Yield Treasury Tenor 2 Tahun Turun Setelah Rilis Data Ketenagakerjaan AS
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor pendek melemah setelah laporan ketenagakerjaan Juni menunjukkan perlambatan yang lebih tajam dari perkiraan. Data tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan menunda kenaikan suku bunga.
Baca Juga
Lowongan Kerja AS Turun Tajam, Hanya Bertambah 57.000 pada Juni
Yield Treasury AS tenor dua tahun, yang sangat sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter, turun lebih dari 2 basis poin menjadi 4,137%. Sebaliknya, yield Treasury tenor 10 tahun naik tipis sekitar 1 basis poin ke level 4,485%, mencerminkan perbedaan respons investor terhadap prospek ekonomi jangka pendek dan panjang.
Pergerakan pasar dipicu oleh laporan Bureau of Labor Statistics (BLS) yang menunjukkan jumlah nonfarm payrolls Amerika Serikat hanya bertambah 57.000 pekerjaan pada Juni setelah disesuaikan secara musiman.
Angka tersebut jauh di bawah tambahan 129.000 pekerjaan pada Mei serta meleset dari proyeksi ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 115.000. Perlambatan tersebut memperkuat indikasi bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum setelah sebelumnya menunjukkan ketahanan yang cukup kuat.
Kepala Strategi Suku Bunga AS di BMO Capital Markets, Ian Lyngen, mengatakan data terbaru membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan mendatang semakin kecil.
"Secara keseluruhan, data pagi ini membuat semakin sulit membayangkan adanya jalur menuju kenaikan suku bunga The Fed pada Juli, bahkan jika data inflasi berikutnya menunjukkan kenaikan. Perlambatan payroll memperkuat pandangan bahwa kenaikan suku bunga pada musim panas menjadi semakin tidak mungkin," beber Lyngen, seperti dikutip CNBC.
Laporan ketenagakerjaan dirilis sehari lebih awal karena libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli. Data tersebut menjadi salah satu indikator ekonomi terpenting pekan ini yang digunakan investor untuk menilai arah kebijakan moneter The Fed.
Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, saat menghadiri forum kebijakan tahunan European Central Bank (ECB) di Sintra, Portugal, kembali menegaskan bahwa inflasi masih berada di level yang terlalu tinggi.
Baca Juga
Sinyal The Fed Guncang Pasar, Ini 5 Pesan Penting dari Rapat Perdana Era Kevin Warsh
"Kita semua melihat bahwa harga-harga masih terlalu tinggi," kata Warsh dalam diskusi panel. Ia menegaskan bahwa bank sentral AS tidak akan mengubah target inflasi jangka panjangnya.
"Jika ada pelaku rumah tangga, dunia usaha, maupun pasar keuangan yang berpikir bank sentral akan merasa nyaman dengan target inflasi di atas 2%, mereka akan kecewa. Kami akan memastikan stabilitas harga di Amerika Serikat," ujarnya.
Pernyataan Warsh menunjukkan bahwa meskipun The Fed tetap fokus menekan inflasi hingga kembali ke target 2%, pelemahan pasar tenaga kerja memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tanpa harus segera melakukan pengetatan tambahan.
Bagi investor, kombinasi antara melambatnya pertumbuhan lapangan kerja dan komitmen The Fed menjaga stabilitas harga menjadi sinyal bahwa kebijakan moneter kemungkinan akan tetap berada pada posisi "higher for longer", tetapi tanpa kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Hal ini mendorong permintaan terhadap obligasi pemerintah AS, terutama tenor pendek, sehingga menekan imbal hasilnya.
