Konflik Hormuz Dorong Harga Minyak Dekati US$100
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id –Konfrontasi militer di Selat Hormuz semakin berbahaya dan mulai mengguncang pasokan energi dunia. Serangan terhadap kapal tanker, ancaman pembentukan zona larangan pelayaran oleh Iran, serta meluasnya serangan kelompok Houthi ke fasilitas minyak Arab Saudi mendorong harga minyak Brent mendekati US$100 per barel.
Berdasarkan laporan langsung Al Jazeera, Selasa (08/09/2026), militer Amerika Serikat (AS) menyatakan telah menghancurkan tiga kapal tanker minyak Iran yang diduga berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC. Operasi dilakukan setelah Washington menuduh Iran meluncurkan rudal balistik ke arah kapal-kapal AS.
Iran membalas dengan menyerang kapal-kapal yang disebut terkait dengan AS. Teheran memperingatkan akan melancarkan respons lebih berat apabila serangan Amerika terus berlanjut. Saling serang tersebut menandai peningkatan tajam ketegangan di jalur laut strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.
Baca Juga
AS Perketat Isolasi Ekonomi Iran, 27 Maskapai Masuk Daftar Sanksi
Pemerintah Iran juga mengumumkan rencana membentuk zona terbatas baru yang membentang dari garis blokade Angkatan Laut AS hingga sebagian Teluk Persia dan Selat Hormuz. Setiap kapal yang tidak dapat diidentifikasi, tidak memperoleh izin, atau berlama-lama di kawasan tersebut terancam dimasukkan ke daftar sanksi dan menjadi sasaran.
Ancaman itu meningkatkan risiko bagi kapal niaga dan perusahaan pelayaran internasional. Data pelacakan kapal yang dikutip Al Jazeera menunjukkan lalu lintas mingguan melalui Selat Hormuz turun 28% menjadi hanya 77 kapal. Penurunan tersebut memperlihatkan bahwa pelaku industri pelayaran masih melihat kawasan itu sebagai wilayah berisiko tinggi, meskipun secara teknis belum tertutup sepenuhnya.
Washington dan Teheran menyampaikan klaim yang bertolak belakang mengenai penguasaan jalur tersebut. Militer AS menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka dan berada di bawah kendali Angkatan Laut AS. Washington bahkan mengaku puas dengan volume minyak dan gas yang masih dapat melewati perairan itu.
Sebaliknya, Iran menegaskan pelayaran di Selat Hormuz berlangsung di bawah pengaturan dan otoritasnya. Perbedaan klaim ini menambah ketidakpastian bagi perusahaan energi, pemilik kapal, perusahaan asuransi, dan importir minyak karena setiap pelayaran berpotensi terseret ke dalam konfrontasi militer.
Baca Juga
Selat Hormuz Makin Berisiko, Harga Minyak Mendekati US$ 100 per Barel
Media pemerintah Iran pada Selasa (8/9/2026) juga melaporkan sistem pertahanan udaranya menembak jatuh pesawat nirawak AS di atas Selat Hormuz, dekat Bandar Abbas. Angkatan Laut IRGC secara terpisah mengklaim menangkap kapal selam nirawak milik AS di pintu masuk selat. Hingga laporan ini disusun, Komando Pusat AS atau CENTCOM belum mengonfirmasi kedua klaim tersebut.
Konflik juga meluas ke Arab Saudi. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan rudal balistik dan pesawat nirawak ke empat kota di wilayah selatan kerajaan tersebut. Serangan diarahkan ke fasilitas minyak Saudi Aramco serta sebuah pangkalan udara.
Pemerintah Arab Saudi menyatakan 73 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, terluka. Kebakaran dan gangguan operasional terjadi di sejumlah fasilitas energi. Citra satelit memperlihatkan kepulan asap dari kawasan fasilitas minyak yang menjadi sasaran.
Houthi mengatakan serangan tersebut merupakan balasan terhadap operasi militer Arab Saudi di Yaman. Riyadh kemudian membalas dengan sedikitnya empat serangan udara ke Kota Marib, berdasarkan laporan media yang dikelola Houthi. Pemerintah Saudi berjanji merespons tegas serangan terhadap infrastruktur sipil dan fasilitas ekonominya.
Baca Juga
Qatar–Iran Bahas Koridor Hormuz, AS Siapkan Pengiriman Kapal Induk
Meluasnya konflik langsung direspons pasar komoditas. Minyak Brent naik ke kisaran US$98–US$99 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menembus US$93 per barel. Pasar mencemaskan kombinasi gangguan pelayaran di Hormuz dan serangan terhadap fasilitas energi Saudi dapat memperketat pasokan minyak dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Sebelum perang, sekitar seperlima konsumsi minyak dunia dan porsi besar perdagangan gas alam cair global melewati perairan tersebut. Karena itu, gangguan kecil sekalipun dapat mengerek ongkos angkut, premi asuransi, dan harga energi.
Qatar berupaya mencegah konflik berkembang menjadi bencana industri dan energi. Doha bekerja sama dengan sejumlah mitra internasional, termasuk China, untuk membuka kembali dialog antara Washington dan Teheran. Qatar memperingatkan konflik berkepanjangan dapat memicu “bencana industri” karena infrastruktur energi negara-negara Teluk saling terhubung dan terkonsentrasi dalam wilayah yang relatif sempit sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.
Presiden AS Donald Trump, dalam sebuah acara peringatan di dekat Gedung Putih, kembali menegaskan Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir. Pernyataan tersebut memperlihatkan belum adanya tanda penurunan ketegangan, sementara jalur diplomasi yang didorong Qatar dan China belum membuahkan terobosan.
Eskalasi di Hormuz kini bukan lagi hanya pertarungan klaim penguasaan wilayah laut. Konflik telah menyentuh kapal tanker, fasilitas produksi dan pengolahan minyak, serta jalur distribusi energi dunia. Jika konfrontasi terus meluas, harga minyak berpeluang menembus US$100 per barel dan menghadirkan gelombang baru tekanan inflasi bagi perekonomian global.ngelo.
