Serangan AS-Israel ke Iran Guncang Pasar, Dow Futures Drop Hampir 600 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Kontrak berjangka saham AS anjlok dalam perdagangan Minggu malam (1/3/2026) setelah AS dan Israel menyerang Iran pada akhir pekan. Serangan itu memicu lonjakan harga minyak dan menambah ketidakstabilan di Timur Tengah. Kekhawatiran investor ekuitas pun terus bertambah.
Baca Juga
Gangguan Pasokan Akibat Eskalasi Perang Iran Bisa Kerek Minyak Brent Tembus US$ 100
Kontrak berjangka pada Dow Jones Industrial Average anjlok 571 poin, atau 1,2%. Kontrak berjangka S&P 500 melemah 1% dan kontrak berjangka Nasdaq-100 turun sedikit lebih dari 1%. Kontrak berjangka emas melonjak 2% karena investor berbondong-bondong ke aset safe haven global.
Serangan gabungan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, menandai momen penting bagi Republik Islam tersebut dan salah satu episode paling konsekuensial sejak 1979. Presiden Donald Trump mengatakan bahwa operasi militer AS di Iran berjalan “lebih cepat dari jadwal,” namun investor khawatir konflik akan berlangsung lama terlepas dari pernyataan tersebut.
Serangan skala besar itu diluncurkan pada Sabtu malam setelah Iran menolak tuntutan Amerika untuk membatasi program nuklirnya. Pejabat Iran bersumpah akan melakukan pembalasan keras, memicu kekhawatiran konflik dapat meluas ke seluruh kawasan.
“Risiko lanjutan dari konflik berkepanjangan lebih tinggi dibandingkan 2024 atau 2025, meskipun kami tidak melihat perang ini meningkat hingga secara drastis mengubah prospek AS,” beber Ajay Rajadhyaksha dari Barclays dalam sebuah catatan, seperti dikutip CNBC. Namun, pada awal pekan ini, menurut dia, terlalu dini untuk membeli saat harga jatuh, terutama dengan investor yang terbiasa pada pola de-eskalasi cepat.
Harga minyak mentah AS melonjak 8% pada awal perdagangan, karena investor khawatir konfrontasi dapat berkembang menjadi perang yang lebih luas yang mengganggu pasokan. Iran adalah produsen minyak terbesar keempat di OPEC, dan ketidakpastian masih menyelimuti siapa yang pada akhirnya akan memerintah negara tersebut di tengah kekosongan kepemimpinan.
Arah pasar minyak kemungkinan akan bergantung pada apakah pertempuran mengganggu lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur sempit terpenting di dunia untuk aliran minyak mentah. Gangguan berkepanjangan di sana dapat berdampak besar pada pasar energi global dan kembali memicu tekanan inflasi.
“Ketidakpastian yang lebih luas menekan sentimen investor, yang secara umum dapat membebani aset berisiko secara global,” kata Adam Hetts, kepala multi-aset global di Janus Henderson. “Dalam periode ketidakpastian berkepanjangan, kenaikan harga minyak dapat memicu kekhawatiran inflasi global.”
Eskalasi geopolitik ini memperparah latar belakang saham yang sudah rapuh. S&P 500 terkoreksi pada Jumat dan berakhir di zona merah untuk Februari di tengah gejolak baru pada saham kecerdasan buatan dan perangkat lunak, karena investor mempertanyakan apakah adopsi AI yang cepat dapat menggantikan penyedia perangkat lunak tradisional.
Baca Juga
Wall Street Anjlok Gegara Inflasi AS Memanas, Dow Ambles Lebih 500 Poin
Kekhawatiran bahwa otomatisasi dapat menggerus model bisnis dan memicu gelombang PHK telah membebani sentimen, meningkatkan kecemasan tentang dampaknya terhadap ekonomi yang lebih luas.
“Secara keseluruhan, kami memperkirakan dampak jangka pendek, tetapi tidak dapat mengesampingkan gesekan yang lebih berkepanjangan terhadap ekuitas,” tulis ahli strategi saham Citi dalam catatan kepada klien. “Kami juga perlu menempatkan peristiwa volatilitas baru ini bersama daftar kekhawatiran yang terus bertambah. Yakni, ledakan belanja AI tampaknya akan berlanjut, tetapi janji produktivitasnya kini berhadapan langsung dengan disrupsi model bisnis akibat AI,” tambahnya.

