Indonesia Perlu Menyuarakan 4 Isu Strategis di WEF
JAKARTA, investortrust.id - World Economic Forum yang digelar di Davos, Swiss, 15-19 Januari 2024, diharapkan dapat membawa dampak positif terhadap perekonomian global. Ekonom berharap delegasi Indonesia menyuarakan empat isu strategis, yang bukan saja penting bagi Indonesia, tapi juga dunia.
Harapan positif tersebut diungkapkan ekonom PT Bank Pertama Tbk, Josua Pardede kepada investortrust, Senin (15/01/2024).
"Kami menilai ada beberapa hal yang dapat dibahas oleh delegasi Indonesia dalam WEF ini. Beberapa hal tersebut antara lain – transisi energi hijau, pemanfaatan artificial intelligence (AI) dengan bijak – termasuk penguatan hak cipta dan batasannya dalam AI, penciptaan lapangan pekerjaan yang layak, serta perdamaian dunia," ungkap Josua.
Menurut Josua, beberapa isu tersebut merupakan sesuatu yang penting bukan hanya bagi Indonesia, namun juga bagi negara lainnya.
Ketika disinggung ihwal melemahnya ekonomi global yang melanda saat ini, Josua menyebut krisis pangan dan kesehatan menjadi salah satu faktor penyebab.
"Menurut kami krisis pangan dan kesehatan memiliki peran yang signifikan dalam memicu krisis ekonomi dunia – seperti yang terjadi pada saat pandemi Covid lalu, dimana krisis kesehatan mampu membuat perekonomian global terhenti," tegasnya.
Menjawab permasalahan tersebut, ekonom Bang Permata tersebut menilai kolaborasi serta keterbukaan antar negara, termasuk antara negara maju dan negara berkembang, dapat menjadi solusi untuk menbatasi ketimpangan teknologi antara negara maju dan negara berkembang.
Tidak hanya soal krisis pangan dan kesehatan, ia juga turut menyoroti isu perubahan iklim akibat pemanasan global. Ia berharap, WEF dapat mengambil peran untuk mengatasi permasalahan tersebut.
"Saat ini negara-negara dunia sudah berkomitmen untuk menurunkan target emisinya. Salah satu peran yang dapat dilakukan oleh WEF adalah melakukan monitoring terhadap target tersebut sekaligus membantu menciptakan platform kolaborasi bagi negara-negara dunia untuk saling belajar sekaligus memfasilitasi transisi energi, terutama di negara berkembang, menuju energi baru terbarukan," pungkas Josua.

