Wall Street Terpuruk Dipicu Lonjakan Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah, Dow Anjlok Lebih dari 600 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham Amerika Serikat turun tajam pada perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (9/9/2026) WIB, dengan indeks Dow Jones Industrial Average anjlok lebih dari 600 poin. Investor mencermati lonjakan harga minyak dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menjelang rilis data inflasi penting pekan ini.
Dow Jones Industrial Average merosot 628,18 poin atau 1,18% menjadi 52.786,07. Indeks berisi 30 saham unggulan tersebut mencatat penurunan untuk dua sesi berturut-turut setelah sebelumnya kehilangan 272 poin pada perdagangan Jumat.
Indeks S&P 500 turun 0,58% menjadi 7.673,52, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,32% menjadi 26.421,41. Kedua indeks tersebut juga mencatatkan penurunan selama dua sesi beruntun.
Baca Juga
Wall Street Dibayangi Ketegangan Geopolitik, Dow Futures Anjlok 300 Poin
Pasar saham AS sebelumnya tutup pada Senin karena libur Hari Buruh atau Labor Day.
Tekanan terhadap pasar saham meningkat seiring harga minyak yang terus bergerak naik. Kontrak minyak WTI mencatat kenaikan selama enam hari berturut-turut, menjadi reli terpanjang sejak kenaikan tujuh hari beruntun pada Maret.
Kenaikan harga energi terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan selama akhir pekan.
Harga minyak Brent ditutup naik hampir 1% ke US$97,92 per barel, sebelum kemudian melonjak hingga sekitar US$99 per barel setelah penutupan perdagangan reguler.
Inflasi dan The Fed Jadi Fokus
Lonjakan harga energi membuat investor semakin mencermati data inflasi AS yang akan dirilis pada pekan ini. Data tersebut diperkirakan akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve menjelang rapat bank sentral pada 15-16 September.
Data indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) untuk Agustus dijadwalkan dirilis pada Kamis, sementara indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) akan diumumkan pada Jumat.
Pasar kontrak berjangka suku bunga terakhir memperkirakan peluang sebesar 59% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September.
Baca Juga
Jelang Rapat FOMC, Pejabat Fed Christopher Waller Kirim Sinyal ‘Dovish’
“Jika angka CPI mengejutkan dengan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan, hal itu akan membuat The Fed sangat sulit untuk tidak menaikkan suku bunga,” kata Mark Hackett, Chief Market Strategist Nationwide, dikutip CNBC.
Menurut dia, kemungkinan kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi menjadi perhatian utama investor saat ini.
Ditopang Saham Teknologi
Di tengah tekanan pasar yang luas, sektor semikonduktor justru menjadi salah satu penopang. VanEck Semiconductor ETF naik 1,2%. Saham Intel melonjak 9,1%, Advanced Micro Devices atau AMD melesat 5,9%, sementara Broadcom menguat 3%.
Namun, lonjakan harga energi tetap memberikan tekanan terhadap pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS bergerak naik, dengan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun pada pekan lalu mencapai level tertinggi sejak November 2023. Yield Treasury tenor dua tahun juga naik ke level tertinggi sejak Januari 2025.
Selain konflik Timur Tengah, pelaku pasar juga harus menghadapi kembali meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada.
Kanada mulai memberlakukan tarif balasan terhadap sekitar US$20 miliar produk asal AS pada Selasa.
Menjelang pemberlakuan tarif tersebut, Presiden Donald Trump mengatakan produsen pesawat asal Kanada, Bombardier, tidak akan dapat menjual produknya di Amerika Serikat kecuali Kanada mulai memproduksi produknya di AS.
Kombinasi lonjakan harga minyak, kekhawatiran inflasi, potensi kenaikan suku bunga, serta ketegangan dagang kembali meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
