AS Sebut Iran Tak Lagi Mampu Menutup Selat Hormuz
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pemerintah Amerika Serikat mengeklaim Iran telah kehilangan kemampuan strategisnya untuk kembali menutup Selat Hormuz, setelah Washington mengerahkan pengawalan militer bagi kapal-kapal komersial yang melintas di kawasan tersebut.
Menurut Menteri Energi AS Chris Wright, langkah tersebut secara efektif menghilangkan daya tekan utama Teheran terhadap pasar energi global.
“Iran tidak akan memiliki kemampuan untuk menutup Selat Hormuz ke depan. Itulah leverage utama mereka dan kami sedang menghilangkan leverage tersebut,” ujar Wright dalam sebuah konferensi di New York, Rabu (24/6/2026) waktu setempat, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
AS-Iran Sepakati Peta Jalan Damai 60 Hari, Hormuz Dibuka, Konflik Israel–Hizbullah Dibahas
Menurut Wright, ketika Iran kembali menyatakan penutupan Selat Hormuz pada akhir pekan lalu, sekitar 17 juta barel minyak tetap berhasil melintasi salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia itu. Hal itu dimungkinkan berkat pengawalan Angkatan Laut AS melalui perairan Oman di bagian selatan selat, yang menurutnya mencegah Iran mengganggu kapal-kapal komersial.
Dalam 24 jam terakhir saja, sebanyak 72 kapal tanker yang mengangkut sekitar 19 juta barel minyak telah melintas melalui Hormuz. Data perusahaan intelijen perdagangan energi Kpler menunjukkan sekitar 4,8 juta barel minyak per hari telah keluar melalui selat tersebut sejak AS dan Iran menyepakati pembukaan kembali jalur pelayaran pekan lalu.
Wright menegaskan pemerintahan Presiden Donald Trump tetap memiliki opsi untuk kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran apabila Teheran gagal memenuhi komitmennya.
“Jika kami tidak mendapatkan kesepakatan dengan Iran, kami akan memastikan aliran energi tetap berjalan, dunia tetap memiliki pasokan yang cukup, dan pemerintahan Iran akan menghadapi tekanan besar,” katanya.
Baca Juga
Trump Ancam Tarif Kapal di Hormuz Jika Kesepakatan Final Gagal Tercapai
Meski Washington memberikan keringanan sanksi terhadap penjualan minyak Iran selama 60 hari, Wright menilai langkah itu belum memberikan keuntungan berarti bagi Republik Islam tersebut.
“Kami belum mencairkan dana apa pun. Mereka belum memperoleh sesuatu yang benar-benar signifikan,” ujarnya.
Menurut Wright, Iran hanya dapat memperoleh konsesi yang lebih besar dari AS jika mampu memberikan hasil yang dianggap menguntungkan Washington sekaligus menjamin keamanan global.
Krisis di Selat Hormuz bermula setelah Iran menyerang kapal-kapal komersial menyusul gelombang serangan udara besar-besaran yang dilakukan AS dan Israel terhadap wilayah Iran pada 28 Februari. Gangguan tersebut menyebabkan lalu lintas kapal di kawasan itu anjlok dan memicu salah satu disrupsi pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern.
Sebelum konflik pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani pekan lalu, Iran setuju mengizinkan kapal-kapal melintas tanpa membayar biaya transit selama 60 hari, sementara AS menghentikan blokade laut terhadap Iran.
Meski demikian, masa depan tata kelola Selat Hormuz setelah periode 60 hari berakhir masih menjadi tanda tanya. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Iran akan membahas mekanisme pengelolaan selat bersama Oman dan negara-negara Teluk lainnya.
