Didik Rachbini: Kampus Menyuarakan Demokrasi dari Hati Nurani
JAKARTA, investortrust.id - Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini menilai, suara kampus yang menyerukan keprihatinan mengenai demokrasi dan hukum di Indonesia adalah suara hati nurani. Menurut dia, kampus adalah lembaga yang netral.
"Suara kampus dalam pandangan saya adalah suara hati nurani, suara yang jernih. Kampus sebagai lembaga dan juga harus diproses hukum sebagai lembaga yang netral, sebagai suara mayoritas moral politik," ujar Didik dalam diskusi bertajuk “Masalah Moral Politik dan Krisis Konstitusi: Suara dari Kampus” di Twitter X Space, Minggu (11/02/2024).
Ia menegaskan, warga kampus tetap boleh menentukan pilihan partainya. Tetapi, kampus tetap memosisikan diri sebagai lembaga yang netral untuk menyuarakan hati nuraninya.
"Jadi, kalau ada yang menuduh kampus itu partisan, maka mereka tidak mengerti posisi kampus," ujarnya.
100 Surat Keprihatinan
Lebih lanjut, Didik menyoroti kondisi yang terjadi saat ini. Banyak kampus menyuarakan keprihatinannya mengenai demokrasi dan hukum Indonesia yang dirobek-robek.
"Nah, sekarang kampus bersuara sangat lantang, di mulai dari UGM (Universitas Gadjah Mada) suaranya keras sekali, tetapi tiga minggu sebelumnya Paramadina sudah menyuarakan keprihatinannya yang sudah dimuat di berbagai media. Jadi, terus bergulir, bahkan hampir 100 sekarang surat keprihatinan kampus ini. Jadi mengapa? Karena demokrasi kita dirusak, hukum dirobek-robek," ujarnya.
Didik menyampaikan, orang kampus merupakan orang yang terdidik. Suara mereka perlu didengar.
"Kalau seorang figur sudah masuk ke dalam politik, dia akan dipengaruhi oleh mobilitas persaingan kekuasaan, dan kekuasaan itu dalam behaviour-nya dekat kepada banditisme, kemudian penyimpangan, penyelewengan, sehingga mutlak harus ada checks and balances. Checks and balances ini mutlak. Suara kampus diperlukan untuk mengingatkan," tandasnya.

