AS-Iran Mendekati Kesepakatan Damai, tapi Hormuz Masih Nyaris Lumpuh
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harapan berakhirnya perang Amerika Serikat (AS)-Iran kembali muncul. Pakistan menyatakan Washington dan Teheran semakin dekat menuju suatu kesepakatan damai. Namun, optimisme diplomatik tersebut belum mampu meredakan ketegangan di lapangan. Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas, serangan terhadap kapal terjadi di kawasan, sementara pemerintah AS menaikkan proyeksi harga minyak akibat terganggunya jalur energi terpenting dunia itu.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengatakan AS dan Iran kini mendekati “semacam kesepakatan”. Pernyataan itu disampaikan di Islamabad, Pakistan, pada Selasa (11/08/ 2026), sebagaimana diberitakan CBS News dan Reuters pada hari yang sama.
Menurut Asif, perkembangan terbaru menunjukkan situasi mulai bergerak kembali ke arah tercapainya perdamaian. Pakistan bersama Qatar memainkan peran sebagai mediator, sementara Washington dan Teheran masih bertukar pesan melalui perantara dan belum melakukan perundingan langsung. Reuters melaporkan Qatar juga menyatakan pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz telah memasuki tahap lanjut.
Baca Juga
Iran Perketat Syarat Pembukaan Hormuz, Harga Minyak Kembali Melonjak
Optimisme tersebut memberikan harapan bahwa konflik yang pecah setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 dapat memasuki fase baru. Perang telah mengguncang Timur Tengah, mengganggu produksi dan perdagangan minyak, serta membuat Selat Hormuz—jalur yang sebelum perang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dunia—praktis mengalami gangguan berat.
Namun, jalan menuju kesepakatan masih jauh dari mulus. Presiden AS Donald Trump pada Senin (10/8/2026) menyatakan AS menguasai Selat Hormuz dan jalur tersebut telah terbuka. Trump juga menegaskan perekonomian Iran mengalami tekanan berat akibat perang.
Pernyataan bahwa Hormuz telah terbuka, bagaimanapun, belum tercermin dalam pergerakan kapal. Menurut data perusahaan intelijen maritim Kpler yang dikutip CNN pada 11 Agustus 2026, hanya delapan kapal melintasi Selat Hormuz, Senin (10/8/2026), dibandingkan sekitar 120 kapal per hari sebelum perang. Data Reuters beberapa hari sebelumnya juga menunjukkan lalu lintas melalui Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal. Hanya 33 kapal yang melintas selama empat hari pada 3-6 Agustus, sedangkan sebelum konflik sekitar 130-140 kapal melintasi jalur tersebut setiap pekan. Artinya, secara fisik Selat Hormuz belum kembali berfungsi normal.
Tuntut Kompensasi
Salah satu hambatan besar menuju perdamaian adalah tuntutan kompensasi. CBS News melaporkan Trump mulai menggemakan tuntutan ganti rugi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang. Iran juga mengajukan tuntutan kompensasi sebagai salah satu syarat penyelesaian konflik.
Reuters melaporkan kerangka perdamaian sementara yang pernah dinegosiasikan pada Juni kini kembali menjadi bahan pembicaraan. Namun, tuntutan baru dari Washington, terutama mengenai reparasi dari Iran, menciptakan hambatan baru bagi diplomasi.
Dengan demikian, sinyal positif dari Pakistan belum dapat diterjemahkan sebagai kesepakatan final. Kedua negara masih harus menyelesaikan persoalan besar, mulai dari kompensasi perang, pembukaan kembali Hormuz, sanksi terhadap Iran, keamanan pelayaran hingga mekanisme implementasi kesepakatan.
Baca Juga
Iran Isyaratkan Selat Hormuz Tetap Tertutup, Harga Minyak Melonjak, Negosiasi Makin Buntu
Ketidakpastian tersebut langsung tercermin pada pasar energi. Reuters melaporkan pada Selasa (11/8/2026), harga minyak Brent berada sekitar US$87,84 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) sekitar US$82,20 per barel. Harga bertahan di sekitar level tertinggi satu pekan karena pasar menimbang prospek diplomasi AS-Iran melawan risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Bahkan, pemerintah AS kini memperkirakan gangguan Hormuz belum akan segera berakhir. Dalam Short-Term Energy Outlook yang dirilis 11 Agustus 2026, U.S. Energy Information Administration (EIA) masih memperhitungkan keterbatasan arus energi melalui Selat Hormuz. EIA merupakan lembaga statistik dan analisis energi di bawah Departemen Energi AS.
Menurut laporan CNN yang mengutip proyeksi terbaru EIA, lembaga tersebut menaikkan perkiraan rata-rata harga Brent sepanjang 2026 menjadi US$87 per barel, dari proyeksi US$82 per barel sebulan sebelumnya. Proyeksi rata-rata harga bensin ritel AS juga dinaikkan menjadi US$3,78 per galon, dari sebelumnya US$3,64.

