Wall Street Menguat Didorong Saham Chip dan Turunnya Harga Minyak
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat (10/7/2026) WIB. Indeks Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan kenaikan 1,30% menjadi 26.206,89. Indeks S&P 500 naik 0,81% ke 7.543,64, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 139,02 poin atau 0,27% menjadi 52.487,41.
Penguatan Wall Street didorong reli saham sektor semikonduktor dan penurunan harga minyak, meskipun ketegangan geopolitik antara AS dan Iran kembali meningkat.
Baca Juga
Wall Street Tertekan Setelah Trump Ancam Serang Iran, Dow Ambles Hampir 600 Poin
Sektor semikonduktor menjadi pendorong utama pasar. ETF VanEck Semiconductor (SMH) naik 2,5%, dipimpin lonjakan saham Micron Technology sebesar 4,5%, sementara saham Sandisk melesat 7,6%.
Sentimen positif juga terlihat di pasar global. Indeks Stoxx 600 Eropa naik 0,8%. Di Asia, indeks Nikkei Jepang menguat 1,4%, Kospi Korea Selatan naik 0,62%, dan CSI 300 China melonjak 2,5%. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong turun 0,7%.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian investor. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan Washington kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk hari kedua berturut-turut, menyusul serangan Teheran terhadap kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz yang menyebabkan perlambatan lalu lintas pelayaran di jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Baca Juga
Trump Ancam Bombardir Iran, Harga Minyak Brent Melonjak Dekati US$ 80
Namun, harga minyak justru bergerak turun setelah Presiden Donald Trump mengatakan Iran telah menghubungi AS untuk mencapai kesepakatan. Di saat yang sama, Qatar dan Pakistan dilaporkan tengah berupaya mempertemukan kedua negara dalam proses negosiasi.
Pernyataan tersebut menandai perubahan sikap Trump. Sehari sebelumnya ia mengatakan tidak lagi tertarik untuk berunding dengan Iran dan menyatakan gencatan senjata telah berakhir setelah serangkaian serangan baru di Timur Tengah.
Chief Investment Officer Verdence, Megan Horneman, mengatakan konflik tersebut menciptakan ketidakpastian yang tinggi bagi pasar. Menurutnya, situasi bisa mereda dengan cepat, tetapi juga dapat berkembang menjadi konflik yang jauh lebih besar sehingga investor perlu menjaga diversifikasi portofolio secara global.
“Sangat tidak pasti. Ini bisa berakhir besok. Ini bisa berubah menjadi peristiwa yang lebih besar. Kita tidak tahu,” ujar Horneman, seperti dikutip CNBC.
Horneman menambahkan volatilitas pasar kemungkinan masih akan berlanjut karena investor mulai terbiasa dengan pola eskalasi dan deeskalasi konflik yang berulang. Ia juga menilai pasar saham saat ini belum sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga setidaknya satu kali pada paruh kedua 2026.
Menurutnya, tekanan inflasi tidak hanya berasal dari harga minyak, tetapi juga dari pertumbuhan ekonomi yang masih kuat, belanja konsumen yang tetap tinggi, serta besarnya investasi di bidang kecerdasan buatan (AI). Meski AI berpotensi menekan inflasi dalam jangka panjang, dalam waktu dekat investasi besar-besaran tersebut justru masih memberikan tekanan terhadap inflasi.
