Harga Minyak Brent Tembus US$ 94, Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia kembali melonjak setelah Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Teheran tidak menunjukkan keseriusan dalam upaya diplomatik mengakhiri konflik, sementara Presiden Donald Trump kembali melontarkan ancaman serangan terhadap infrastruktur vital Iran.
Baca Juga
Konflik AS-Iran dan Houthi Picu Kekhawatiran Pasokan, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi 5 Pekan
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, melonjak lebih dari 3% dan ditutup pada US$94,07 per barel pada perdagangan di New York, Rabu (22/7/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 3% menjadi US$86,83 per barel.
Sepanjang bulan ini, harga minyak telah melonjak lebih dari 20% seiring meningkatnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Berbicara kepada wartawan di sela pertemuan para Menteri Luar Negeri ASEAN di Filipina, Rubio mengatakan Washington tetap membuka pintu bagi penyelesaian diplomatik. "Amerika Serikat ingin mencapai penyelesaian diplomatik dan kesepakatan dengan Iran apabila memungkinkan. Namun, Iran tampaknya tidak serius untuk mencapainya," ujar Rubio.
Menurut Rubio, Iran telah melanggar nota kesepahaman yang disepakati bulan lalu hanya dalam waktu dua pekan. Ia juga menegaskan bahwa militer Amerika Serikat akan terus menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
"Kami akan terus melindungi jalur pelayaran dan berharap negara-negara lain ikut bergabung dalam upaya tersebut. Presiden memiliki banyak pilihan apabila Iran tetap tidak kooperatif," katanya.
Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran telah mengumumkan embargo terhadap kapal-kapal yang memuat atau membongkar barang di pelabuhan Arab Saudi. Kebijakan tersebut meningkatkan risiko terhadap ekspor minyak Arab Saudi yang sebagian dialihkan ke Laut Merah akibat terganggunya pengiriman melalui Selat Hormuz.
Presiden Trump juga meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui pernyataan di media sosial Truth Social. Ia menegaskan bahwa setiap serangan Iran terhadap kapal di Selat Hormuz akan dibalas dengan penghancuran satu jembatan atau pembangkit listrik di Iran, termasuk yang berada di sekitar ibu kota Teheran.
Baca Juga
Selat Hormuz Kian Mencekam, Dua Tanker Dilaporkan Meledak Saat Melintas
Sementara itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah melaksanakan serangan udara untuk malam ke-11 secara berturut-turut terhadap berbagai target di Iran. Sasaran serangan meliputi pusat operasi militer, kemampuan maritim, hanggar pesawat, fasilitas penyimpanan drone, serta infrastruktur logistik militer.
Analis TD Securities Ryan McKay mengatakan harga minyak di kisaran US$90 hingga US$100 per barel kini didukung oleh fundamental pasar yang semakin ketat akibat melambatnya ekspor melalui Selat Hormuz dan meningkatnya risiko gangguan pengiriman di Laut Merah.
Menurutnya, eskalasi terbaru telah mempercepat penyesuaian harga minyak sekaligus membuka peluang kenaikan yang lebih besar apabila konflik terus berlanjut.
