AS Serang Iran Selama Tujuh Malam
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran memasuki babak yang semakin serius. Komando Pusat Militer Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) mengonfirmasi telah melancarkan serangan udara untuk malam ketujuh berturut-turut terhadap sejumlah sasaran militer Iran pada Jumat (17/07/2026) waktu setempat atau Sabtu (18/07/2026) WIB. Eskalasi ini memicu serangan balasan Iran terhadap aset dan sekutu AS di kawasan Teluk, meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya perang di Timur Tengah dan gangguan terhadap pasokan energi global.
Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebut operasi terbaru dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump dengan mengerahkan pesawat tempur, drone, kapal perang, dan senjata presisi. Sasaran serangan meliputi fasilitas pengawasan, infrastruktur logistik militer, gudang senjata bawah tanah, serta kemampuan maritim Iran. Menurut militer AS, operasi tersebut bertujuan terus melemahkan kemampuan militer Teheran.
Baca Juga
Konflik AS-Iran Meluas, Minyak Brent Tembus US$ 88 per Barel
Di sisi lain, Iran mengeklaim telah membalas dengan menyerang aset militer AS dan negara-negara sekutunya di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Otoritas Kuwait melaporkan rudal dan drone Iran menghantam fasilitas pembangkit listrik, instalasi desalinasi air, serta fasilitas minyak sehingga memaksa penangguhan sementara operasional Bandara Internasional Kuwait. Pemerintah Qatar juga sebelumnya melaporkan adanya korban luka akibat serpihan rudal yang berhasil dicegat sistem pertahanan udara.
Kementerian Kesehatan Iran pada Sabtu (18/07/2026) menyatakan bahwa serangan AS sejak 6 Juli 2026 telah menewaskan sedikitnya 50 orang dan melukai lebih dari 500 orang. Selain korban jiwa, serangan terbaru dilaporkan merusak infrastruktur sipil, termasuk jaringan air bersih yang menyebabkan sekitar 10.000 penduduk di 20 desa di Iran selatan kehilangan pasokan air. Iran juga menuduh AS menyerang jembatan, pembangkit listrik, bandara, dan fasilitas transportasi yang dikategorikan sebagai infrastruktur sipil.
Sebagai respons diplomatik, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengumumkan bahwa Teheran menangguhkan komitmennya terhadap nota kesepahaman (MoU) dengan Amerika Serikat. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan Washington bahwa selama tidak ada mekanisme internasional yang menghentikan serangan AS, Iran akan terus melakukan pembalasan sesuai prinsip “serangan dibalas dengan serangan”.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Terseret Saham Chip dan Eskalasi Perang AS-Iran, Dow Ambles 400 Poin
Konflik yang semakin intens juga memperburuk situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Laporan sejumlah media internasional menyebut lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut kembali terganggu setelah meningkatnya serangan terhadap kapal dan infrastruktur maritim. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak dunia serta meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global dan inflasi internasional.
Pengamat menilai, memasuki pekan kedua operasi militer tanpa tanda-tanda deeskalasi, konflik AS-Iran kini telah berkembang dari serangan terbatas menjadi konfrontasi regional yang melibatkan negara-negara Teluk. Apabila eskalasi terus berlanjut, risiko terhadap perdagangan global, pasar energi, serta stabilitas ekonomi dunia diperkirakan akan semakin besar. (Reuters/AP/Al Jazeera/Euronews/The Independent)
