Uni Eropa Siapkan Tarif Baru untuk Tangkal Mobil Hybrid 'Murah' dari China
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Uni Eropa (UE) berencana mengenakan tarif tambahan terhadap mobil hybrid plug-in (PHEV) asal China setelah produsen otomotif Negeri Tirai Bambu memanfaatkan celah regulasi untuk meningkatkan penjualan di pasar Eropa.
Dikutip dari laporan Handelsblatt, Senin (22/6/2026), Komisi Eropa saat ini tengah menjalankan investigasi anti-subsidi terhadap kendaraan hybrid China dan berencana mengumumkan tarif baru dalam beberapa pekan mendatang.
Selama ini, tarif tambahan UE hanya berlaku untuk mobil listrik berbasis baterai (BEV). Sementara kendaraan hybrid plug-in masih dikenakan bea masuk standar 10%, sehingga menjadi alternatif bagi produsen China untuk memperluas pangsa pasar.
Namun demikian, Komisi Eropa menilai sejumlah produsen otomotif China menerima subsidi yang berpotensi mendistorsi persaingan. Karena itu, mereka kini mempertimbangkan penerapan tarif penyeimbang terhadap kendaraan hybrid impor dari China.
Baca Juga
Sejak Oktober 2024, UE telah memberlakukan tarif tambahan pada mobil listrik China. BYD dikenakan tarif tambahan 17%, Geely 18,8%, dan SAIC hingga 35,3%, di luar tarif impor standar.
Namun, kebijakan tersebut tidak mencakup mobil hybrid. Celah ini dimanfaatkan sejumlah merek China, termasuk BYD dan MG, untuk mendorong penjualan di Eropa.
BYD misalnya, pada Mei 2026, perusahaan itu tercatat sebagai merek PHEV terlaris di Jerman dengan penjualan 4.290 unit. Sekitar 70% penjualan BYD di negara tersebut berasal dari kendaraan hybrid plug-in.
Tarif untuk mobil hybrid diperkirakan lebih rendah dibandingkan mobil listrik murni karena porsi komponen baterainya lebih kecil. Meski demikian, kebijakan ini berpotensi menjadi hambatan baru bagi ekspansi BYD, MG, dan produsen otomotif China lainnya di Benua Biru.
