Wall Street Tertekan Yield Obligasi dan Harga Minyak, Saham Chip Rontok
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Selasa waktu AS atau Rabu (19/8/2026) WIB. Indeks S&P 500 mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut. Investor dibayangi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah global serta kekhawatiran bahwa harga minyak yang tinggi akan memperpanjang tekanan inflasi.
Indeks S&P 500 turun 0,69% menjadi 7.691,76. Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam, yakni 1,33%, menjadi 26.289,71. Sementara Dow Jones Industrial Average turun 116,38 poin atau 0,22% dan ditutup pada 53.343,40.
Baca Juga
Wall Street Merah di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran, Dow Anjlok Hampir 300 Poin
Tekanan terbesar terlihat pada saham-saham semikonduktor. Western Digital turun 7%, sementara Sandisk merosot 9%. Marvell Technology kehilangan hampir 8% dan Seagate Technology anjlok lebih dari 9%.
Pergerakan saham terjadi ketika yield Treasury AS 30 tahun kembali mencapai level tertinggi dalam 19 tahun. Kenaikan yield juga terjadi di sejumlah pasar obligasi utama dunia.
Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam tiga dekade. Di Eropa, yield obligasi pemerintah Jerman tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2011, sedangkan yield obligasi pemerintah Prancis tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2008.
Kenaikan yield obligasi menjadi perhatian Wall Street karena dapat meningkatkan biaya pendanaan perusahaan dan mengurangi daya tarik relatif saham. Kondisi tersebut semakin sensitif bagi saham-saham teknologi yang valuasinya banyak bergantung pada ekspektasi pertumbuhan dan arus kas jangka panjang.
Baca Juga
Selain obligasi, harga minyak juga menjadi sumber tekanan. Harga minyak mentah AS naik 0,5% pada Selasa menjadi US$84,94 per barel setelah sebelumnya menguat pada Senin. Kenaikan tersebut terjadi di tengah kebuntuan negosiasi antara AS dan Iran.
Investor semakin khawatir bahwa harga minyak akan bertahan tinggi apabila konflik di Timur Tengah berlanjut dan gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz berlangsung lebih lama.
“Pasar mengabaikan tantangan di sisi yield obligasi dan lebih memilih berfokus pada kinerja laba yang solid serta perkembangan kecerdasan buatan,” kata Bill Fitzpatrick, manajer portofolio di Logan Capital Management, dikutip CNBC.
Namun, menurut Fitzpatrick, kondisi tersebut pada akhirnya dapat membuat pasar rentan terhadap aksi jual.
Prospek penyelesaian konflik Timur Tengah juga semakin suram. Presiden Donald Trump mengatakan melalui Truth Social pada Selasa bahwa AS saat ini tidak melakukan pembicaraan atau percakapan dengan Iran dan tidak ada pembicaraan yang dijadwalkan.
Trump juga mengatakan blokade angkatan laut AS terhadap Iran tetap diberlakukan sepenuhnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah pada Senin Trump mengatakan AS akan menyerang Oman apabila negara tersebut menghalangi upaya Washington bernegosiasi dengan Iran.
Bagi pasar saham, kombinasi kenaikan yield obligasi, harga minyak yang tinggi dan ketidakpastian geopolitik menciptakan lingkungan investasi yang semakin menantang.
Investor kini menghadapi risiko bahwa tekanan inflasi kembali meningkat, sementara biaya pembiayaan pemerintah dan korporasi tetap tinggi. Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang penguatan Wall Street meskipun kinerja laba perusahaan dan investasi di sektor kecerdasan buatan masih menjadi penopang pasar.

