Wall Street Ambles Dipicu Data Tenaga Kerja AS dan Tarif Trump, Dow Anjlok Hampir 550 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Wall Street mengawali bulan Agustus dengan tekanan berat setelah kombinasi data pekerjaan yang mengecewakan dan kebijakan tarif baru dari Presiden Donald Trump mengguncang sentimen pasar global.
Baca Juga
Pasar Tenaga Kerja AS Memburuk, Nonfarm Payroll Juli Hanya Tambah 73.000
Pada perdagangan Jumat (1/8/2025) waktu AS atau Sabtu waktu Indonesia, indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 542,40 poin ke level 43.588,58, koreksi harian terburuk sejak 13 Juni. S&P 500 jatuh 1,6 persen ke 6.238,01 dan Nasdaq terkoreksi 2,24 persen ke 20.650,13—kejatuhan terbesar sejak April 21.
Laporan ketenagakerjaan Juli memperlihatkan bahwa 'nonfarm payroll' hanya bertambah 73.000, jauh di bawah ekspektasi 100.000. Yang lebih mencemaskan, data Mei dan Juni direvisi turun sebesar 258.000 secara kumulatif. Pertumbuhan pekerjaan Juni hanya 14.000, dan Mei tinggal 19.000. Ini menandakan pasar tenaga kerja sudah melemah selama beberapa waktu.
"Ini bukan hanya soal angka Juli yang lemah, tapi revisi dua bulan sebelumnya yang membuat kekhawatiran terhadap siklus kerja menjadi nyata," ujar Thierry Wizman dari Macquarie Group, dikutip dari CNBC.
Pasar juga mendapat tekanan dari kebijakan tarif terbaru Trump yang diumumkan secara tiba-tiba malam sebelumnya. Gedung Putih menaikkan tarif menjadi 35 persen untuk Kanada, mitra dagang utama AS, serta mengenakan bea 40 persen terhadap barang-barang yang diduga dialihkan jalurnya untuk menghindari tarif.
Saham sektor perbankan dan teknologi mengalami tekanan berat. JPMorgan Chase, Bank of America, dan Wells Fargo masing-masing jatuh lebih dari 2 hingga 3 persen. Di sisi lain, Amazon merosot lebih dari 8 persen setelah memberikan proyeksi laba yang di bawah ekspektasi. Apple turut turun 2,5 persen.
Tekanan ini terjadi di tengah valuasi pasar yang dianggap sudah sangat tinggi. Menurut Joseph Cusick dari Calamos Investments, "Trader mengambil untung saat musim laba mulai memudar, risiko makro meningkat, dan musim perdagangan historis mulai negatif. Posisi defensif mulai terlihat, meski secara diam-diam."
Di tengah situasi ini, perhatian pasar kembali tertuju pada The Fed. Dengan data tenaga kerja yang melemah dan sentimen bisnis menurun akibat perang dagang, ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga pada September melonjak ke 86 persen, menurut data dari CME Group.
Baca Juga
Tak Terpengaruh Tekanan Trump, The Fed Kembali Pertahankan Suku Bunga
Namun, The Fed sebelumnya memberi sinyal bahwa mereka akan menunggu dan mengevaluasi dampak tarif sebelum bertindak. Dengan tekanan dari dua sisi—pasar tenaga kerja yang melemah dan harga saham yang terkoreksi tajam—kemungkinan kompromi kebijakan moneter akan semakin besar.

