Wall Street Menguat Didorong Rebound Saham Chip dan Melandainya Inflasi AS
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (15/7/2026) WIB. Data inflasi AS Juni yang lebih rendah dari perkiraan meningkatkan optimisme investor, sementara saham-saham semikonduktor bangkit dari aksi jual sehari sebelumnya.
Indeks S&P 500 naik 0,38% menjadi 7.543,59, sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,9% ke level 26.107,01. Dow Jones Industrial Average hanya bertambah 9,63 poin atau 0,02% menjadi 52.508,27.
Baca Juga
Kenaikan Dow tertahan oleh anjloknya saham International Business Machines (IBM) yang merosot 25% setelah perusahaan memperingatkan laba kuartal kedua akan berada di bawah ekspektasi akibat melemahnya permintaan pada bisnis perangkat lunak dan infrastruktur.
Saham-saham semikonduktor menjadi motor utama penguatan pasar. ETF VanEck Semiconductor (SMH) melonjak 2,5%, sementara Applied Materials dan Teradyne masing-masing naik lebih dari 3%. Lam Research dan Micron Technology melesat sekitar 5%, sedangkan STMicroelectronics menguat lebih dari 2%.
Sentimen positif datang setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) turun 0,4% secara bulanan pada Juni sehingga inflasi tahunan melambat menjadi 3,5%.
Angka tersebut lebih baik dibandingkan perkiraan ekonom yang memperkirakan penurunan bulanan 0,2% dan inflasi tahunan sebesar 3,8%.
Data tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Menurut CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi 17% dari 42% sehari sebelumnya. Meski demikian, investor masih memperkirakan peluang sekitar 60% bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September sebesar 25 hingga 50 basis poin.
Baca Juga
Inflasi dan Perang Iran Bikin Pejabat The Fed Terpecah soal Suku Bunga
Chief Investment Officer Regan Capital Skyler Weinand mengatakan data inflasi menunjukkan tekanan harga akibat perang Iran mulai mereda, meskipun kondisi tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara.
“Data CPI yang lebih lemah dari perkiraan pada hari Selasa menunjukkan lonjakan inflasi yang dipicu oleh perang Iran mulai mereda, tetapi ini mungkin hanya bantuan sementara karena ketegangan telah meningkat dalam beberapa hari terakhir,” kata Skyler Weinand, seperti dikutip CNBC.
Menurut dia, meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah membuat risiko inflasi belum sepenuhnya hilang.
Ia juga mengingatkan bahwa Ketua The Fed Kevin Warsh selama masa kepemimpinannya terus menyampaikan pesan yang bernada ketat (hawkish) mengenai kebijakan moneter.
Warsh, dalam kesaksiannya di hadapan Kongres pada Selasa, menegaskan bahwa lonjakan inflasi selama lima tahun terakhir akan menjadi masa lalu apabila kebijakan moneter dijalankan secara tepat.
Di pasar komoditas, harga minyak memangkas sebagian kenaikan setelah Trump membatalkan rencana mengenakan biaya 20% terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Namun, minyak tetap ditutup lebih tinggi karena pasar merespons serangan terbaru Amerika Serikat terhadap Iran dan pemberlakuan kembali blokade maritim.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang sebelumnya sempat menembus US$80 per barel, ditutup naik 1,5% ke atas US$79 per barel. Minyak mentah Brent menguat 1,7% ke atas US$84 per barel.
Di sektor perbankan, saham Goldman Sachs melonjak 9% setelah membukukan kinerja laba kuartal II yang melampaui ekspektasi analis.
Saham JPMorgan Chase dan Bank of America juga menguat masing-masing lebih dari 2% dan hampir 2% setelah merilis laporan keuangan kuartalan yang mendapat respons positif dari investor.
