Ekonomi Singapura Bertumbuh 5,9% di Kuartal II-2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Kementerian Perdagangan dan Perindustrian Singapura (MTI) pada Selasa, (11/8/2026), resmi menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi full year 2026. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kinerja ekonomi semester I-2026 yang lebih baik, serta prospek yang kian membaik untuk sisa tahun ini. Produk domestik bruto (PDB) Singapura tercatat tumbuh 5,9% pada kuartal kedua tahun 2026.
MTI memproyeksikan ekonomi Singapura akan tumbuh sebesar 4,5% hingga 5,5%, naik signifikan dari perkiraan sebelumnya yang berada di angka 2% hingga 4%.
Catatan perbaikan ini melanjutkan rangkaian pergerakan positif yang dilakukan oleh pemerintah Singapura. MTI sebelumnya telah menaikkan perkiraan pertumbuhan Singapura pada Februari lalu dari proyeksi awal sebesar 1% hingga 3%.
Berdasarkan data terbaru, produk domestik bruto (PDB) Singapura tercatat tumbuh 5,9% pada kuartal kedua tahun 2026. Angka ini sedikit lebih tinggi dari perkiraan awal sebesar 5,7%, meskipun melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal pertama yang mencapai 6,3%.
Jika ditinjau berdasarkan basis penyesuaian musiman dari kuartal ke kuartal, perekonomian Singapura mengalami ekspansi sebesar 1,4%, memperpanjang pertumbuhan 1,2% yang diraih pada kuartal pertama. Secara keseluruhan, PDB Singapura pada paruh pertama tahun ini tumbuh sebesar 6,1% secara tahunan. Pihak kementerian menjelaskan bahwa pertumbuhan pada paruh pertama tahun ini secara umum didukung oleh akselerasi pengeluaran modal global yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).
Pertumbuhan pada kuartal kedua tahun ini secara khusus didorong oleh kinerja kuat dari sektor manufaktur, perdagangan grosir, serta sektor keuangan dan asuransi. MTI menyatakan dalam siaran persnya bahwa "Secara khusus, permintaan global terkait AI yang kuat mendorong pertumbuhan di klaster elektronik dan teknik presisi pada sektor manufaktur, serta segmen mesin, peralatan, dan pasokan pada sektor perdagangan grosir."
Baca Juga
Singapura Perketat Kebijakan Moneter, Waspadai Dampak Lonjakan Harga Energi
Di sisi lain, pertumbuhan sektor keuangan dan asuransi dipicu oleh segmen perbankan yang ditopang oleh pertumbuhan kredit yang kuat serta aktivitas yang menghasilkan biaya. Namun, sektor jasa makanan dan minuman justru mengalami kontraksi, yang sebagian disebabkan oleh peningkatan berkelanjutan perjalanan keluar negeri oleh warga lokal dan penurunan kedatangan pengunjung pada kuartal kedua.
Mengenai prospek tahun 2026, MTI menilai bahwa pandangan terhadap permintaan eksternal Singapura telah membaik dibandingkan dengan penilaian ekonomi pada bulan Mei lalu. Booming investasi AI global berjalan lebih kuat dari perkiraan, sehingga memberikan angin segar yang signifikan bagi produksi dan ekspor yang terkait dengan teknologi tersebut. Percepatan lebih lanjut dalam pengeluaran modal terkait AI ini diperkirakan akan mengangkat prospek pertumbuhan negara-negara yang terhubung ke dalam rantai nilai teknologi global.
Sementara itu, dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah ternyata tidak separah yang dikhawatirkan pada awalnya. Penurunan persediaan minyak dan substitusi ke sumber energi alternatif telah membatasi kenaikan harga energi global. Meskipun demikian, ketegangan yang terus berlanjut diperkirakan tetap menjaga harga komoditas berada di level yang lebih tinggi pada paruh kedua tahun ini. Kondisi tersebut akan memberi tekanan naik pada inflasi global dan membebani aktivitas ekonomi dunia, di mana penerapan tarif oleh Amerika Serikat (AS) juga berpotensi menekan ekspor dari negara-negara yang terdampak.
Melihat kondisi negara mitra dagang Singapura, pertumbuhan PDB di Amerika Serikat diperkirakan tetap tangguh yang sebagian didukung oleh peningkatan investasi terkait AI. Meski begitu, pertumbuhan di AS berpotensi melambat pada paruh kedua tahun ini karena konsumsi melemah di tengah tekanan inflasi yang persisten. Sebaliknya, prospek kawasan Eurozone untuk sisa tahun ini justru melemah karena tingginya harga energi dapat memicu kenaikan suku bunga lebih lanjut dan menjadi hambatan bagi permintaan domestik.

