Hormuz Memanas, AS Cabut Izin Penjualan Minyak Iran
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Pemerintah AS mencabut otorisasi penjualan minyak Iran setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz sepanjang pekan ini. Keputusan tersebut diumumkan Departemen Keuangan AS pada Selasa (7/7/2026), sebagai respons atas meningkatnya eskalasi keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut.
Baca Juga
Iran Kembali Serang Kapal Tanker, Ancaman di Selat Hormuz Meningkat
Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada CNBC bahwa Iran hanya akan memperoleh manfaat dari kesepakatan yang telah dicapai apabila menunjukkan itikad baik.
"Iran hanya akan memperoleh manfaat jika menunjukkan perilaku yang baik. Tindakan Iran di Selat Hormuz sama sekali tidak dapat diterima oleh Amerika Serikat dan akan ada konsekuensinya," ujar pejabat tersebut.
Keputusan Washington diambil setelah sedikitnya tiga kapal tanker menjadi sasaran serangan di atau sekitar Selat Hormuz pada Selasa. Menurut Joint Maritime Information Center (JMIC), kapal yang diserang terdiri atas sebuah tanker gas alam cair (LNG), sebuah supertanker minyak, serta satu kapal tanker lainnya yang belum diidentifikasi.
JMIC, yang dipimpin Angkatan Laut AS dan bertugas memberikan pembaruan keamanan kepada kapal-kapal niaga di Timur Tengah, juga meningkatkan status ancaman pelayaran di Selat Hormuz menjadi "severe" (parah). Pusat tersebut memperingatkan bahwa aksi permusuhan dari Iran sangat mungkin kembali terjadi.
Baca Juga
Harga Minyak Dunia Melonjak Setelah Serangan Tanker di Hormuz
Sebelumnya, Departemen Keuangan AS memberikan pengecualian sanksi terhadap penjualan minyak Iran hingga 21 Agustus sebagai bagian dari kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Pengecualian tersebut memungkinkan impor minyak mentah Iran ke Amerika Serikat serta pembayaran kepada Teheran menggunakan dolar AS. Kebijakan itu sempat menuai kritik karena dianggap sebagai konsesi besar kepada Republik Islam Iran.
Dalam perjanjian tersebut, Iran berjanji menjamin keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz. Namun belakangan Teheran mengharuskan kapal-kapal menggunakan jalur utara yang berada di bawah pengawasannya dan menyerang kapal yang memilih koridor selatan yang diamankan Angkatan Laut AS di sepanjang pantai Oman.
Analis intelijen maritim senior Windward, Michelle Wiese Bockmann, menilai serangan tersebut merupakan bagian dari strategi Iran untuk mengganggu jalur pelayaran yang didukung Amerika Serikat.
Menurutnya, Iran berupaya mengirimkan pesan kepada negara-negara produsen minyak Teluk agar menyalurkan ekspor mereka melalui koridor utara yang dikendalikan Teheran.
Sementara itu, jalur pelayaran tradisional di bagian tengah Selat Hormuz masih dihindari banyak kapal karena kawasan tersebut sebelumnya telah dipasangi ranjau oleh Iran.
