AS Serang Pulau Larak di Selat Hormuz, Minyak Brent Kembali Tembus US$ 90
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga minyak dunia kembali melonjak setelah ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkat di sekitar Selat Hormuz. Pasar mencemaskan kemungkinan gangguan terhadap salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia setelah militer AS menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak.
Baca Juga
Qatar–Iran Bahas Koridor Hormuz, AS Siapkan Pengiriman Kapal Induk
Serangan tersebut dilakukan pada Minggu, 30 Agustus 2026, dan menjadi aksi militer langsung AS terhadap Iran yang pertama sejak akhir Juli. Menurut pejabat AS, seperti dilaporkan Reuters, pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) sedang mempersiapkan peluncur yang dapat digunakan untuk menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz.
AS menyatakan serangan itu bertujuan mencegah Iran menempatkan ranjau yang dapat membahayakan kapal komersial di jalur pelayaran internasional. Washington sebelumnya mengklaim telah menyelesaikan operasi pembersihan ranjau di jalur utama Selat Hormuz.
Iran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal balistik ke dua pangkalan militer AS di Yordania. Sebagian besar rudal dilaporkan berhasil dicegat, sementara IRGC menyatakan serangan tersebut merupakan tindakan balasan atas serangan AS di Pulau Larak, sebuah pulau kecil di Selat Hormuz.
Financial Times melaporkan bahwa serangan tersebut merupakan bentrokan militer langsung pertama antara AS dan Iran dalam lebih dari satu bulan. Eskalasi terbaru ini sekaligus memperbesar risiko konflik kembali meluas setelah Washington sebelumnya lebih mengandalkan tekanan ekonomi dan sanksi terhadap Teheran.
Kembali Tembus US$90 per Barel
Pasar minyak langsung merespons ketegangan baru di Timur Tengah.
Reuters melaporkan harga Brent melonjak US$2,22 atau 2,52% menjadi US$90,32 per barel pada perdagangan Senin. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$2,01 atau 2,41% menjadi US$85,41 per barel.
Kenaikan tersebut mencerminkan kembali munculnya ‘geopolitical risk premium’ dalam harga minyak. Investor mengkhawatirkan bahwa eskalasi militer di sekitar Selat Hormuz dapat semakin membatasi pergerakan kapal tanker dan menghambat aliran minyak dari kawasan Teluk.
Sebelumnya, harga minyak juga telah berada di sekitar level tersebut akibat mandeknya perundingan AS-Iran dan anjloknya lalu lintas kapal di Hormuz. Pada 17 Agustus, Brent bahkan ditutup naik US$2,35 atau 2,65% menjadi US$90,87 per barel, sedangkan WTI naik 2,55% menjadi US$84,50.
Dengan serangan terbaru di Pulau Larak, pasar kembali memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan yang lebih panjang.
Baca Juga
Lalu Lintas Kapal Tanker Makin Sepi
Dampak paling langsung terlihat pada aktivitas pelayaran.
Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan jumlah kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi hanya sekitar lima kapal per hari pada akhir pekan. Business Times melaporkan jumlah tersebut turun tajam ketika perusahaan pelayaran semakin berhati-hati setelah serangkaian serangan terhadap kapal.
Sebelumnya, Reuters mencatat hanya lima kapal komoditas yang melintasi Hormuz pada salah satu hari akhir pekan pertengahan Agustus, dibandingkan 31 kapal pada akhir pekan sebelumnya.
Pada 21 Agustus, hanya tujuh kapal komoditas tercatat melewati selat tersebut. Angka itu kira-kira separuh dari jumlah kapal pada hari sebelumnya dan jauh di bawah tingkat normal sebelum konflik.
Kondisi ini sangat signifikan karena sebelum perang pecah, Selat Hormuz menjadi jalur bagi hampir seperlima pengiriman minyak mentah dan LNG dunia.
Dengan lalu lintas yang bertahan di level satu digit, kemampuan eksportir Teluk untuk mengirim minyak dan produk energi ke pasar Asia menjadi semakin terbatas.
Risiko terhadap kapal komersial telah meningkat sejak beberapa pekan terakhir.
Pada pertengahan Agustus, Uni Emirat Arab menuduh Iran menyerang dua kapal tanker yang dioperasikan perusahaan minyak milik negara tersebut ketika melintas di Selat Hormuz. Abu Dhabi menyebut serangan menggunakan drone itu sebagai tindakan pembajakan, seperti dilansir AP News.
Serangkaian insiden tersebut membuat operator kapal semakin berhati-hati. Sebagian kapal memilih menunda perjalanan, sementara perusahaan pelayaran lainnya menghindari jalur tersebut.
Baca Juga
Reuters sebelumnya melaporkan dua perusahaan pelayaran milik China menghentikan pengiriman tanker minyak melalui sejumlah titik rawan di Timur Tengah dan memilih menempatkan kapal mereka di luar kawasan Teluk untuk menghindari risiko konflik.
Iran juga meningkatkan tekanan terhadap kapal yang melewati Hormuz. Pada 24 Agustus, Teheran mengatakan telah memasukkan 45 kapal tanker ke dalam daftar hitam karena dianggap melanggar aturan Iran untuk melintasi selat tersebut. Iran mengancam akan menjatuhkan denda atau menyita kapal yang melanggar ketentuan.
Upaya Membuka Kembali Hormuz
Di tengah eskalasi militer, masih terdapat jalur diplomasi untuk mengurangi tekanan terhadap perdagangan energi.
Iran dan Oman sebelumnya membahas pengelolaan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Menurut AP, kedua negara membicarakan koridor pelayaran sementara serta operasi pembersihan ranjau.
Rancangan koridor tersebut memungkinkan kapal masuk melalui perairan Iran dan sebagian kapal keluar melalui perairan Iran dan Oman.
Namun, Reuters melaporkan Iran menetapkan sejumlah syarat untuk membuka kembali jalur tersebut, termasuk berakhirnya perang regional, pencabutan blokade terhadap pelabuhan Iran, kompensasi, serta penghapusan sanksi ekonomi. Artinya, pemulihan lalu lintas kapal secara normal masih menghadapi hambatan besar.
