Iran-AS Saling Serang, Perundingan Damai Ditangguhkan Sementara
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id – Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui hambatan setelah gelombang serangan baru mewarnai kawasan Timur Tengah. Perundingan damai yang berlangsung di Swiss dilaporkan untuk sementara ditangguhkan menyusul aksi saling serang antara kedua negara di sekitar Selat Hormuz.
Baca Juga
AS dan Iran Kembali Saling Serang, Kapal Tanker di Hormuz Jadi Sasaran
Seorang sumber Pakistan yang terlibat dalam proses mediasi mengatakan kepada MS NOW bahwa pembicaraan memang dihentikan sementara. Namun, seluruh pihak masih mempertahankan tim perunding di Swiss agar negosiasi dapat segera dilanjutkan ketika situasi keamanan memungkinkan.
Sumber tersebut tidak menjelaskan pihak mana yang terlebih dahulu memutuskan menghentikan pembicaraan.
Di sisi lain, seorang pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump membantah bahwa proses diplomasi telah gagal.
"Tidak ada yang dibatalkan. Pembicaraan teknis mengenai implementasi nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) tetap berjalan sesuai rencana dalam beberapa hari ke depan," kata pejabat tersebut kepada MS NOW, dikutip dari CNBC, Senin (29/6/2026).
Laporan Axios juga menyebut Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan sementara aksi saling serang dan menjadwalkan pertemuan lanjutan pada pekan ini. Namun, laporan tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen.
Trump Kembali Ancam Iran
Ketegangan meningkat setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
Melalui akun Truth Social, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pesawat tempur AS telah menghancurkan lokasi penyimpanan rudal dan drone, fasilitas radar pantai, serta sejumlah infrastruktur militer Iran karena dianggap kembali melanggar perjanjian gencatan senjata.
Trump juga mengeluarkan ancaman keras kepada Teheran.
"Akan tiba saatnya ketika kami tidak lagi dapat bersikap masuk akal dan akan dipaksa menyelesaikan tugas ini secara militer. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi," tulis Trump.
Pernyataan tersebut melanjutkan serangkaian ancaman Trump dalam beberapa bulan terakhir, termasuk peringatan bahwa Iran dapat "kembali ke zaman batu" apabila terus menyerang kepentingan Amerika Serikat.
Serangan Berbalas di Selat Hormuz
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan jet tempur AS menyerang sedikitnya 10 target militer Iran di sekitar Selat Hormuz, termasuk fasilitas pengawasan militer, sistem komunikasi, pertahanan udara, gudang drone, dan kemampuan penebar ranjau laut.
Operasi tersebut dilakukan setelah kapal tanker berbendera Panama, M/T Kiku, yang mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah, dilaporkan diserang drone saat melintasi Selat Hormuz.
Sebelumnya, CentCom juga menyebut kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, terkena serangan proyektil Iran di perairan dekat Oman. Meski mengalami insiden, kapal tersebut dilaporkan tetap melanjutkan pelayarannya.
Sebagai balasan atas serangan Amerika, Iran mengklaim telah meluncurkan rudal balistik dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.
Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menghadapi serangan rudal dan drone tersebut.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Bahrain mengecam keras serangan Iran dan menyebut aksi tersebut sebagai bentuk agresi yang disengaja dan berulang terhadap kedaulatan negaranya.
Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi juga mengutuk serangan Iran terhadap Bahrain dan Kuwait serta menyatakan bahwa tindakan tersebut melanggar hukum internasional dan mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Jalur Minyak Tetap Beroperasi
Meski ketegangan meningkat, CENTCOM memastikan kapal-kapal komersial masih dapat melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Pasar energi justru merespons relatif tenang. Harga minyak melanjutkan pelemahan pada akhir pekan karena semakin banyak kapal tanker berhasil keluar dari Selat Hormuz, sehingga kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mulai mereda.
Baca Juga
Minyak WTI Jatuh di Bawah US$ 70 per Barel, Pasar Abaikan Serangan Kapal di Oman
Dikutip dari CNBC, minyak Brent untuk pengiriman Agustus ditutup turun 4,34% ke level US$71,99 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melemah 3,74% menjadi US$69,23 per barel, pertama kalinya kembali berada di bawah US$70 sejak akhir Februari, sehari sebelum perang Iran dimulai.
Serangan terbaru terjadi hanya lebih dari sepekan setelah Presiden Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman yang menjadi dasar penyusunan perjanjian damai permanen.
Kesepakatan tersebut juga mencakup gencatan senjata selama 60 hari. Namun, Washington dan Teheran saling menuduh telah melanggar komitmen masing-masing melalui serangan terhadap target militer maupun kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Meski situasi kembali memanas, sinyal diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Keberadaan delegasi kedua negara di Swiss menunjukkan jalur negosiasi masih dipertahankan, sementara komunitas internasional terus berharap eskalasi konflik tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas dan mengganggu stabilitas ekonomi global.
