Wall Street Mayoritas Menguat: Nasdaq dan S&P 500 Kembali Cetak Rekor, tapi Dow Anjlok Lebih dari 300 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat Kamis waktu AS atau Jumat (25/7/2025) kembali mencetak rekor, namun sentimen investor dibayangi tekanan dari laporan keuangan emiten besar yang mengecewakan dan dinamika politik yang semakin intens. Nasdaq Composite ditutup menguat 0,18 persen ke 21.057,96, dan S&P 500 naik 0,07 persen ke 6.363,35 — keduanya mencatatkan rekor penutupan tertinggi sepanjang masa. Namun, Dow Jones Industrial Average justru melemah 316,38 poin atau 0,70 persen ke 44.693,91, terpukul aksi jual di saham IBM dan Tesla.
Baca Juga
Wall Street Pesta Rekor Didorong Optimisme Kesepakatan Dagang, Dow Terbang 500 Poin
Katalis utama bagi Nasdaq dan S&P datang dari Alphabet, induk usaha Google, yang sahamnya naik 1 persen setelah perusahaan melaporkan kinerja kuartal kedua yang solid, dengan pendapatan dan laba melampaui proyeksi analis. Data ini disambut positif oleh pelaku pasar yang masih mempertanyakan seberapa jauh pengeluaran masif untuk kecerdasan buatan akan berujung pada imbal hasil nyata.
S&P 500 dan Nasdaq melesat, meski keduanya memangkas sebagian besar kenaikan menjelang akhir sesi. Di sisi lain, Dow Jones turun 316,38 poin, dengan saham IBM anjlok lebih dari 7% usai pendapatan perangkat lunaknya meleset dari proyeksi analis.
Sebelum ditutup, baik S&P 500 maupun Nasdaq sempat mencetak rekor tertinggi intraday, didorong lonjakan 1% saham Alphabet. Induk Google itu melaporkan laba dan pendapatan kuartal kedua yang melampaui ekspektasi pasar.
“Dengan besarnya pengaruh sektor teknologi dan tren kecerdasan buatan, hasil Alphabet memberi angin segar bagi pasar yang terus bertanya-tanya apakah belanja besar-besaran di AI benar-benar akan menghasilkan imbal balik yang konkret,” ujar Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird, kepada CNBC. Setidaknya, menurut dia, awal musim laporan keuangan ini menunjukkan sinyal positif.
Namun reli terbatas karena saham Tesla turun 8% setelah pendapatan segmen otomotifnya kembali mencatat penurunan selama dua kuartal berturut-turut, memicu kekhawatiran atas tren permintaan kendaraan listrik.
Di luar sentimen korporasi, pasar juga mencermati dinamika politik, khususnya meningkatnya ketegangan antara Presiden Donald Trump dan Federal Reserve. Trump mengunjungi kantor The Fed — kunjungan pertama seorang presiden AS ke bank sentral dalam hampir dua dekade — dalam upaya meningkatkan tekanan terhadap Ketua The Fed Jerome Powell untuk memangkas suku bunga.
Baca Juga
Trump akan Kunjungi Federal Reserve, Tingkatkan Tekanan terhadap Powell
Kunjungan ini terjadi di tengah upaya Trump mengalihkan sorotan publik dari kontroversi yang berkembang terkait penanganan dokumen Jeffrey Epstein oleh pemerintahannya.
Sebelumnya pada Rabu, pasar menunjukkan penguatan yang solid. S&P 500 mencatat rekor penutupan ke-12 sepanjang tahun ini, sementara Nasdaq untuk pertama kalinya ditutup di atas level 21.000. Optimisme pasar juga didorong oleh kemajuan negosiasi perdagangan antara AS dan Uni Eropa.
Laporan Financial Times mengindikasikan AS makin dekat pada kesepakatan dagang dengan Uni Eropa, yang dikonfirmasi Bloomberg berdasarkan keterangan dari para diplomat yang terlibat. Sebagai bagian dari kesepakatan itu, tarif atas impor dari Eropa akan dinaikkan menjadi 15%.
Baca Juga
Prospek Kesepakatan Suram, Uni Eropa Siapkan Langkah Agresif Balas Tarif Trump
“Kalau pemerintah merasa percaya diri untuk menaikkan tarif pada 1 Agustus terhadap negara-negara yang belum mencapai kesepakatan dagang, itu bisa jadi pemicu aksi jual,” kata Mayfield. “Pasar berharap semua ini diselesaikan dengan cara yang tidak terlalu menghambat pertumbuhan.”

