Bagikan

Gencatan Senjata AS-Iran Kembali Terancam, Selat Hormuz Memanas, AS-Iran Saling Tembak

Poin Penting

Hubungan AS-Iran kembali memanas akibat saling serang antara kapal perang AS dan fasilitas militer serta tanker Iran di jalur energi strategis.
Ketegangan militer ini memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga mencapai US$101 per barel karena kekhawatiran gangguan pasokan.
Meski terjadi baku tembak, kedua negara masih mengupayakan jalur diplomasi melalui mediasi Pakistan untuk mencapai kesepakatan damai permanen.

JAKARTA, Investortrust.id — Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali berada di ujung tanduk setelah kedua negara saling melancarkan serangan di sekitar Selat Hormuz, jalur energi paling strategis di dunia. Ketegangan terbaru ini memunculkan kembali kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan minyak dunia, lonjakan harga energi, serta risiko perang terbuka yang lebih luas di Timur Tengah.

Laporan perkembangan terbaru tersebut disampaikan harian Inggris, The Guardian dalam laporan bertajuk “US-Iran ceasefire under threat after exchange of strikes in Strait of Hormuz” yang ditulis Nadeem Badshah dan Lauren Gambino, dipublikasikan Jumat (08/05/2026) dini hari waktu Inggris atau sekitar pukul 06.38 WIB.

Menurut laporan tersebut, Iran menuduh militer AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker minyak Iran di perairan pesisir dan kapal kedua di dekat Pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA). Serangan udara AS juga dilaporkan menghantam wilayah sipil di Bandar Khamir, Sirik, dan Pulau Qeshm di Iran selatan. Militer Iran menyatakan pertahanan udara mereka juga diaktifkan di wilayah Teheran barat.

Sebaliknya, militer AS menyebut pasukannya lebih dulu mendapat serangan dari Iran di Selat Hormuz berupa rudal, drone, dan serangan kapal cepat terhadap tiga kapal perusak Angkatan Laut AS yang sedang melintas di jalur tersebut. Komando Pusat Militer AS atau CENTCOM menyatakan pihaknya kemudian merespons dengan menghancurkan ancaman yang masuk dan menyerang fasilitas militer Iran yang disebut bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan AS.

Baca Juga

Pulihkan Pasokan Energi Global, China Desak Pembukaan Selat Hormuz

“CENTCOM does not seek escalation but remains positioned and ready to protect American forces,” demikian pernyataan CENTCOM. Menurut CENTCOM, sasaran serangan AS meliputi lokasi peluncuran rudal dan drone, pusat komando dan kendali, serta fasilitas intelijen dan pengawasan militer Iran.

Iran membantah narasi tersebut dan menuduh AS sebagai pihak yang lebih dahulu melanggar gencatan senjata. Juru bicara militer Iran menyebut militer AS telah melakukan “aksi agresif, terorisme, dan pembajakan” dengan menyerang kapal tanker Iran dan wilayah sipil di sekitar Selat Hormuz.

Blokade di Selat Hormuz oleh Iran (garis tipis) dan blokade yang dilakukan oleh militer AS di arah masuk Selat Hormuz dari Samudera Hindia (garis tebal). Foto: @IraninHyderabad

Iran juga mengklaim telah membalas dengan menyerang kapal militer AS dan “menimbulkan kerusakan signifikan”, meskipun klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Ketegangan terbaru ini menjadi ujian paling serius terhadap gencatan senjata yang selama sebulan terakhir relatif bertahan. Namun Presiden AS Donald Trump tetap bersikeras bahwa gencatan senjata masih berlaku.

Dalam wawancara dengan ABC News dan pernyataan kepada wartawan di Washington DC, Trump menyebut serangan terhadap target Iran hanya sebagai “love tap”. “They trifled with us today. We blew them away,” kata Trump.

Ia juga mengatakan peluang tercapainya kesepakatan damai permanen masih terbuka. “Might not happen, but it could happen any day,” ujar Trump. Trump bahkan mengklaim Iran lebih membutuhkan kesepakatan dibanding AS. “I believe they want the deal more than I do,” katanya.

Sementara itu, televisi pemerintah Iran, Press TV, melaporkan bahwa situasi di pulau-pulau Iran dan kota-kota pesisir di sekitar Selat Hormuz telah kembali normal beberapa jam setelah baku tembak terjadi. Uni Emirat Arab juga mengonfirmasi telah mencegat rudal dan drone Iran beberapa jam setelah AS menyatakan berhasil menggagalkan serangan terhadap kapal perusak USS Truxtun, USS Rafael Peralta, dan USS Mason.

Ketegangan di Selat Hormuz langsung memicu gejolak pasar energi global. Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak hingga sekitar US$101 per barel setelah kabar serangan tersebut muncul. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Karena itu, setiap eskalasi militer di kawasan tersebut hampir selalu langsung memengaruhi harga energi global dan pasar keuangan internasional.

Dalam beberapa hari terakhir, AS terus menekan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri blokade de facto terhadap kapal-kapal tanker. Awal pekan ini, Trump meluncurkan operasi pengawalan tanker bernama “Project Freedom” untuk membantu kapal-kapal komersial keluar masuk Selat Hormuz.

Militer AS sebelumnya mengklaim telah menghancurkan sejumlah kapal cepat Iran, rudal jelajah, dan drone selama operasi tersebut. Di sisi lain, Iran terus menunjukkan bahwa mereka masih memiliki pengaruh dominan di kawasan Selat Hormuz. Di Teheran bahkan muncul billboard pemerintah bertuliskan “Forever in Iran’s Hand” yang menggambarkan Selat Hormuz tetap berada dalam kendali Iran.

Sebuah foto tangkapan layar dengan tanggal yang tidak diketahui memperlihatkan dua speedboat dari Korps Penjaga Revolusi Islam Iran (IRGC) beraksi di perairan Selat Hormuz Iran. Foto: US Navy

Di tengah memanasnya kembali situasi militer, diplomasi sebenarnya masih terus berjalan. Sebelum bentrokan terbaru terjadi, muncul laporan bahwa Washington dan Teheran semakin dekat menuju kesepakatan sementara untuk menghentikan perang. Sebuah memorandum satu halaman disebut telah dipertukarkan melalui mediasi Pakistan.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahkan sempat menyatakan optimisme bahwa gencatan senjata dapat berkembang menjadi perdamaian jangka panjang. “I firmly believe that this ceasefire will turn into a long-term ceasefire,” kata Sharif.

Namun sejumlah pejabat senior Iran dilaporkan masih menolak memberikan konsesi besar kepada AS. Sebagian elite Iran disebut lebih memilih memperpanjang negosiasi hingga mendekati pemilu sela AS November mendatang dengan harapan posisi tawar Iran akan meningkat.

Baca Juga

AS Tetap Blokade Selat Hormuz

Para diplomat regional juga mengingatkan Iran agar tidak “overplay its hand” karena momentum saat ini sebenarnya dapat menjadi peluang untuk mengakhiri perang sambil tetap mengklaim kemenangan politik domestik. Selain di Selat Hormuz, ketegangan kawasan juga masih berlanjut di Lebanon selatan.

Israel terus melancarkan serangan ke wilayah Lebanon dan dilaporkan menewaskan sedikitnya 11 orang, termasuk anak-anak, di tiga kota di Distrik Nabatieh, yakni Doueir, Harouf, dan Habboush. Menurut pejabat Departemen Luar Negeri AS, putaran baru pembicaraan Israel-Lebanon dijadwalkan berlangsung pada 14-15 Mei 2026. Pertemuan itu akan menjadi dialog ketiga dalam beberapa bulan terakhir antara kedua negara yang secara teknis masih berada dalam kondisi perang selama puluhan tahun.

Perkembangan terbaru tersebut menunjukkan bahwa meskipun istilah “gencatan senjata” masih dipertahankan secara diplomatik, realitas di lapangan menunjukkan konflik AS-Iran masih sangat rapuh dan dapat kembali meledak sewaktu-waktu.

Di tengah perang bayangan, serangan drone, blokade laut, dan diplomasi yang berjalan bersamaan, Selat Hormuz kini kembali menjadi titik paling sensitif dunia. Bukan sekadar jalur minyak, tetapi arena pertarungan geopolitik global yang dapat menentukan arah harga energi, stabilitas ekonomi, dan keamanan internasional dalam beberapa bulan ke depan.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024