Harga Minyak Melonjak Setelah AS Ancam Isolasi Ekonomi Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia naik setelah Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dapat berlangsung tanpa batas waktu. Ancaman tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Baca Juga
AS Ancam Isolasi Ekonomi Iran, Selat Hormuz Bisa Diblokade Tanpa Batas
Dikutip dari CNBC, minyak Brent, patokan internasional, melonjak 1,7% dan ditutup pada US$88,52 per barel pada perdagangan Jumat (14/8/2026). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,4% menjadi US$82,40 per barel.
Kedua harga acuan tersebut sebelumnya terkoreksi sekitar 2% pada perdagangan Kamis. Namun, secara mingguan Brent dan WTI tetap mencatat kenaikan lebih dari 5%.
Sentimen pasar kembali terangkat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa Washington tengah menyiapkan langkah-langkah untuk mendorong "isolasi ekonomi" Iran yang disebutnya belum pernah terjadi sebelumnya.
Pernyataan Bessent disampaikan setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan pasukan AS dapat mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tanpa batas waktu.
"Isolasi ekonomi" tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap perekonomian Iran sekaligus meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global. Iran berada di kawasan yang sangat strategis bagi perdagangan energi dunia, sementara Selat Hormuz menjadi jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk.
Kekhawatiran tersebut semakin meningkat setelah Uni Emirat Arab (UEA) pada Kamis malam menyatakan bahwa Iran menyerang dua kapal milik perusahaan minyak nasional Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) yang sedang melintas di Selat Hormuz.
Situasi di selat strategis tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membuat harga minyak tetap bertahan di atas US$80 per barel, meski pasar sebelumnya sempat merespons positif pernyataan Menteri Energi AS Chris Wright. Wright mengatakan arus ekspor minyak yang melewati Selat Hormuz saat ini lebih tinggi dibandingkan sejumlah estimasi independen.
Baca Juga
Harga Minyak Turun, AS Klaim Ekspor via Selat Hormuz Capai 9 Juta Barel per Hari
Di sisi lain, International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak global tahun ini akan turun lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Proyeksi tersebut mencerminkan tekanan terhadap aktivitas ekonomi global akibat ketidakpastian yang masih berlangsung di sekitar Selat Hormuz.
Bagi pasar minyak, perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada apakah blokade AS benar-benar diperpanjang dan bagaimana Iran merespons tekanan tersebut. Eskalasi lebih lanjut berpotensi meningkatkan premi risiko geopolitik dan mendorong harga minyak lebih tinggi.

