Harga Minyak Melonjak Usai Trump Ancam Serangan Baru ke Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak dunia kembali bergolak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan militer baru terhadap Iran. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran bahwa kesepakatan damai sementara yang dicapai kedua negara pekan lalu mulai kehilangan pijakan, sehingga meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.
Baca Juga
Iran Klaim Tutup Selat Hormuz Lagi, Tuding AS Langgar Kesepakatan
Kenaikan harga terjadi meskipun pejabat tinggi AS dan Iran tengah menjalani putaran pertama perundingan pascakesepakatan di Swiss. Pasar menilai ancaman terbaru dari Trump dan keputusan Iran menutup kembali Selat Hormuz menjadi sinyal bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah masih jauh dari kata aman.
Dikutip dari CNBC, Senin (22/6/2026), kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus melonjak 1,23% menjadi US$81,56 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli melesat 3,04% menjadi US$78,93 per barel.
Kenaikan tersebut membalikkan optimisme pasar yang sempat muncul setelah Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman pekan lalu untuk mengakhiri konflik dan memperpanjang gencatan senjata selama sedikitnya 60 hari.
Perdamaian Rapuh
Pertemuan yang berlangsung di kawasan wisata Bürgenstock, Swiss, menjadi negosiasi pertama sejak kesepakatan sementara tersebut ditandatangani.
Kesepakatan itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, serta penghentian aksi militer di berbagai titik konflik kawasan, termasuk Lebanon.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan implementasi kesepakatan berjalan tidak mulus.
Teheran menuduh Washington gagal memastikan penghentian konflik di Lebanon sebagaimana yang dijanjikan dalam nota kesepahaman. Karena itu, Iran menyatakan pembahasan saat ini hanya akan berfokus pada pelaksanaan kesepakatan yang sudah ada, bukan isu yang lebih luas seperti program nuklirnya.
Situasi semakin rumit setelah Iran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Langkah tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar energi karena jalur itu merupakan salah satu arteri utama distribusi minyak dunia.
Baca Juga
Trump Ancam Serang Iran Lagi di Tengah Perundingan Damai di Swiss
Pasokan Masih Aman, tapi Risiko Meningkat
Analis Quantum Strategy, David Roche, menilai pasokan minyak Timur Tengah saat ini masih mendekati tingkat sebelum perang jika memperhitungkan minyak yang tersimpan di fasilitas penyimpanan dan kapal tanker.
Namun, menurut Roche, kondisi tersebut bisa menyesatkan.
“Kelimpahan pasokan saat ini lebih banyak berasal dari pelepasan persediaan yang telah disimpan sebelumnya, bukan karena pemulihan produksi yang sesungguhnya,” tulis Roche dalam laporannya, dikutip CNBC.
Ia memperingatkan bahwa pasar dapat kembali menghadapi tekanan apabila stok cadangan tersebut mulai menipis sementara produksi belum pulih sepenuhnya.
Pandangan ini memperkuat kekhawatiran investor bahwa gangguan geopolitik yang berkepanjangan dapat kembali mendorong lonjakan harga minyak, terutama jika lalu lintas kapal di Hormuz terganggu dalam waktu lama.
Meski ketegangan terbaru mendukung kenaikan harga minyak dalam jangka pendek, analis Goldman Sachs melihat adanya risiko yang berbeda dalam jangka panjang.
Bank investasi tersebut menilai gangguan pasokan yang berkepanjangan justru dapat mempercepat transisi global menuju kendaraan listrik dan energi alternatif. Jika hal itu terjadi, permintaan minyak mentah dunia berpotensi melemah lebih cepat dari perkiraan.
Lonjakan harga akibat konflik geopolitik dapat menjadi pedang bermata dua bagi industri minyak. Harga memang terdorong naik dalam jangka pendek, tetapi konsumsi minyak global berisiko tergerus dalam jangka panjang akibat percepatan transformasi energi.
Pasar Menunggu
Pelaku pasar kini memantau dengan cermat hasil perundingan AS-Iran di Swiss. Keberhasilan implementasi kesepakatan sementara akan menjadi faktor penentu bagi stabilitas harga energi global dalam beberapa pekan ke depan.
Namun, ancaman Trump untuk kembali menyerang Iran menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian permanen masih penuh tantangan. Selama ketidakpastian mengenai Selat Hormuz dan keamanan kawasan Timur Tengah belum terselesaikan, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi.
