Wall Street 'Mixed' di Tengah Konflik AS-Iran, Nasdaq Anjlok, Dow Menguat Ditopang Saham Apple
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham Amerika Serikat bergerak beragam pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (25/7/2026) WIB. Pasar diwarnai kehati-hatian investor terhadap konflik Timur Tengah dan aksi ambil untung pada saham-saham semikonduktor. Indeks S&P 500 nyaris tidak bergerak, sedangkan Nasdaq mencatat pelemahan yang lebih dalam akibat tekanan pada sektor teknologi.
Indeks S&P 500 naik tipis 0,05% ke level 7.411,98. Indeks Nasdaq Composite turun 0,64% menjadi 24.975,82, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 235,60 poin atau 0,46% ke posisi 51.947,25, didorong lonjakan saham Apple sebesar 3,5%.
Baca Juga
Wall Street Tertekan Harga Minyak dan Saham Teknologi, Dow Ambles Lebih 500 Poin
Pasar sempat menguat pada awal perdagangan setelah Reuters melaporkan, mengutip tiga sumber di Pakistan, bahwa Islamabad sedang mempertimbangkan jalur baru untuk membuka perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran atas dorongan China. Namun, sumber tersebut juga menyebut hambatan menuju negosiasi masih sangat besar sehingga optimisme pasar tidak bertahan lama.
Sentimen kembali memburuk setelah Presiden Donald Trump mengatakan dirinya hampir mengambil keputusan untuk melancarkan "serangan besar-besaran" terhadap Iran. Dalam wawancara dengan Axios, Trump menyebut serangan tersebut akan lebih besar dibandingkan operasi militer sebelumnya dan menilai Iran "belum merasakan tekanan yang cukup."
Laporan The New York Times kemudian menyebut Trump menggelar rapat bersama para penasihat senior dan anggota kabinet untuk menentukan apakah Amerika Serikat akan meningkatkan eskalasi serangan terhadap Iran. Prospek eskalasi militer membuat investor enggan mempertahankan posisi berisiko menjelang akhir pekan.
Militer AS sendiri dilaporkan telah melanjutkan operasi terhadap sasaran-sasaran Iran selama dua pekan terakhir, dengan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyelesaikan malam ke-13 berturut-turut serangan terhadap target-target yang diklaim berkaitan dengan kemampuan militer Teheran.
Harga minyak sempat melemah setelah muncul kabar mengenai peluang diplomasi. Minyak mentah Brent, yang pekan ini sempat menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, ditutup turun hampir 4% menjadi US$96,78 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3% menjadi US$89,31 per barel.
Baca Juga
Kapal Tanker Saudi Diserang di Laut Merah, Minyak Brent Tembus US$ 100 per Barel
Bill Northey, direktur investasi di U.S. Bank Asset Management Group, mengatakan perkembangan di Timur Tengah berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan apabila mengganggu pasokan energi global.
“Apa yang terjadi di Timur Tengah berpotensi menciptakan dampak ekonomi nyata terkait pembatasan aliran hidrokarbon dan kemampuan penyerapan ekonomi global untuk mengatasi hal tersebut,” kata Bill Northey, dikutip CNBC.
Menurutnya, lonjakan harga minyak belum cukup untuk mengubah arah kebijakan moneter Federal Reserve pada pertemuan pekan depan. Ia memperkirakan bank sentral AS masih akan mempertahankan suku bunga, mengingat Ketua The Fed Kevin Warsh tetap berkomitmen membawa inflasi kembali ke target.
Di sektor teknologi, saham Intel anjlok hampir 8%, berbalik arah setelah sebelumnya sempat menguat meski laporan keuangan kuartal II melampaui ekspektasi analis. Pelemahan juga melanda saham Broadcom yang turun 2,7%, Advanced Micro Devices (AMD) merosot 3,3%, dan Micron Technology yang jatuh 7%. Dana yang melacak sektor semikonduktor, VanEck Semiconductor ETF (SMH), ikut terkoreksi sekitar 3%.
Northey menilai volatilitas di sektor chip lebih banyak dipicu oleh arus dana jangka pendek dibandingkan perubahan fundamental. Menurutnya, prospek pertumbuhan laba perusahaan-perusahaan semikonduktor masih tetap kuat untuk beberapa tahun mendatang, meski sentimen pasar saat ini cenderung berfluktuasi.
Secara mingguan, S&P 500 dan Nasdaq sama-sama mencatat penurunan untuk dua pekan berturut-turut, masing-masing melemah 0,6% dan 2,1%. Sementara itu, Dow Jones turun 0,4% sepanjang pekan, menandai penurunan mingguan selama tiga pekan berturut-turut. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor menghadapi kombinasi risiko geopolitik, ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed, dan tekanan terhadap saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.
