Trump Geram dan Ancam Iran Atas Tewasnya 3 Tentara AS, Harga Minyak Kembali Melonjak
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia kembali naik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Iran akan "membayar berkali-kali lipat" atas tewasnya tiga personel militer AS. Sentimen pasar juga dipengaruhi deklarasi embargo maritim terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi di Yaman yang berpotensi memperburuk gangguan pasokan energi global.
Baca Juga
Konflik AS-Iran Meluas, Minyak Brent Tembus US$ 88 per Barel
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent sebagai acuan internasional melonjak sekitar 1,3% dan ditutup di level US$89,22 per barel pada perdagangan Senin (20/7/2026. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 0,9% ke US$83,23 per barel. Sepanjang bulan ini, harga minyak telah melonjak sekitar 20% seiring eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan setiap serangan yang menewaskan prajurit Amerika akan dibalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Ia menyatakan instruksi tersebut telah disampaikan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Daniel Caine, serta seluruh jajaran militer AS.
Baca Juga
Sebelumnya, harga Brent sempat melonjak hampir 4% hingga menembus US$90 per barel setelah Washington mengonfirmasi sedikitnya tiga personel militernya tewas dalam pertempuran terbaru dengan Iran. Namun kenaikan tersebut sempat mereda setelah Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyatakan Teheran masih membuka peluang negosiasi dengan AS apabila sesuai dengan kepentingan nasional Iran.
Di sisi lain, kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut dinilai dapat memperburuk gangguan pasokan minyak yang sebelumnya dipicu serangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz. Houthi juga kembali mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan pasar global.
Selama ini Arab Saudi mengalihkan jutaan barel minyak per hari melalui jaringan pipa menuju terminal ekspor di Laut Merah untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Jalur alternatif tersebut menjadi penyangga penting pasokan minyak dunia selama konflik AS-Iran berlangsung.
Militer AS kini telah melancarkan serangan udara terhadap Iran selama sembilan malam berturut-turut sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Washington menuduh Teheran berupaya memaksa kapal-kapal asing melintas melalui perairan teritorial Iran. Serangkaian serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya dua pelaut dan melukai lebih dari selusin lainnya sepanjang bulan ini.
Ancaman terhadap pelayaran juga terus meningkat. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker pengangkut produk minyak diserang proyektil di lepas pantai Oman pada akhir pekan hingga memicu kebakaran. Seluruh awak berhasil dievakuasi dengan selamat menggunakan kapal tunda.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengidentifikasi kapal tersebut sebagai Kavomaleas yang berbendera Malta.
Sebagai balasan atas serangan AS, Iran juga terus meluncurkan rudal ke sejumlah sekutu Washington di Timur Tengah. Media Kuwait Times melaporkan Iran kembali menyerang fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi air di Kuwait untuk kedua kalinya dalam dua hari. Fasilitas tersebut sangat vital karena menjadi sumber utama air bersih negara tersebut.
Kenaikan harga minyak mulai dirasakan konsumen Amerika. Data AAA menunjukkan harga bensin kembali menyentuh US$4 per galon pada Senin setelah harga minyak mentah AS melonjak sekitar 18% sepanjang bulan ini.
Pendiri sekaligus Direktur Riset Energy Aspects, Amrita Sen, dalam acara di CNBC, memperingatkan bahwa perlambatan signifikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz ditambah menipisnya persediaan minyak global dapat mendorong harga minyak melampaui US$100 per barel. “Tapi, pelaku pasar masih terlalu tenang, meski risiko terhadap pasokan energi global terus meningkat,” ujarnya.
