Trump Ancam Serang Iran Lagi di Tengah Perundingan Damai di Swiss
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran menghadapi ujian serius. Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan militer baru terhadap Teheran, bahkan ketika Wakil Presiden JD Vance memimpin putaran pertama perundingan damai di Swiss.
Negosiasi yang berlangsung di resor pegunungan Bürgenstock, Swiss, menjadi pertemuan pertama sejak kedua negara menyepakati nota kesepahaman pekan lalu untuk mengakhiri konflik dan memperpanjang gencatan senjata yang rapuh selama sedikitnya 60 hari.
Baca Juga
Iran Klaim Tutup Selat Hormuz Lagi, Tuding AS Langgar Kesepakatan
Namun, suasana diplomatik tersebut langsung dibayangi keputusan Iran yang kembali menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.
Kesepakatan sementara yang dicapai sebelumnya mengharuskan pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian seluruh aksi permusuhan di kawasan, termasuk di Lebanon. Akan tetapi, Iran menuding Washington gagal memenuhi komitmennya untuk menghentikan serangan Israel di Lebanon.
Akibatnya, Teheran menyatakan pembicaraan di Swiss hanya akan membahas implementasi nota kesepahaman yang sudah disepakati, bukan isu substantif seperti program nuklir Iran.
Trump Perkeras Ancaman
Ketegangan meningkat setelah Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Iran melalui platform Truth Social.“Iran harus segera menghentikan proksi-proksi mereka yang dibayar mahal di Lebanon untuk membuat kekacauan. Jika tidak, kami akan menghantam Iran lagi dengan sangat keras, bahkan lebih keras daripada pekan lalu,” tulis Trump, dikutip dari CNBC, Senin (22/6/2026).
Pernyataan tersebut merujuk pada kelompok Hizbullah di Lebanon yang selama ini menjadi sekutu utama Teheran.
Menurut laporan Fox News, Trump bahkan menyampaikan ancaman yang lebih jauh dalam sebuah wawancara. Ia mengaku telah memperingatkan pejabat Iran bahwa jika Teheran menutup Selat Hormuz, “mereka tidak akan lagi memiliki negara”, serta mengisyaratkan kemungkinan mengambil alih jalur pelayaran strategis tersebut.
Pernyataan Trump menunjukkan kontras tajam dengan pesan yang dibawa JD Vance dalam perundingan. Di hadapan wartawan, Vance mengatakan Presiden Trump menginginkan hubungan baru dengan rakyat Iran. “Presiden meminta kami membuka lembaran baru untuk mentransformasi hubungan dengan rakyat Iran,” ujarnya.
Vance juga berusaha meredam kekhawatiran mengenai konflik di Lebanon dengan mengatakan bahwa kemajuan menuju penghentian permusuhan telah tercapai. “Situasi seperti ini memang selalu sedikit rumit,” kata Vance.
Hormuz Jadi Titik Panas
Penutupan kembali Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar global.
Iran menyatakan langkah tersebut diambil karena Washington dianggap gagal menjamin gencatan senjata di Lebanon. Padahal, penutupan Hormuz selama hampir empat bulan sebelumnya telah menyebabkan gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.
Baca Juga
Trump Ancam Tarif Kapal di Hormuz Jika Kesepakatan Final Gagal Tercapai
Meski pejabat AS membantah bahwa Selat Hormuz benar-benar ditutup, data pelayaran komersial menunjukkan dampak langsung terhadap aktivitas kapal.
Setelah pengumuman Iran, hanya satu kapal tanker kecil yang terdeteksi melintasi jalur tersebut dengan sistem pelacak aktif, jauh di bawah jumlah kapal yang biasanya mencapai puluhan unit setiap hari.
Kantor berita Fars yang dekat dengan pemerintah Iran mengutip sumber militer yang menyebutkan bahwa tidak ada izin pelayaran baru yang dikeluarkan hingga waktu yang belum ditentukan.
Penutupan kembali Hormuz berpotensi memicu gejolak baru di pasar energi. Sebelumnya, harga minyak dunia sempat jatuh tajam setelah tercapainya kesepakatan awal AS-Iran yang membuka kembali jalur tersebut dan meredakan kekhawatiran pasokan global.
Trump sendiri mengakui bahwa ia menyetujui nota kesepahaman pekan lalu untuk mencegah terjadinya depresi ekonomi global akibat lonjakan harga minyak yang dipicu penutupan Selat Hormuz.
Harapan Negosiasi
Meski ketegangan meningkat, kedua pihak masih menunjukkan sinyal bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Menurut laporan Axios yang mengutip seorang diplomat AS, perundingan di Swiss menghasilkan kemajuan dalam upaya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Pembahasan juga mencakup implementasi gencatan senjata di Lebanon serta kerangka kesepakatan nuklir.
Nota kesepahaman yang ditandatangani pekan lalu membuka ruang perundingan selama 60 hari mengenai pembatasan program nuklir Iran sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi internasional.
Sebelum isu-isu tersebut diselesaikan, Iran berharap memperoleh manfaat ekonomi awal berupa pencairan sebagian aset yang dibekukan serta pengecualian terhadap beberapa sanksi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan optimistis bahwa dialog dengan AS dapat menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi negaranya.
Menurutnya, tujuan pertama perundingan adalah memulihkan akses Iran terhadap aset-aset yang selama ini diblokir.
Di tengah ketegangan diplomatik, situasi di Lebanon menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Minggu menjadi hari paling tenang dalam beberapa pekan terakhir setelah dua hari sebelumnya diwarnai serangan udara Israel dan tembakan roket Hizbullah.
Lebih dari satu juta warga Lebanon telah mengungsi sejak invasi Israel pada Maret lalu. Namun, jurnalis Reuters di Lebanon selatan melaporkan lalu lintas kendaraan mulai meningkat ketika warga kembali ke rumah mereka.
Sejumlah penduduk terlihat mengibarkan bendera Hizbullah di sepanjang jalan raya saat kembali ke wilayah yang sebelumnya menjadi zona konflik.
Meski demikian, masa depan kesepakatan AS-Iran masih jauh dari pasti. Ancaman militer dari Trump, sengketa mengenai Lebanon, dan ketidakjelasan status Selat Hormuz menunjukkan bahwa perdamaian yang baru lahir tersebut masih sangat rapuh dan dapat berubah menjadi krisis baru kapan saja.
