaknya tidak lagi berencana untuk memecat Powell — kepada wartawan ia mengatakan, “dia akan keluar dalam waktu dekat juga” — sehingga meredam kekhawatiran akan dampak hukum, ekonomi, dan pasar yang rumit.
Fokus kini beralih ke pertemuan kebijakan moneter The Fed pada 29–30 Juli mendatang, di mana bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap di tengah ketidakpastian ekonomi, meskipun presiden berulang kali mendesak agar suku bunga diturunkan. Inflasi AS naik ke tingkat tahunan 2,7% pada Juni, dari 2,4% di bulan Mei.
Baca Juga
The Fed Pertahankan Bunga Acuan, Proyeksikan Dua Pemangkasan Tahun Ini
Powell menolak memberikan rincian lebih lanjut mengenai prospek suku bunga dalam pidatonya di konferensi The Fed pada hari Selasa, dan lebih memilih fokus pada regulasi perbankan.
“Imbal hasil obligasi bergerak mengikuti pernyataan The Fed. Ada banyak tekanan politik yang diberikan kepada Powell dan FOMC untuk menurunkan suku bunga. Independensi dan kredibilitas itu diraih dengan susah payah dan sangat penting. Jika kepergian Powell terjadi secara kacau, kemungkinan kita akan melihat kurva imbal hasil yang lebih curam,” urai David Aspell, co-chief investment officer di Mount Lucas Management, seperti dikutip CNBC.
Sementara itu, pasar saham global turut menguat pada hari Rabu setelah pengumuman kesepakatan dagang AS-Jepang yang menetapkan tarif 15%, membangkitkan harapan akan tercapainya kesepakatan dengan mitra dagang lainnya, termasuk Uni Eropa.
Pelaku pasar kini menantikan data klaim awal tunjangan pengangguran mingguan dan penjualan rumah baru yang akan dirilis Kamis. Pada hari Rabu, data penjualan rumah eksisting menunjukkan penurunan yang lebih besar dari perkiraan pada bulan Juni.

