Perang Iran-Israel Ancam Selat Hormuz, Impor Bahan Baku Industri Dalam Negeri Bisa Terganggu
BEKASI, investortrust.id - Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyebutkan, pengiriman logistik global akan terganggu imbas konflik Timur Tengah antara Iran dan Israel yang berdampak pada impor bahan baku industri di dalam negeri.
Distribusi semakin terancam karena Iran berencana menutup sejumlah jalur logistik, salah satunya Selat Hormuz yang menjadi urat nadi jalur pasokan energi dunia.
Baca Juga
Perang Iran-Israel Ancam Rantai Pasok, Menperin Beberkan Dampaknya ke Industri Manufaktur Nasional
"Mudah-mudahan tidak mempengaruhi logistik walaupun hampir pasti itu akan berpengaruh besar, apalagi Iran mengancam menutup beberapa jalur logistik mereka," ucap Faisol saat ditemui di kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Kamis (19/6/2025).
Wamenperin Faisol mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan untuk memantau dampak perang Iran dan Israel. Salah satunya bagi industri di dalam negeri yang mengandalkan impor bahan baku.
"Terutama untuk beberapa bahan baku impor yang melalui jalur logistik di sana, maupun ekspor kita yang pasti akan berpengaruh," ungkap Faisol.
Baca Juga
Kendati demikian, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan pihaknya masih terus berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) untuk mitigasi terkait dampak konflik itu.
"Belum (mencari rute baru), kita baru akan bahas dengan Kementerian Koordinator Perekonomian," terang Faisol Riza.
Pasar tetap waspada pada Selat Hormuz sebagai pusat kekhawatiran pasokan energi global. Pasalnya, hampir sepertiga minyak dunia dan gas diangkut melalui laut melewati Selat Hormuz, menjadikannya titik kritis energi dunia. Meskipun sejauh ini tidak ada gangguan pada infrastruktur atau pengiriman minyak, kekhawatiran eskalasi mendorong harga minyak melejit.
Harga minyak mentah Brent dan gas alam Eropa melonjak, mencapai level tertinggi sejak awal April.
Sementara Qatar, eksportir LNG utama, mengirimkan sekitar 20% pasokan LNG global melalui Selat Hormuz. Tanpa koridor ekspor alternatif, gangguan di Selat Hormuz akan memperketat pasar LNG global secara signifikan dan mendorong harga lebih tinggi.

