Trump Umumkan ‘Deal’ AS-Iran, Harga Minyak ‘Drop’ Hampir 5%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia anjlok hampir 5% pada perdagangan Senin (15/6/2026) setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menyelesaikan kesepakatan yang memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Baca Juga
Trump Klaim Kesepakatan AS-Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak Merosot Tajam
Dikutip dari CNBC, minyak mentah AS (WTI) turun sekitar 4,9% menjadi US$80,75 per barel. Minyak Brent sebagai acuan internasional merosot 4,8% ke level US$83,17 per barel.
Dalam unggahan di platform Truth Sosial, Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah rampung. Menurutnya, Selat Hormuz akan dibuka kembali tanpa sistem pungutan bagi kapal yang melintas dan Amerika Serikat akan mengakhiri blokade angkatan laut terhadap Iran.
“Mesin kapal-kapal dunia bisa kembali dinyalakan. Biarkan minyak mengalir,” tulis Trump.
Trump kemudian menambahkan bahwa jalur pelayaran tersebut akan resmi dibuka pada Jumat mendatang, bersamaan dengan penandatanganan perjanjian damai yang dijadwalkan berlangsung di Geneva, Swiss.
Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi kabar penting bagi pasar energi global. Sebelum gangguan yang terjadi pada awal Maret akibat serangan Iran terhadap kapal tanker, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut setiap harinya.
Gangguan lalu lintas tanker selama beberapa bulan terakhir telah memicu salah satu guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern dan mendorong harga energi melonjak tajam di berbagai kawasan.
Namun demikian, sejumlah perbedaan pandangan mulai muncul antara Washington dan Teheran terkait implementasi kesepakatan tersebut. Media pemerintah Iran menyebut Selat Hormuz akan bebas pungutan hanya selama 60 hari. Setelah periode itu berakhir, Iran dan Oman disebut akan mengelola jalur tersebut secara bersama.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa Washington berharap Selat Hormuz dapat tetap bebas biaya dalam jangka panjang.
Meski pasar merespons positif, kalangan industri pelayaran masih bersikap hati-hati. Kelompok perdagangan pelayaran global Bimco menilai pernyataan kedua negara masih belum memberikan kejelasan yang cukup mengenai jadwal operasional maupun rute aman bagi kapal-kapal komersial.
Kepala Keselamatan dan Keamanan Bimco, Jakob Larsen, mengatakan situasi keamanan masih sangat fluktuatif dan berisiko tinggi bagi kapal yang ingin kembali melintasi kawasan tersebut.
Menurut Larsen, ancaman terbesar saat ini adalah keberadaan ranjau laut yang diduga masih tersebar di sejumlah bagian Selat Hormuz. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada Kongres bahwa Iran telah menanam ranjau di sejumlah area penting di jalur pelayaran tersebut.
“Karena kurangnya detail dan riwayat jaminan yang terlalu optimis, kami percaya situasi keamanan untuk industri pelayaran tetap tidak stabil, dan kami masih menganggap sangat berisiko bagi kapal untuk memulai transit saat ini,” kata Jakob Larsen, seperti dikutip CNBC.
Para analis menilai pasar kini akan mencermati implementasi kesepakatan damai dan proses pembersihan ranjau dalam beberapa pekan ke depan. Jika pembukaan Selat Hormuz berjalan lancar, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berlanjut karena pasokan global kembali mengalir normal.
