Wall Street Melemah Setelah Rilis Data Ketenagakerjaan AS, Dow Anjlok Hampir 300 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS melemah pada penutupan Jumat waktu AS atau Sabtu (5/9/2026) WIB. Laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang jauh lebih kuat dari perkiraan meningkatkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve dapat kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
Dow Jones Industrial Average turun 271,86 poin atau 0,51% menjadi 53.414,25. Indeks S&P 500 melemah 0,38% ke 7.718,60, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,29% menjadi 26.506,99.
Tekanan terhadap pasar saham muncul setelah Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan nonfarm payrolls bertambah 162.000 pada Agustus. Angka tersebut lebih dari tiga kali lipat dibandingkan perkiraan ekonom Dow Jones yang hanya memprediksi kenaikan 53.000 pekerjaan.
Baca Juga
Nonfarm Payrolls AS Agustus Melonjak 162.000, Jauh di Atas Ekspektasi
Tingkat pengangguran bertahan di 4,1%, sesuai ekspektasi, sementara data Juni dan Juli direvisi lebih tinggi.
Peluang Kenaikan Bunga Meningkat
Kejutan positif dari pasar tenaga kerja langsung memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan 15-16 September berada di sekitar 58%, berdasarkan CME FedWatch.
Sehari sebelumnya, peluang tersebut berada di 49,4%.
“Ada laporan pekerjaan Agustus yang sangat kuat, yang mengingatkan kita bahwa statistik tenaga kerja ini menjadi sangat volatil, sekaligus sedikit meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September,” kata Bradford Smith, portfolio manager Janus Henderson Investors, dilansir CNBC.
Menurut Smith, perdebatan mengenai arah kebijakan The Fed kini akan sangat bergantung pada data inflasi yang segera dirilis. “Setelah penampilan hawkish Ketua Warsh di Jackson Hole pekan lalu, terdapat bias yang jelas di The Fed untuk bertindak jika data yang masuk tidak menunjukkan kemajuan lebih lanjut dalam proses disinflasi,” bebernya.
Pasar obligasi juga bereaksi negatif terhadap data payrolls yang kuat.
Imbal hasil Treasury AS meningkat, terutama pada surat utang bertenor pendek yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan The Fed. Yield Treasury 2 tahun bahkan mencapai level tertinggi sejak Januari 2025.
Kenaikan yield menunjukkan investor mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi atau bahkan kembali dinaikkan untuk memastikan tekanan inflasi tidak kembali meningkat.
Perubahan ekspektasi tersebut menjadi kontras dengan perdagangan sehari sebelumnya. Pada Kamis, ketiga indeks saham utama AS menguat setelah yield Treasury turun menyusul pernyataan Gubernur Fed Christopher Waller yang mengatakan dirinya cenderung mendukung keputusan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,5%-3,75% dalam pertemuan September.
Inflasi Jadi Penentu
Meskipun payrolls Agustus sangat kuat, pasar belum dapat memastikan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga.
Pasalnya, bank sentral AS kini menghadapi dua sinyal yang saling bertentangan. Pasar tenaga kerja menunjukkan ketahanan, sementara pejabat The Fed masih menunggu bukti lebih kuat mengenai arah inflasi.
Inflasi AS telah berada di atas target The Fed sebesar 2% selama sekitar 5,5 tahun. Karena itu, data harga konsumen dan harga produsen yang akan dirilis pekan depan akan menjadi faktor penting dalam menentukan keputusan FOMC.
Waller mengatakan dirinya akan mendukung keputusan mempertahankan suku bunga selama laporan inflasi menunjukkan tekanan harga terus mengalami moderasi secara bulanan.
Baca Juga
Jelang Rapat FOMC, Pejabat Fed Christopher Waller Kirim Sinyal ‘Dovish’
Williams juga mengambil sikap menunggu perkembangan data, sementara Barr menyatakan siap mendukung kenaikan suku bunga jika inflasi tidak terus melandai.
Dengan demikian, laporan payrolls Agustus belum menjadi kata akhir bagi kebijakan moneter AS.
Kinerja Mingguan Wall Street
Meski ditutup melemah pada Jumat, kinerja mingguan ketiga indeks utama masih relatif positif.
Indeks S&P 500 mencatat kenaikan tipis 0,1% sepanjang pekan, sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,4%.
Hanya Dow Jones turun 0,3%.
Pergerakan pasar pada pekan berikutnya diperkirakan akan sangat ditentukan oleh data inflasi.
Jika inflasi kembali menunjukkan tekanan, kombinasi pasar tenaga kerja yang kuat dan tekanan harga yang persisten dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Sebaliknya, apabila inflasi melandai lebih cepat dari perkiraan, The Fed masih memiliki alasan untuk mempertahankan suku bunga dan menunggu perkembangan ekonomi lebih lanjut. Bagi investor, laporan payrolls Agustus pada akhirnya memperbesar ketidakpastian menjelang keputusan The Fed pada pertengahan September.
