AS Perketat Isolasi Ekonomi Iran, 27 Maskapai Masuk Daftar Sanksi
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap 27 maskapai penerbangan Iran serta sejumlah entitas lainnya. Langkah merupakan upaya Washington memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran di tengah meluasnya konflik dan lonjakan harga minyak dunia.
Departemen Keuangan AS, Selasa (8/9/2026), mengumumkan langkah terbaru itu sebagai bagian dari operasi yang disebut “Operation Economic Outcast”. Sanksi menyasar seluruh maskapai Iran yang sebelumnya tak masuk dalam daftar sanksi Washington.
Baca Juga
AS Luncurkan “Operation Economic Outcast”, China Tak Luput dari Sanksi Iran
Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan pihak-pihak yang masih menjalin hubungan bisnis dengan maskapai Iran bahwa mereka berisiko kehilangan akses ke sistem keuangan global.
“Ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang melakukan bisnis dengan maskapai-maskapai Iran yang tersisa, yang semuanya kami kenai sanksi hari ini. Anda berisiko diputus dari sistem keuangan global,” kata Bessent dalam pernyataannya, dikutip CNBC.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi AS untuk memutus jalur ekonomi Iran, setelah konflik antara Washington dan Teheran kembali memanas di sekitar Selat Hormuz.
Jalur perairan tersebut merupakan salah satu rute paling vital bagi perdagangan minyak dunia. Namun, selama lebih dari enam bulan konflik berlangsung, Selat Hormuz telah berubah menjadi salah satu titik penyumbatan utama perdagangan energi global.
Kemampuan Iran untuk terus membatasi lalu lintas kapal di kawasan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak secara tajam. Situasi itu sekaligus memberikan Teheran daya tawar strategis dan membuat konflik antara kedua negara berada dalam kondisi kebuntuan selama berbulan-bulan.
Presiden Donald Trump bersikeras bahwa Amerika Serikat, bukan Iran, yang mengendalikan jalur perairan tersebut. Pemerintahannya juga membantah sejumlah laporan perusahaan pelacak kapal yang menunjukkan bahwa jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz masih jauh di bawah tingkat sebelum perang.
Konflik Meluas ke Arab Saudi
Ancaman konflik kini juga semakin meluas ke luar Selat Hormuz. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman pada Selasa menyerang sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi. Serangan itu memaksa penghentian sementara sebagian operasi fasilitas energi.
Ketegangan tersebut langsung memicu kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent sempat menembus US$99 per barel, sedangkan kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak hampir 2% pada level tertingginya selama perdagangan.
Baca Juga
Selat Hormuz Makin Berisiko, Harga Minyak Mendekati US$ 100 per Barel
Lonjakan harga minyak memperkuat kekhawatiran pasar bahwa gangguan pasokan energi akibat konflik dapat berlangsung lebih lama dan mendorong tekanan inflasi global.
Pemerintahan Trump sebelumnya, pada 24 Agustus, meluncurkan rencana sanksi yang digambarkan sebagai “economic D-Day” bagi Iran. Namun hingga kini, kebijakan tersebut dinilai lebih banyak menghasilkan ancaman luas dibandingkan tindakan konkret.
Washington juga belum mengambil langkah nyata untuk menekan China, mitra dagang dan pembeli minyak terbesar Iran, agar menghentikan hubungan ekonominya dengan Teheran.
Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu di Washington pada akhir bulan ini, sehingga isu hubungan ekonomi China-Iran berpotensi menjadi salah satu agenda penting dalam pembicaraan kedua pemimpin.
Pada akhir Agustus, Departemen Keuangan AS juga menargetkan cabang Uni Emirat Arab dari sebuah bank Mesir terkait hubungan keuangannya dengan Iran. Sementara pada Jumat, Washington menjatuhkan sanksi terhadap salah satu bank terbesar di Turki.
