Wall Street Merah Dipicu ‘Profit Taking’ dan Ketidakpastian Hormuz, Dow Anjlok Hampir 500 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat (7/8/2026) WIB. Wall Street memerah di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap perkembangan situasi di Timur Tengah dan melonjaknya harga minyak.
Indeks S&P 500 turun 0,18% ke posisi 7.709,96, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,06% menjadi 26.348,35. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 464,02 poin atau 0,85% ke level 53.885, mengakhiri reli kenaikan selama lima hari berturut-turut.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Setelah Iran Usulkan Pembatasan di Selat Hormuz
Tekanan terbesar datang dari saham Salesforce yang turun sekitar 3% setelah perusahaan mengumumkan perubahan struktur kepemimpinan.
Saham Sandisk juga anjlok lebih dari 6% setelah laporan keuangan kuartal fiskal keempat gagal memenuhi ekspektasi investor.
AppLovin merosot hampir 20% akibat hasil kuartalan yang beragam, sedangkan Western Digital turun 13% setelah memberikan proyeksi kuartal pertama yang mengecewakan meski laba kuartal sebelumnya melampaui perkiraan.
“Pasar sedang mengambil jeda setelah periode perdagangan yang sangat aktif dipicu musim laporan keuangan,” ujar JJ Kinahan, kepala ekspansi ritel dan produk investasi alternatif Cboe, dilansir CNBC
Menurutnya, laba dan pendapatan yang lebih baik dari perkiraan tidak selalu mampu mendorong harga saham apabila perusahaan memberikan prospek bisnis yang lemah.
Ia juga menilai aksi ambil untung menjadi faktor tambahan, terutama pada saham-saham teknologi yang telah mencatat kenaikan sangat tinggi dalam setahun terakhir.
Baca Juga
Wall Street Bergerak Beragam, Dow Terus Melaju dan Cetak Rekor Baru
Di sisi lain, investor terus memantau perkembangan negosiasi pembukaan Selat Hormuz.
Harga minyak naik setelah media pemerintah Iran melaporkan rancangan aturan yang melarang kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi selat tersebut.
Meski demikian, Iran dan Oman dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan yang memungkinkan jalur pelayaran kembali dibuka tanpa pungutan biaya.
Ahli strategi Deutsche Bank Jim Reid mengatakan pasar telah beberapa kali dikecewakan oleh harapan tercapainya kesepakatan selama konflik berlangsung.
Menurutnya, perhatian investor kini bergeser dari kemungkinan tercapainya kesepakatan menuju bentuk akhir pengaturan Selat Hormuz, termasuk apakah Iran nantinya akan diizinkan mengenakan tarif terhadap kapal-kapal yang melintas.

