Bursa Asia Pasifik Dibuka Bervariasi, Kospi Korea Selatan Anjlok Lebih dari 2%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar keuangan global memasuki pekan terakhir Juni dengan sentimen yang beragam. Kontrak berjangka (futures) indeks saham Amerika Serikat bergerak menguat tipis pada Minggu (29/6) malam waktu setempat, sementara bursa saham Asia-Pasifik dibuka bervariasi pada Senin (29/6/2026) pagi setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat akibat aksi saling serang di kawasan Selat Hormuz.
Baca Juga
AS dan Iran Kembali Saling Serang, Kapal Tanker di Hormuz Jadi Sasaran
Pelaku pasar kini menghadapi dua faktor utama yang saling bertolak belakang, yaitu meningkatnya risiko geopolitik yang mendorong harga minyak lebih tinggi, serta rotasi investasi dari saham-saham teknologi menuju sektor yang lebih defensif.
Dikutip dari CNBC, kontrak Dow Jones Industrial Average naik sekitar 124 poin atau 0,2%. Sementara itu, S&P 500 Futures menguat 0,4% dan Nasdaq-100 Futures bertambah 0,5%.
Di kawasan Asia, pergerakan pasar tidak seragam. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,35%, sedangkan Topix justru menguat 0,43%. Di Korea Selatan, Kospi melemah tajam 2,29%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq naik 0,97%. Bursa Australia juga bergerak positif, dengan S&P/ASX 200 menguat 0,41%.
Sentimen pasar dipengaruhi oleh serangan militer terbaru Amerika Serikat terhadap sejumlah target militer Iran pada akhir pekan. Washington menyatakan serangan tersebut merupakan balasan atas aksi Iran yang kembali menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran. Melalui media sosial Truth Social, ia menyatakan bahwa militer AS telah menghancurkan lokasi penyimpanan rudal dan drone serta radar pantai milik Iran karena dinilai kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Di saat bersamaan, sumber Pakistan yang terlibat dalam mediasi perang mengatakan kepada MS NOW bahwa pembicaraan damai antara Washington dan Teheran untuk sementara ditangguhkan. Meski demikian, seluruh pihak masih mempertahankan delegasi mereka di Swiss sehingga negosiasi dapat kembali dilanjutkan apabila situasi memungkinkan.
Harga Minyak Naik
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah langsung tercermin pada pasar energi. Harga minyak mentah Brent naik sekitar 0,8% menjadi US$72,57 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,1% ke level US$70 per barel.
Baca Juga
Minyak WTI Jatuh di Bawah US$ 70 per Barel, Pasar Abaikan Serangan Kapal di Oman
Kenaikan tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak apabila konflik di sekitar Selat Hormuz kembali meluas. Jalur laut tersebut merupakan salah satu koridor paling penting bagi pengiriman minyak dunia.
Meski futures Wall Street bergerak positif, pasar saham Amerika sebenarnya baru saja melewati pekan yang cukup berat, terutama bagi sektor teknologi.
Selama pekan lalu, indeks S&P 500 turun hampir 2%, sedangkan Nasdaq Composite merosot sekitar 4,6%.
Saham-saham teknologi raksasa memimpin pelemahan. Nvidia dan Alphabet masing-masing kehilangan lebih dari 8% nilainya. Meta Platforms, Apple, dan Amazon juga turun lebih dari 4%, sementara saham SpaceX anjlok sekitar 17%.
Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average, yang memiliki bobot saham teknologi lebih kecil, justru naik sekitar 0,6%. Penguatan dipimpin saham sektor kesehatan, terutama Merck yang melonjak sekitar 13% dan Johnson & Johnson yang naik sekitar 11,5%.
Fenomena "AI Fatigue"
Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menilai investor mulai mengalami fenomena yang disebut "AI Fatigue" atau kejenuhan terhadap euforia kecerdasan buatan.
Menurutnya, pasar mulai mempertanyakan apakah investasi ratusan miliar dolar yang dilakukan perusahaan-perusahaan teknologi besar untuk membangun infrastruktur AI benar-benar akan menghasilkan keuntungan yang sepadan.
Investor juga mengkhawatirkan munculnya teknologi baru yang dapat dengan cepat menggantikan sistem yang ada saat ini melalui proses yang dikenal sebagai creative destruction.
Pekan ini juga menjadi penutupan perdagangan bulan Juni. Hingga penutupan Jumat lalu, S&P 500 masih terkoreksi sekitar 3% sepanjang bulan, sedangkan Nasdaq telah melemah lebih dari 6%.
Sebaliknya, Dow Jones masih mencatat kenaikan lebih dari 1%, mencerminkan pergeseran dana investor menuju sektor-sektor yang dinilai lebih tahan menghadapi gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi.
Baca Juga
Saham Chip-AI di Wall Street Rontok Lagi, Indeks Nasdaq Catat Penurunan 5 Hari Beruntun
Dengan konflik AS-Iran yang kembali memanas, pasar diperkirakan akan tetap bergerak volatil pada awal pekan. Investor akan terus memantau perkembangan diplomasi kedua negara, stabilitas pasokan energi global, serta arah kebijakan bank sentral menjelang dimulainya paruh kedua tahun 2026.
