AS Ancam Isolasi Ekonomi Iran, Selat Hormuz Bisa Diblokade Tanpa Batas
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Amerika Serikat (AS) mengubah taktik dan akan menerapkan langkah-langkah ekonomi terhadap Iran. Tekanan ekonomi itu akan dikombinasikan dengan blokade berkelanjutan di Selat Hormuz untuk membatasi aktivitas perdagangan menuju dan dari pelabuhan-pelabuhan Iran.
Baca Juga
Iran Perketat Syarat Pembukaan Hormuz, Harga Minyak Kembali Melonjak
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump tengah menyiapkan kombinasi tekanan ekonomi yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya. AS juga melanjutkan blokade di Selat Hormuz.
"Ini akan menjadi kombinasi isolasi ekonomi seperti yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya, serta blokade berkelanjutan di Selat Hormuz yang akan mencegah apa pun masuk atau keluar dari pelabuhan Iran," kata Bessent dalam wawancara dengan Newsmax, dikutip dari CNBC, Sabtu (15/8/2026).
Bessent tidak memberikan rincian mengenai bentuk maupun cakupan sanksi ekonomi tersebut. Namun, pernyataannya menunjukkan bahwa Washington berencana meningkatkan tekanan terhadap Teheran ketika konflik militer memasuki fase yang semakin buntu.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih terbatas akibat ancaman keamanan, sementara sejauh ini belum terlihat tanda-tanda kuat adanya solusi diplomatik untuk mengakhiri konflik.
Presiden AS Donald Trump bahkan meningkatkan retorikanya dengan mengatakan pada Jumat bahwa setelah AS mengalahkan Iran, ia akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat.
Trump sebelumnya pernah menyebut kemungkinan AS mengenakan tarif atau pungutan terhadap kapal yang melintasi selat tersebut setelah konflik berakhir. Namun, gagasan itu kemudian ditinggalkan.
Selat Hormuz selama ini merupakan jalur perairan internasional yang terbuka dan tidak mengenakan tarif. Posisi strategisnya sangat penting karena menjadi salah satu jalur utama perdagangan minyak dan energi dunia.
Pernyataan Bessent juga muncul setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan militer AS dapat mempertahankan blokade angkatan laut terhadap Iran "tanpa batas waktu".
Hegseth mengatakan Angkatan Laut AS akan terus melakukan rotasi kapal yang bertugas di kawasan tersebut. Pernyataan itu menandakan bahwa Washington tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera mengurangi tekanan militernya terhadap Iran.
Baca Juga
Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Perang Berlanjut, Ekonomi Iran Kian Tertekan
Konflik yang berkepanjangan di sekitar Selat Hormuz berpotensi memperbesar ketidakpastian pasar energi global. Setiap pembatasan tambahan terhadap lalu lintas kapal dapat meningkatkan risiko terhadap pasokan minyak dan memperbesar tekanan harga komoditas energi.
Pergantian Kapal Induk
Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menyiapkan kapal induk USS George Washington untuk menggantikan USS Abraham Lincoln yang telah dikerahkan selama lebih dari 250 hari di kawasan Timur Tengah.
Pergantian tersebut berlangsung ketika muncul laporan mengenai kondisi yang disebut memburuk di atas kapal induk USS Abraham Lincoln, termasuk persoalan pasokan makanan, fasilitas yang rusak, kelelahan personel, hingga penurunan moral awak kapal.
Kelompok tempur USS George Washington berangkat dari Vietnam pada 12 Agustus, menurut keterangan Angkatan Laut AS. Kapal tersebut dilaporkan akan menggantikan USS Abraham Lincoln yang masa penugasannya semula diperkirakan berakhir pada Mei.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth membantah laporan mengenai kondisi buruk di atas USS Abraham Lincoln. Ia mengatakan pemberitaan mengenai kekurangan makanan, merosotnya moral serta dugaan upaya sejumlah pelaut untuk melompat ke laut telah "disalahartikan sepenuhnya".
Namun, sejumlah anggota keluarga personel militer tetap menyampaikan kekhawatiran mengenai kondisi kapal tersebut.
Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Mike Levin, mengatakan telah mengirim surat kepada Hegseth dan Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Hung Cao untuk menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kondisi USS Abraham Lincoln.
Dalam surat tersebut, Levin menyebut laporan dari keluarga personel mencakup masalah kamar mandi berjamur, toilet rusak, tidak tersedianya air panas, keterbatasan akses terhadap produk segar, serta kekurangan pasokan.
Surat tersebut juga menyebut para pelaut dan Marinir menghadapi beban kerja yang sangat berat sehingga memicu kelelahan ekstrem dan burnout.
Situasi itu menjadi sorotan karena USS Abraham Lincoln telah menjalani penugasan yang sangat panjang di tengah konflik AS dengan Iran dan ketegangan yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Di tengah laporan tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah kabar mengenai perkelahian di atas kapal induk tersebut. CENTCOM juga menegaskan tidak ada personel militer yang meninggal dalam insiden seperti yang diberitakan.
Sebelumnya, media Iran mengeklaim tujuh personel Angkatan Laut AS tewas dan beberapa lainnya terluka dalam sebuah bentrokan di atas USS Abraham Lincoln. Klaim tersebut tidak dikonfirmasi oleh pihak militer AS.
Pergantian kapal induk ini menunjukkan pentingnya menjaga kesiapan armada AS di tengah konflik yang belum menunjukkan jalan keluar diplomatik. Namun, lamanya masa penugasan USS Abraham Lincoln juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi personel AS dalam mempertahankan operasi militer berkelanjutan di kawasan tersebut.

