Pasar Obligasi AS Kembali Bergejolak, Intervensi Bessent Mulai Dipertanyakan
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat kembali melonjak pada Kamis (20/8/2026). Lonjakan yield ini menghapus hampir seluruh penurunan yang terjadi sehari sebelumnya. Departemen Keuangan AS, Rabu, mengumumkan langkah intervensi untuk meredakan tekanan di pasar obligasi jangka panjang.
Baca Juga
Redam Gejolak Pasar Obligasi, Pemerintah AS Gandakan ‘Treasury Buyback’
Yield Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan penting bagi suku bunga hipotek, kredit kendaraan dan kartu kredit, naik lebih dari 5 basis poin menjadi 4,704%. Level tersebut bahkan berada di atas posisi sebelum pengumuman Treasury pada Rabu pagi mengenai peningkatan program pembelian kembali surat utang pemerintah.
Sementara itu, yield Treasury 30 tahun, yang menjadi fokus utama program pembelian kembali yang dipercepat, naik lebih dari 5 basis poin menjadi 5,248%.
Adapun yield Treasury 2 tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve, naik kurang dari 1 basis poin menjadi 4,185%.
Pergerakan tersebut menunjukkan betapa sulitnya intervensi pemerintah untuk mengendalikan pasar obligasi, terutama ketika berbagai tekanan struktural terus mendorong yield AS lebih tinggi.
‘Treasury Buyback’ Diperbesar
Departemen Keuangan AS di bawah pimpinan Menteri Keuangan Scott Bessent pada Rabu mengumumkan akan setidaknya menggandakan nilai pembelian kembali surat utang pemerintah, mulai 9 September hingga 4 November.
Pengumuman tersebut sempat memicu penurunan tajam yield. Yield Treasury 30 tahun turun sekitar 10 basis poin setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam hampir 19 tahun, bahkan sebelum krisis keuangan global 2008.
Namun, reaksi positif tersebut tidak bertahan lama. Pada Kamis, yield kembali meningkat setelah investor mencerna dampak program buyback sekaligus mempertimbangkan persoalan struktural yang lebih luas di pasar surat utang AS.
Bessent bahkan mengatakan program pembelian kembali tersebut berpotensi melebihi nilai US$4 miliar yang diumumkan sebelumnya.
Analis senior JPMorgan Chase Maia Crook menilai intervensi tersebut belum menyelesaikan persoalan fundamental pasar obligasi.
"Intervensi ini mengabaikan tantangan struktural yang mendasari dan tidak melakukan apa pun untuk mengatasinya," kata Crook dalam catatan kepada klien, dikutip CNBC.
Menurut dia, tindakan Treasury memang sempat mendorong yield obligasi jangka panjang turun, tetapi dampak jangka panjangnya justru berpotensi meningkatkan premi risiko karena pemerintah AS dianggap mulai terlalu aktif melakukan intervensi di pasar.
Tekanan Utang AS
Tekanan terhadap pasar obligasi terjadi ketika total utang pemerintah AS untuk pertama kalinya menembus US$40 triliun.
Pasar Treasury juga menghadapi persaingan dari penerbitan obligasi korporasi dalam jumlah besar untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan investasi terkait kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga
Defisit Membengkak, Utang Pemerintah AS Tembus US$40 Triliun
Kondisi tersebut berkontribusi terhadap kenaikan term premium, yakni tambahan imbal hasil yang diminta investor sebagai kompensasi karena memegang surat utang pemerintah AS dalam jangka panjang.
Investor juga mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juli yang dirilis Rabu. Para pejabat The Fed mengindikasikan suku bunga yang lebih tinggi kemungkinan masih diperlukan jika belum terdapat kemajuan lebih lanjut dalam menekan inflasi.
Data ekonomi terbaru memang menunjukkan kenaikan harga bulanan yang relatif moderat, tetapi inflasi masih berada di atas target The Fed sebesar 2%. Di sisi lain, indeks manufaktur Philadelphia Fed pada Kamis mencatat level tertinggi sejak April 2021, menunjukkan aktivitas ekonomi manufaktur masih cukup kuat.

