Hormuz Diblokade, Trump Ancam Hancurkan Kapal Perang Teheran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memastikan militer AS memulai blokade terhadap seluruh pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, Senin (14/04/2026), memicu eskalasi baru dalam konflik yang melibatkan AS, Iran, dan Israel di kawasan Timur Tengah. Trump menegaskan langkah ini diambil karena “dunia tidak bisa dibiarkan diperas oleh satu negara,” sekaligus mengirim sinyal keras bahwa konfrontasi militer dapat meningkat sewaktu-waktu.
Berdasarkan laporan live update yang disunting oleh Bridget Brown dkk dan diperbarui pada Selasa (14/4/2026) pukul 09.02 WIB, blokade tersebut mencakup seluruh pelabuhan Iran, meskipun sebelumnya Trump sempat mengancam akan menutup total Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia. Langkah ini langsung dibalas Iran dengan ancaman terhadap pelabuhan di kawasan Teluk Persia dan Teluk Oman, menandai risiko benturan terbuka di jalur energi global.
Baca Juga
AS Mulai Blokade Pelabuhan Iran di Hormuz, Paus Leo Kritik Keras Retorika Perang Trump
Tak lama setelah blokade diberlakukan, Trump melalui media sosial memperingatkan bahwa setiap kapal perang Iran yang mendekat ke zona blokade akan “dihancurkan secara cepat dan brutal.” Namun, dalam perkembangan beberapa jam kemudian, Trump mengindikasikan masih adanya ruang diplomasi setelah mengaku telah berbicara dengan “pihak lain,” merujuk pada komunikasi tidak langsung dengan Teheran.
Kebuntuan diplomasi memperburuk situasi. Perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (13/4/2026) dini hari. Kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan tersebut, sementara Gedung Putih belum memberikan kepastian apakah pembicaraan lanjutan akan digelar sebelum masa gencatan senjata dua pekan berakhir pada 22 April 2026.
Sementara itu, konflik di front lain terus memanas. Militer Israel melanjutkan ofensif udara dan darat di Lebanon selatan, terlibat pertempuran sengit dengan kelompok Hezbollah. Roket dan drone terus diluncurkan ke wilayah Israel utara, memperluas spektrum konflik regional yang semakin sulit dikendalikan.
Dalam dimensi lain yang tak kalah penting, pemimpin Gereja Katolik dunia, Pope Leo XIV, yang lahir di Amerika Serikat, secara terbuka menolak kritik Trump terhadap sikap Vatikan. Ia menegaskan bahwa seruan perdamaian yang disampaikan Vatikan berakar pada ajaran Injil dan tidak dipengaruhi tekanan politik mana pun.
Laporan senada dari Al Jazeera menyebutkan bahwa blokade AS telah resmi berlaku, tetapi Washington masih membuka peluang kesepakatan dengan Teheran. Iran, di sisi lain, menuduh langkah tersebut sebagai “aksi pembajakan” di perairan internasional. Ribuan warga Iran dilaporkan turun ke jalan di Teheran untuk memprotes blokade tersebut, memperlihatkan eskalasi tidak hanya di level militer, tetapi juga domestik.
Baca Juga
Lebih jauh, Sekretaris Jenderal Hezbollah Naim Qassem menolak rencana perundingan antara pemerintah Lebanon dan Israel, menyebutnya sebagai upaya menekan kelompoknya agar menyerahkan senjata. Pernyataan ini mempertegas bahwa konflik di kawasan tidak lagi bersifat bilateral, melainkan telah berkembang menjadi konflik multi-aktor dengan risiko meluas.
Dengan blokade yang kini berjalan dan diplomasi yang tersendat, dunia menghadapi potensi krisis energi dan keamanan global yang lebih dalam. Selat Hormuz kembali menjadi titik rawan, di mana setiap kesalahan kalkulasi dapat memicu gangguan besar terhadap pasokan energi dunia dan stabilitas ekonomi global.

