Stok Senjata AS Menipis akibat Perang Iran, Pentagon Perintahkan Industri Genjot Produksi
Poin Penting
|
WASHINGTON, Investortrust.id — Perang berkepanjangan dengan Iran mulai memberikan tekanan serius terhadap persediaan persenjataan Amerika Serikat. Departemen Pertahanan AS atau Pentagon meminta perusahaan-perusahaan pertahanan meningkatkan produksi dan mempercepat pengiriman senjata serta amunisi penting menyusul kekhawatiran stok militer AS terus menipis di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir.
CNN dalam laporan yang diperbarui Minggu (09/08/2026), pukul 12.09 EDT, menyebut Pentagon telah mendesak kontraktor pertahanan AS meningkatkan produksi senjata. Instruksi tersebut muncul ketika pemerintahan Presiden Donald Trump juga menghadapi kebuntuan diplomatik dengan Teheran dan meningkatnya risiko konflik meluas ke negara-negara lain di Timur Tengah.
Menurut CNN, Wakil Menteri Pertahanan AS Steve Feinberg mengeluarkan memorandum pada Rabu, 5 Agustus 2026, yang meminta para pemimpin industri pertahanan menyerahkan rencana dalam waktu paling lama 21 hari. Pentagon menginginkan jadwal pengiriman senjata yang jauh lebih cepat dan peningkatan produksi untuk sejumlah kemampuan militer kritis.
Keberadaan memorandum itu dikonfirmasi Juru Bicara Pentagon Sean Parnell kepada CNN. Menurut Parnell, memorandum 5 Agustus tersebut akan menjadi salah satu bahan penyusunan anggaran pertahanan tahun fiskal 2028 yang diajukan kepada Kongres. Pentagon juga melihat anggaran tahun fiskal 2027 yang sedang dibahas di Capitol Hill sebagai kesempatan untuk mempercepat pembangunan kembali basis industri pertahanan AS.
Langkah tersebut memperlihatkan persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar kebutuhan amunisi untuk perang Iran. Amerika Serikat menghadapi tantangan bagaimana mempertahankan persediaan senjata untuk menghadapi konflik berkepanjangan sekaligus menjaga kesiapan militernya menghadapi potensi ancaman lain.
Dokumen resmi anggaran Pentagon untuk tahun fiskal 2026 sebenarnya telah mengakui persoalan tersebut. Departemen Pertahanan AS menyebut permintaan produksi yang tidak konsisten dari tahun ke tahun membatasi kemampuan pemasok meningkatkan produksi dengan cepat ketika kebutuhan militer melonjak. Karena itu, Pentagon memprioritaskan modernisasi lini produksi, teknologi manufaktur serta pengadaan material dengan waktu produksi panjang untuk memperkuat kapasitas industri pertahanan.
Baca Juga
Dalam anggaran tahun fiskal 2026 saja, Pentagon mengalokasikan sekitar US$30,5 miliar untuk pengembangan dan pengadaan amunisi. Program peningkatan produksi mencakup berbagai sistem penting seperti Standard Missile-6 atau SM-6, Precision Strike Missile, AMRAAM, Long Range Anti-Ship Missile, JASSM, GMLRS, rudal pertahanan udara Patriot PAC-3 MSE, hingga amunisi artileri 155 milimeter.
Tekanan terhadap basis industri pertahanan AS sesungguhnya telah berlangsung sebelum pecahnya perang Iran. Laporan resmi sebelumnya mencatat bantuan militer besar-besaran kepada Ukraina telah mengurangi sebagian stok Amerika dan mendorong kebutuhan mendesak untuk meningkatkan produksi. Perang Rusia-Ukraina dan konflik Israel-Hamas memaksa industri pertahanan AS beralih dari orientasi produksi masa damai menuju tingkat produksi yang lebih menyerupai kebutuhan masa perang.
Persoalannya, kapasitas produksi senjata tidak dapat dinaikkan dalam waktu singkat. Kajian militer AS menunjukkan upaya meningkatkan produksi peluru artileri 155 mm dari sekitar 14.000 butir per bulan pada Februari 2022 menuju sasaran 100.000 butir per bulan membutuhkan investasi miliaran dolar dan waktu lebih dari tiga tahun. Infrastruktur yang menua, mesin produksi khusus, keterbatasan pemasok, serta rantai pasok bahan baku menjadi penghambat peningkatan kapasitas secara cepat.
Perang Berlanjut, Diplomasi AS-Iran Masih Buntu
Permintaan Pentagon kepada industri pertahanan menjadi semakin penting karena belum terlihat terobosan menentukan dalam diplomasi Washington-Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera pada 9 Agustus 2026, mengatakan Iran saat ini tidak melakukan negosiasi langsung dengan Amerika Serikat. Komunikasi berlangsung melalui perantara, meskipun terdapat upaya untuk menciptakan landasan bagi dimulainya kembali perundingan.
Iran juga mengaitkan perkembangan diplomatik dengan persoalan Selat Hormuz, jalur laut strategis bagi perdagangan minyak dan gas dunia. Reuters pada 9 Agustus melaporkan Teheran menyatakan pembicaraan dengan Oman mengenai penetapan jalur pelayaran baru di Hormuz telah memasuki tahap akhir, tetapi pembukaan kembali jalur tersebut tetap berkaitan dengan langkah yang harus dilakukan Washington.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sendiri mendorong berakhirnya kondisi yang ia gambarkan sebagai situasi “tidak perang, tidak damai” dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu memberikan sinyal bahwa sebagian kepemimpinan Iran masih melihat peluang diplomasi, meskipun perbedaan tuntutan kedua negara tetap besar.
Presiden Trump sebelumnya mengatakan Amerika Serikat bersedia menahan serangan baru terhadap Iran selama terdapat prospek kesepakatan dalam waktu dekat. Namun, situasi di lapangan memperlihatkan bahwa risiko eskalasi belum mereda.
Houthi Serang Kilang Saudi Aramco
Di tengah kebuntuan AS-Iran, konflik justru menunjukkan tanda-tanda melebar. Kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran meningkatkan serangan terhadap sasaran yang berkaitan dengan Arab Saudi.
Reuters pada 9 Agustus 2026 melaporkan Houthi melancarkan serangan pesawat nirawak terhadap kilang Saudi Aramco di Jazan, di pesisir Laut Merah. Kilang berkapasitas sekitar 400.000 barel minyak mentah per hari itu mengalami kebakaran, tetapi api berhasil dipadamkan dan tidak dilaporkan adanya korban luka.
Serangan terjadi tidak lama setelah Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani pakta pertahanan bersama di Mekkah. Kesepakatan tersebut semakin penting setelah ancaman keamanan terhadap Arab Saudi meningkat dari kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran.
Houthi sebelumnya juga meningkatkan operasi militernya di Yaman. Reuters melaporkan sedikitnya 30 tentara pemerintah Yaman tewas dalam serangan terhadap kamp-kamp militer di Provinsi Marib dan Hadramaut pada 6 Agustus. Serangan lanjutan menggunakan rudal balistik dan drone kemudian kembali terjadi di Marib.
Eskalasi tersebut membuat konflik AS-Iran tidak lagi hanya menjadi pertarungan langsung antara Washington dan Teheran. Serangan terhadap fasilitas energi Saudi, meningkatnya aktivitas kelompok-kelompok bersenjata sekutu Iran, serta ketidakpastian di Selat Hormuz dan Laut Merah telah memperluas risiko terhadap keamanan energi dan jalur perdagangan global.
Bagi Amerika Serikat, tekanan kini berlangsung pada dua medan sekaligus. Washington harus mempertahankan kemampuan militernya untuk menghadapi Iran dan jaringan sekutunya, sementara pada saat bersamaan menjaga stok strategis yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen keamanan AS di kawasan lain. Fakta bahwa Pentagon kini meminta industri pertahanan mempercepat produksi menunjukkan bahwa perang bukan hanya menguji kekuatan senjata Amerika di medan tempur, tetapi juga daya tahan mesin industrinya di belakang garis pertempuran.

