Tak Cuma RI, Thailand pun Kucurkan Bansos dan Relaksasi Kredit
JAKARTA, Investortrust.id - Thailand akan mengucurkan dana sekitar 560 miliar baht (sekitar Rp242.33 triliun) kepada 55 juta orang dewasa dalam periode enam bulan mendatang, untuk mendorong permintaan domestik dan investasi. Langkah ini ditetapkan Perdana Menteri baru, Srettha Thavisin, sebagai upaya pemulihan ekonomi sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Semua warga Thailand yang berusia 16 tahun ke atas akan menerima 10.000 baht masing-masing (setara Rp4,3juta) yang dapat digunakan untuk membeli barang dan layanan di lingkungan mereka dalam periode tertentu.
Pemerintah juga akan segera menurunkan harga energi dan menawarkan moratorium utang kepada petani dan usaha kecil yang terlilit beban utang, demikian kata Srettha dalam pernyataannya soal kebijakan di depan Parlemen, Senin (11/9/2023).
Kebijakan bantuan sosial yang disebut ‘dompet digital’ tersebut "akan berfungsi sebagai pemicu, yang akan sekali lagi menghidupkan perekonomian negara," kata Srettha seperti dilansir Bloomberg. Ia juga menyebutkan bahwa bantuan tersebut akan memastikan distribusi uang secara merata ke semua sektor ekonomi.
Pertemuan kerja pertama Kabinet Srettha pada Rabu pekan ini kemungkinan akan menyepakati sebagian dari kebijakan yang diuraikan oleh Perdana Menteri di sidang Parlemen.
Program dompet digital, yang akan diluncurkan pada kuartal pertama tahun depan merupakan janji utama sebelum pemilihan dari Partai Pheu Thai yang mengusung Srettha. Para pejabat di Thailand mengatakan, efek pengganda pada ekonomi bisa mencapai empat kali lipat dari nilai bantuan tersebut, dan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi tahun 2024 menjadi sebesar 5%, dibandingkan proyeksi sebesar 2,8% di tahun 2023.
Srettha adalah tokoh properti yang juga menjabat sebagai menteri keuangan, kini menghadapi tantangan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di tengah menurunnya permintaan akan barang-barang Thailand dari mitra dagang utamanya, yaitu China. Pendapatan dari wisatawan asing juga dilaporkan turun dari yang diharapkan. Pemerintahan koalisi 11 partai ini pun menghadapi potensi lonjakan inflasi karena kondisi kekeringan diperkirakan akan mengurangi hasil panen beras dan gula.
Pasar keuangan Thailand, mengalami eksodus besar-besaran investor asing setelah gejolak pasca-pemilihan. Pelaku pasar sebagian besar bersikap netral terhadap pengumuman kebijakan bantuan sosial tersebut. Indeks saham acuan turun 0,5% pada pukul 11.26 pagi di Bangkok setelah dibuka lebih tinggi, sementara baht tetap mempertahankan kenaikannya sebesar 0,4% terhadap dolar Amerika Serikat.

