Korban Jiwa Gempa Kolombia Magnitudo 7,4 Melonjak, 265 Orang Dilaporkan Tewas dan 4.100 Hilang
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Jumlah korban jiwa akibat gempa bumi magnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah barat Kolombia pada hari Senin (10/8/2026) lalu terus meningkat di tengah upaya pencarian korban selamat yang semakin mendesak.
Berbagai bantuan dari mitra Kolombia di kawasan pun mulai mengalir pada hari Rabu (12/8/2026) saat tim penyelamat terus menyisir puing-puing bangunan runtuh, jalanan rusak, serta kendaraan yang hancur.
Bencana besar ini menjadi ujian berat bagi Presiden baru Kolombia, Abelardo de la Espriella, beserta pemerintahannya yang berupaya merespons bencana, sekaligus bagi masyarakat sipil yang mendorong penyaluran bantuan ke komunitas paling terdampak.
Pada Rabu malam, Abelardo de la Espriella menyatakan sedikitnya 265 orang tewas dan hampir 500 orang dilaporkan hilang, meski basis data sipil mencatat angka hilang melampaui 4.100 orang. Secara keseluruhan, lebih dari 25.800 keluarga terdampak oleh bencana ini.
"Upaya kami difokuskan pada orang-orang yang hilang," kata Abelardon pada para wartawan di Bogota, seperti dikutip CBS.
Sementara itu tim penyelamat dilaporkan terus menyisir reruntuhan di kota-kota paling parah terdampak, yaitu Cali, Pereira, Manizales, dan Quibdo, sembari berpacu dengan waktu untuk menemukan korban selamat.
Lembaga bantuan menganggap 48 hingga 72 jam pertama sangat krusial untuk menyelamatkan korban, walau batas itu bisa diperpanjang jika korban terperangkap memiliki akses ke makanan dan air.
Wali Kota Cali, Alejandro Eder, menyampaikan pada Rabu sore bahwa tim penyelamat masih menemukan tanda-tanda kehidupan di balik puing-puing. Alejandro Eder menegaskan, "20 jam ke depan adalah waktu paling krusial untuk menemukan dan menyelamatkan orang-orang dalam kondisi hidup. Setiap menit sangat berharga."
Di tengah keputusasaan, kisah penyelamatan memberi harapan. Video media sosial memperlihatkan penyelamatan seorang bayi pada hari Senin dari reruntuhan bangunan yang runtuh di Cali, di mana seorang penyintas terdengar memberi tahu tim penyelamat, "Saya bersama seorang bayi," diiringi tangisan bayi tersebut.
Sementara itu di Pereira, tim penyelamat berhasil mengeluarkan Daniela Largo yang berusia 32 tahun dalam keadaan selamat pada Selasa malam. Penyelamatan rumit selama 12 jam tersebut dilakukan dengan membuat celah kecil di rereuntuhan untuk membebaskan lengannya yang tertindih, serta pemberian cairan infus oleh dokter untuk menstabilkan kondisinya. Pembungkus selimut biru membalut perempuan muda itu saat diangkut ke ambulans, diiringi sorak-sorai warga dan para petugas pemadam kebakaran mengungkapkan rasa syukur mereka.
Baca Juga
Gempa Berkekuatan Masif Guncang Kolombia, Setidaknya 111 Tewas
Craig De Meillon, sukarelawan pencari dan penyelamat asal Miami, Florida, menggambarkan suasana haru tersebut layaknya momen kemenangan olahraga saat semua orang berjabat tangan dan bersorak kegirangan.
Namun, suasana duka juga mewarnai kota yang sama ketika seorang pria diangkat dari bangunan runtuh dalam keadaan tidak bernyawa dan tertutup selimut putih.
Selama operasi pencarian di tengah keramaian kota, ratusan penonton dan sukarelawan diminta tetap hening untuk mendengarkan tanda-tanda kehidupan yang paling halus sekalipun.
Pada satu momen di Pereira, barisan sukarelawan membentuk rantai manusia memindahkan puing demi puing, hingga unit tentara Kolombia yang menggunakan peralatan khusus dan anjing pelacak menemukan tanda kehidupan yang disambut sorak-sorai massa.
Pereira sebagai wilayah penghasil kopi yang menjadi salah satu area terparah telah menjadikan fasilitas umum, sekolah, dan arena olahraga menjadi tempat pengungsian bagi ribuan warga.
Di Pereira dan Cali, keluarga-keluarga tidur di taman karena takut akan gempa susulan atau keruntuhan rumah mereka yang rusak.
Layanan geologi Kolombia mencatat telah terjadi 130 gempa susulan sejak gempa utama.
Edith Penagos, seorang warga berusia 48 tahun yang mengungsi bersama putranya di tenda putih taman Pereira, menuturkan, "Kami memiliki hal-hal paling penting: atap di atas kepala kami, makanan, air, dan dalam kasus saya, perawatan medis."
Seismolog sekaligus profesor ilmu kebumian dari Universitas Andes, Rodrigo León Loya, menjelaskan bahwa probabilitas gempa bermagnitudo serupa di area yang sama tergolong rendah, namun ia tidak mengecualikan aktivitas seismik lainnya. Rodrigo León Loya mengingatkan,
"Mari kita ingat bahwa Kolombia penuh dengan garis sesar aktif. Pertanyaannya bukan apakah hal itu bisa terjadi lagi, melainkan kapan gempa bumi dengan magnitudo serupa akan terjadi di sumber seismik Kolombia yang lain."
Di berbagai wilayah termasuk pusat gempa di Choco, respons resmi pemerintah terhambat oleh krisis kemiskinan ekstrem dan perang saudara yang telah menyebabkan gelombang pengungsian paksa selama berdekade-dekade.
Dampak sebenarnya di wilayah rimba barat laut ini masih belum diketahui secara pasti karena terputusnya layanan seluler dan terisolasinya komunitas yang hanya dapat diakses melalui jalur sungai. "Gempa bumi ini memperparah situasi kemanusiaan yang sudah parah, dan ada kebutuhan untuk meningkatkan dukungan bagi respons kemanusiaan," kata Direktur Dewan Pengungsi Norwegia untuk Kolombia, Giovanni Rizzo, kepada CBS.
Di luar Kolombia, Presiden El Salvador, Nayib Bukele menawarkan dua pesawat berisi 100 ton bantuan, setelah Pada hari Rabu, Paus Leo XIV mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang berkontribusi dalam upaya pemulihan dan menyatakan doanya bagi para korban.
"Saya ingin mengungkapkan solidaritas saya kepada saudara-saudari saya di Kolombia yang telah menderita akibat dampak gempa bumi baru-baru ini," kata Paus.

