Wall Street ‘Mixed’: Nasdaq Merah, Dow Melonjak Hampir 600 Poin dan Tembus Rekor Baru
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat ditutup beragam pada perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat (3/7/2026). Laporan ketenagakerjaan Juni yang lebih lemah dari perkiraan memicu optimisme bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga.
Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 594,83 poin atau 1,14% ke rekor penutupan baru 52.900,07. Selama sesi perdagangan, indeks bahkan sempat menyentuh rekor intraday 52.903,85.
Sebaliknya, Nasdaq Composite turun 0,8% menjadi 25.832,67, sementara S&P 500 nyaris tidak berubah dan ditutup di 7.483,24.
Baca Juga
Tekanan terbesar datang dari saham-saham semikonduktor yang kembali mengalami aksi jual untuk hari kedua berturut-turut.
ETF VanEck Semiconductor (SMH) merosot 4,5%, dipimpin penurunan Teradyne sebesar 13,6% dan KLA sebesar 11,5%.
Sementara itu, Nvidia turun 1,4%, sedangkan Micron Technology melemah 5,5%.
Rotasi dari Saham AI
Chief Investment Officer Savvy Wealth, Anshul Sharma, menilai pelemahan saham chip mencerminkan rotasi investasi setelah reli panjang sektor kecerdasan buatan (AI).
Menurutnya, investor mulai mempertimbangkan kembali valuasi perusahaan AI, terutama apabila biaya komputasi menjadi perhatian utama perusahaan-perusahaan teknologi.
"Ini bisa menjadi rotasi dari sektor yang telah melonjak tajam selama beberapa bulan terakhir menuju sektor lainnya. Di saat yang sama, investor juga mulai mengevaluasi kembali valuasi perdagangan bertema AI," ujar Anshul Sharma, seperti dikutip CNBC.
Meski demikian, secara mingguan Wall Street masih membukukan kinerja solid.
Pada pekan perdagangan yang dipersingkat libur nasional AS tersebut, S&P 500 naik sekitar 1,8%, sedangkan Dow Jones dan Nasdaq masing-masing menguat hampir 2% dan 2,1%.
Katalis Data Tenaga Kerja
Katalis utama pergerakan pasar berasal dari laporan tenaga kerja Juni yang menunjukkan hanya 57.000 pekerjaan baru tercipta, jauh di bawah ekspektasi ekonom sebesar 115.000.
Baca Juga
Lowongan Kerja AS Turun Tajam, Hanya Bertambah 57.000 pada Juni
Sementara itu, tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,2%, lebih baik dibandingkan perkiraan pasar sebesar 4,3%.
Laporan tersebut mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, khususnya Treasury tenor dua tahun, karena investor semakin yakin Federal Reserve akan menunda kenaikan suku bunga.
Portfolio Manager Janus Henderson Investors, Bradford Smith, mengatakan angka ketenagakerjaan terbaru mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk kembali memperketat kebijakan moneternya.
Ia menambahkan bahwa Ketua Federal Reserve Kevin Warsh sebelumnya juga menegaskan data ketenagakerjaan baru benar-benar bermakna setelah melalui beberapa kali revisi.
Dengan inflasi harga minyak yang mulai mereda dan pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda pendinginan, Smith memperkirakan Federal Reserve setidaknya akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Perubahan ekspektasi tersebut menjadi faktor utama yang mendorong reli Dow Jones sekaligus memicu perpindahan dana investor dari saham teknologi berkapitalisasi besar menuju sektor-sektor lain yang dinilai lebih menarik dalam lingkungan suku bunga yang diperkirakan tetap stabil.

