Iran Bantah Ada Perundingan dengan AS, Fokus Bahas Selat Hormuz Bersama Oman
JAKARTA, Investortrust.id – Iran menegaskan tidak sedang menggelar perundingan dengan Amerika Serikat, meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan kedua negara akan segera memulai pembicaraan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan penyelesaian sengketa nuklir. Sebaliknya, Teheran menyatakan pembahasan yang berlangsung saat ini hanya dilakukan dengan Oman untuk mencari solusi atas jalur pelayaran di salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan negosiasi yang sedang berlangsung sepenuhnya bersifat bilateral antara Iran dan Oman. Menurutnya, pembicaraan tersebut difokuskan pada penyusunan mekanisme sementara guna menjamin keselamatan pelayaran komersial di Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Baghaei menegaskan Amerika Serikat tidak terlibat dalam proses tersebut dan tidak ada agenda perundingan langsung dengan Washington.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Naik, Tiga Saham Dipimpin TINS Direkomendasikan Beli
Pernyataan Iran itu bertolak belakang dengan klaim Presiden Donald Trump yang kurang dari 24 jam sebelumnya menyebut kesepakatan mengenai Selat Hormuz sudah hampir tercapai dan perundingan dengan Iran akan dimulai pada Senin (03/08/2026). Namun, pada hari yang sama Trump kembali mengeraskan retorikanya dengan menyebut pemerintah Iran sebagai rezim yang “tidak dapat dipercaya” (duplicitous) dan menegaskan tekanan terhadap Teheran akan terus berlanjut hingga tercapai kesepakatan yang dapat diterima Washington.
Menurut Baghaei, pembukaan kembali Selat Hormuz belum dapat dilakukan selama apa yang disebut Iran sebagai “agresi Amerika Serikat” masih berlangsung. Ia menilai pembicaraan dengan Oman hanya merupakan langkah teknis untuk mengatur lalu lintas pelayaran dan tidak dapat disamakan dengan negosiasi politik maupun keamanan dengan Washington.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak global. Gangguan di kawasan tersebut sejak pecahnya konflik telah memicu lonjakan premi risiko pengiriman, mengurangi lalu lintas kapal tanker, serta meningkatkan volatilitas harga minyak dunia. Karena itu, setiap perkembangan diplomatik di kawasan menjadi perhatian utama pelaku pasar energi dan keuangan global.
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok Usai Trump Tunda Aksi Militer terhadap Iran
Di saat yang sama, ketegangan kawasan juga meluas ke Laut Merah. Data pelacakan kapal menunjukkan sedikitnya enam kapal tanker yang dioperasikan Arab Saudi mengubah rute mengitari Benua Afrika untuk menghindari ancaman blokade yang diumumkan kelompok Houthi di Selat Bab el-Mandeb. Kelompok yang didukung Iran tersebut memperingatkan akan menyerang kapal-kapal Saudi yang tetap melintasi jalur tersebut, sehingga menambah kekhawatiran terhadap keamanan rantai pasok energi global.
Perbedaan pernyataan antara Washington dan Teheran menunjukkan proses diplomasi masih jauh dari kata pasti. Meski masih terdapat ruang dialog melalui mediasi Oman, kedua pihak tetap mempertahankan posisi masing-masing. Bagi pasar global, perkembangan negosiasi mengenai Selat Hormuz akan menjadi faktor penting yang menentukan stabilitas pasokan energi, pergerakan harga minyak, serta sentimen investor dalam beberapa pekan mendatang.
